UnPackaging: Shampoo and Soap Bar

Hidup di Kanada membuat saya empet sama yang namanya sampah. 
Lho, bukannya Kanada itu negara yang bersih ya?
Iya. Iya. Tapi percayalah, negara maju macam Kanada ini justru menyumbang sampah yang gedeeee banget buat bumi. Saya tidak punya angka pastinya. Saya cuma merasakan dalam keseharian beraktifitas, khususnya berkaitan dengan belanja rumah tangga.
Mereka sangat suka dengan kemasan sekali pakai. Seperti kalau lagi acara kumpul-kumpul, pasti akan lebih memilih alat makan plastik dan sterefoam. Packaging bahan groceries seperti buah dan sayur pre-cut dan pre-washed juga bikin banyak sampah. 
Masih mending orang Indonesia yang punya pilihan packaging makanan daun pisang atau kertas daur ulang yang tidak menghabiskan ruang tempat sampah.
Karena itu saya jadi mulai memikirkan pola berbelanja yang less garbage: tidak banyak menghasilkan sampah. Jujur saja, saya masih ketergantungan dengan produk groceries pre-cut dan pre-washed yang menyumbang sampah packaging, jadi saya coba mulai dengan produk perawatan wajah dan tubuh.
Sejak 2 tahun terakhir, saya menggunakan sabun mandi batangan. Selain harganya yang super murah, saya tidak dibebani dengan sampah botol. Saya ingat, untuk kebutuhan sekeluarga, saya bisa beli sabun cair 1 botol dalam sebulan (sekitar 200 ml). Saya coba leboh hemat dengan beli ukuran 400 ml untuk 2 bulan. Dari sisi harga lebih murah, namun saya menyumbang sampah 1 botol besar tiap 2 bulan sekali.
Semenjak saya ganti sabun batangan, selain harganya jauh lebih murah ($7 untuk 8 batang), saya hanya membuang 1 lembar kertas setiap bulannya. Setidaknya itu membuat saya tidak terlalu merasa bersalah karena ukuran sampah (dan materialnya) tidak seberat botol sabun cair.
Atas dasar itulah saya mencoba produk shampoo batangan. Sayang, produk ini belum banyak pemain pasarnya, sehingga harga di pasaran mahal (saya pakai Lush, $13 per batang, untuk 2 bulan). Walaupun demikian, saya senang tidak lagi menyumbang sampah botol shampoo (dan conditioner) setiap 2 bulan sekali. Bahkan karena Lush menjual tanpa packaging, saya tidak membuang sampah sama sekali (kecuali struk belanjanya mungkin lol).
Saya berharap akan lebih banyak pemain pasar untuk produk shampoo batangan supaya harganya bisa lebih bersaing. Kenapa produk ramah lingkungan justru lebih banyak merogoh isi kocek?
Di satu satu sisi, packaging membantu dalam mengorganisir barang dan belanjaan. Di sisi lain, packaging ini seringkali berakhir ke tempat sampah, jadi sampah, dan bikin empet.

Menghitung Biaya Kepemilikan Gadget

Minggu lalu ketika lagi jalan-jalan di mall, saya melewati gerai Apple (siapa sih yang gak tau Apple). Saya pun berhenti sejenak untuk melihat poster yang terpasang di depan pintu masuk. Poster tersebut memuat promosi Apple tentang “trade-ins”: tukar tambah produk Apple. Yang lebih menarik lagi, trade-ins tersebut tidak berlaku hanya untuk tukar tambah produk, tapi juga gift card bahkan uang tunai!

Gadget yang saya miliki semuanya memang merek Apple, bahkan smartphone yang saya pegang saat ini merupakan smartphone Apple kedua saya (yang pertama adalah iPhone 4S yang sudah tidak layak pakai tapi masih berfungsi jadi mainan anak saya). Beberapa gadget Apple saya sudah outdated alias jadul banget, jadi saya pikir boleh juga trade-ins dengan seri terbaru, atau paling tidak saya numpang “membuang” gadget Apple yang lama sambil ngarep dapat sedikit uang untuk modal beli baru.

Saya langsung semangat untuk mempelajari promo tersebut. Karena anak sudah ngantuk minta pulang, saya tidak berkesempatan untuk masuk gerai untuk bertanya. Tapi tidak masalah, saya bisa cek website.

Sampai di rumah saya langsung buka website Apple. Rupanya informasi sudah ada lengkap ada di sana, bahkan tersedia aplikasi kalkulator untuk menghitung nilai gadget saya!

Sayapun langsung coba ikuti petunjuk kalkulator tersebut, dengan memasukkan informasi tentang salah satu gadget tertua saya, yaitu Macbook Air edisi akhir 2010. Kemudian saya diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan berkisar tentang kondisi fisik dan performance gadget saya. Alhamdulillah MacBook Air saya masih dalam kondisi baik sehingga semua jawaban saya tidak mengindikasikan ada kerusakan.

Setelah menjawab semua pertanyaan, muncul nilai estimasi MacBook saya dalam nilai Canadian Dolar, yaitu $126 atau sekitar Rp1,4 juta.

Jujur agak nyesek. Saya beli laptop tersebut pada awal 2011 dengan harga Rp13,5 juta, hanya untuk mendapati nilainya sekarang tinggal 10% dari harga beli. Tapi ya laptop saya tersebut sangat awet, bertahan selama 8 tahun dan kondisinya masih baik!

Saya jadi berpikir, sebenarnya berapa sih biaya memiliki sebuah, bahkan beberapa, gadget? Hari gini siapa sih yang gak punya gadget. Generasi modern macam kita pasti setidaknya punya satu smartphone dan satu laptop. Kalau tajiran dikit, punya Tab dan smart watch juga untuk melengkapi gaya hidup hightech. Tapi pernahkah kita menghitung biaya memilikinya?

Kita hitung yuk. Long story short, saya iseng hitung semua harga gadget Apple saya melalui kalkulator tersebut. iPhone 4S yang saya beli pada pertengahan tahun 2013 dihargai $0 dari harga beli sekitar Rp7 juta, iPad mini 2 yang saya beli di awal tahun 2014 dihargai $0 (juga) dari harga beli sekitar Rp5 juta karena layarnya sudah pecah. iPhone 7 dibeli pada awal 2017 dihargai $226 dari harga retail mungkin sekitar $1,200.

Saya coba menghitung biaya kepemilikan per tahun.

Laptop MacBook Air:

Pemakaian 2011 – 2019: 8 tahun

Harga jual: $126 / Rp1,4 juta

Harga beli: Rp13,5 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp13,5 juta – Rp1,4juta) / 8 tahun = Rp1,51 juta

Smartphone iPhone 4s

Pemakaian 2013 – 2017: 4 tahun

Harga jual: $0

Harga beli: Rp7 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp7juta – Rp0) / 4 tahun = Rp1,71 juta

Tab iPad mini 2

Pemakaian 2014 – 2019: 5 tahun

Harga jual: $0

Harga beli: Rp5 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp5juta – Rp0) / 5 tahun = Rp1 juta

Smartphone iPhone 7

Pemakaian 2017 – 2019: 2 tahun

Harga jual: $226

Harga beli: $1,200

Nilai kepemilikan per tahun:

($1,200 – Rp226) / 2 tahun = $487 atau sekitar Rp5,2 juta

Dari perhitungan di atas, rata-rata biaya kepemilikan per unit gadget adalah di kisaran Rp1,5 jutaan (kecuali iPhone 7 yang tembus Rp5 jutaan). Artinya, saya mengeluarkan biaya sekitar Rp1,5 juta per tahun untuk memiliki sebuah gadget. Semakin banyak gadget yang dimiliki, maka biaya yang dikeluarkan pun makin besar. Pada kasus saya, dengan rata-rata 3 gadget yang saya miliki bersamaan, saya menghabiskan Rp4,5 juta per tahunnya hanya untuk memiliki!

Tapi gadget itu kan untuk produktivitas dan utilitas.

Betul! Jika gadget digunakan untuk menunjang pekerjaan, memperluas jejaring, mengakses ilmu pengetahuan, dan kegiatan produktif lainnya, ada nilai dari mengeluarkan biaya Rp1,5 juta per tahun per unit.

Lha kalau punya 2? 3? 4? Ya silakan jumlahkan sendiri.

Bisya rata-rata Rp1,5 juta itu dalam kondisi kepemilikan gadget selama kurun waktu 4 tahun ke atas ya. Lha kalau sering gonta-ganti? Berdasarkan hasil hitung-hitungan di atas, satu gadget yaitu iPhone 7 memiliki usia paling muda (2 tahun) dan memiliki biaya kepemilikan tahunan yang paling tinggi (Rp 5,4 juta). Artinya, kalau saya jual sekarang, saya menanggung biaya kepemilikan hanya dengan faktor pembagi yang kecil, yaitu 2, sehingga menghasilkan nilai rupiah tahunan besar. Artinya, semakin usianya muda, nilai rata-rata tahunannya makin besar. Artinya lagi, semakin sering gonta-ganti gadget, biaya kepemilikan akan semakin tinggi.

Jadi apa yang bisa dipetik dari ilustrasi ini?

Memiliki gadget itu ada biayanya. Di sisi lain, memiliki gadget ada utilitas alias manfaatnya bagi produktivitas. Untuk itu, sebelum memutuskan untuk memiliki suatu gadget, setidaknya ada 3 hal yang harus dipertimbangkan, yaitu (1) berapa lama kamu berencana mau miliki gadget ini (2) berapa biaya tahunan yang mau ditanggung, mengingat nilainya untuk produktivitas kamu? (3) gadget apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang produktivitas? Semoga dengan menjawab pertanyaan ini kamu bisa membuat keputusan yang paling optimal bagi rasio antara biaya dan manfaat kepemilikan sebuah gadget.

Declutter: Obsesi Produk Skincare dan Makeup Multifungsi

Semakin berumur semakin saya menyadari saya gak suka ribet. Dulu punya obsesi kalau sudah punya uang pengen borong produk makeup dan perawatan kulit apapun yang ada di luar sana.

Biar cantik terus, katanya begitu.

Nyatanya saya jengah sendiri dengan bejibunnya produk yang tersedia. Pertama, saya harus investasi waktu untuk melakukan keseluruhan rezimnya. Capek dan malas, saya lebih suka bengong selonjoran di kasur. Kedua, rasanya kok saya jadi cluttering, numpuk / menjejerkan banyak banget kemasan. Bikin sumpek meja rias.

Dari situlah saya mulai investasi waktu untuk mencari produk multifungsi: 1 kemasan, 1 pemakaian, bisa memberikan beberapa fungsi sekaligus.

Long story short, dengan beberapa hit and miss, saya menemukan produk multifungsi yang cocok dan akan saya gunakan terus selama produk tersebut bisa diakses.

Ngapain sih saya berbagi cerita beginian? Mungkin saja ada yang seperti saya sudah kesal dengan produk makeup dan skincare yang bejibun dan sedang mencari cara untuk mengatasi kekesalan tersebut. Kalau solusi saya ya beralih ke produk multifungsi.

Disclaimer: banyak di antara produk ini masuk kategori high end brand dengan harga lumayan bikin sedih. Tapi saya akan coba kasih alternatif produk sejenis dengan fungsi yang mirip.

1. Leonor Greyl Huile Secret de Beaute

Awal kenalan saya beauty oil adalah saat dapet free trial Josie Maran Argan Oil dari Sephora, yang klaimnya bisa dipakai untuk wajah, badan, dan rambut. Lumayan trial 2 minggu, saya pakai untuk wajah tiap pagi dan malam sebagai pengganti pelembab wajah, sambil sekalian digosok ke tangan/kuku dan rambut. Tokcer banget mengatasi kulit kekeringan akibat musim dingin Kanada yang ganas, plus bikin rambut lebih lembut.

Tapi begitu mau upgrade beli full size lihat harganya, duh mau nangis. Mahalnya gak ketulungan, 120ml seharga C$124. Bagus sih, tapi saya cari yang lain aja deh.

Surfing di google, sampailah saya pada Leonor Greyl Huile Secret de Beaute ini. Katanya sih produk perawatan rambut, tapi klaimnya bisa dipakai untuk badan dan wajah juga. Katanya juga, go-to must-haves nya Parisien. Harga mendingan daripada Josie Maran, yaitu C$85 dapet 100ml. Jadi saya putuskan untuk coba.

It works like magic. Satu produk, saya dapat manfaat pelembab wajah, krim tangan / badan, dan perawatan rambut. Plus, wanginya enak banget bikin merasa cantik.

Memang harganya masih agak tinggi. Untuk alternatif, The Body Shop punya Beauty Oil dengan klaim serupa dan harga lebih murah. Ada juga Marula Oil keluaran The Ordinary yang saya juga sudah coba dan beneran bagus buat wajah maupun kulit dan rambut.

The Ordinary Marula Oil
The Ordinary Cold-Pressed Virgin Marula Oil

2. Laura Mercier Tinted Moisturizer

Mungkin Laura Mercier Tinted Moisturizer ini adalah produk multifungsi pertama yang saya pakai. Berawal dari rasa jengah harus melapis-lapis produk wajah, mulai dari pelembab, foundation, bedak tabur. Selain menghabiskan waktu, wajah juga jadi terasa lengket karena terlalu banyak yang dioles.

Saya lebih suka dengan produk yang terasa ringan di wajah, walaupun tidak bisa nutupin jerawat dan bekas jerawat saya yang bejibun. Yang terpenting buat saya adalah fungsi melembabkan dan meratakan warna kulit.

Saya menemukan yang paling cocok adalah Laura Mercier Tinted Moisturizer. Produk ini memberikan 2 manfaat, yaitu pelembab wajah dan foundation, namun serasa tidak memakai apapun di wajah. Harganya lumayan, C$56 untuk 50ml, satu botol bertahan 5 bulan.

BB dan CC cream sebetulnya dapat memberikan fungsi serupa. Saya juga pernah pakai, dan sama multifungsi, namun saya merasa tidak ada yang seringan ini. Beberapa produk alternatif dengan harga lebih murah, bisa coba produk BB atau CC cream dari brand lower end, seperti Bourjois (my fave), L’oreal, atau Maybelline.

3. Laura Mercier Secret Camouflage

Laura Mercier Secret Camouflage
Laura Mercier Secret Camouflage in SC-2

Laura Mercier Secret Camouflage sebetulnya sepaket sama produk poin 2 di atas. Intinya produk ini fungsinya memberikan pigment di bagian tertentu pada wajah. Sehari-hari saya pakai untuk nutup blemishes alias jerawat atau bekas jerawat atau redness yang gak ketutup oleh tinted moisturizer. Jadi warna kulit lebih merata. Pakenya gampang banget, tinggal colek (jari harus bersih pastinya), tap-tap di area yang mau ditutup, and it will blend smeamlessly with complexion!

Terus multifungsi apanya? Kalo lagi super malas pakai makeup, saya bisa pakai produk ini sebagai untuk meratakan warna kulit: undereye concealer sekaligus blemishes concealer sekaligus foundation. Jadi tinggal tap-tap di bagian manapun yang perlu warnanya disamakan dengan warna kulit, wajah pun udah terlihat kayak gak bermake-up tapi flawless (no-makeup makeup gitu dehh).

Harganya lumayan, C$42, tapi karena cuma butuh sedikit banget untuk kasih pigment, selama pemakaian higenis bisa awet sampai 2 tahun. Not bad lahh.

Sayangnya, produk ini gak ada alternatifnya. Bahkan katanya sih, makeup artist kelas dunia pasti pake produk ini saking bagusnya.

4. Lucas Papaw Ointment

Kenal Lucas Papaw Ointment saat lagi merantau di Australia. Di sana dijual di mana-mana, udah kayak barang grosiran. Dan kayaknya semua orang punya dan pakai. Berfungsi sebagai lipbalm, dan lain-lain, klaimnya. Harganya juga murah, sekitar C$10 untuk tube 10 ml, sama seperti harga lipbalm.

Awalnya saya pikir ini semacam Vaseline petroleum jelly. Setelah mendalami profil produk ini, ternyata ada fungsi antiseptiknya juga karena terbuat dari ekstrak pepaya. Setelah saya coba, menurut saya produk ini jauh lebih tokcer daripada Vaseline!

Satu produk bisa saya gunakan sebagai pelembab bibir, pelembab tangan, mengeringkan luka, menyembuhkan alergi / gigitan serangga, dan paling top adalah sebagai diaper rash bayi!

Bahkan di Kanada saya pun bela-belain cari produk ini di Amazon walaupun ada bejibun produk di toko dengan klaim serupa.

I just can’t live without this!

5. Burt’s Bees Liptint Balm

Saya suka lipstick, tapi saya gak suka teksturnya yang cenderung bikin kering setelah beberapa jam. Bibir saya termasuk yang gampang banget kering sehingga saya harus selalu pakai pelembab bibir sebelum memakai lipstick. Masalahnya, saya malas harus memakai 2 produk, yaitu lipbalm kemudian lipstick.

Jadi saya pun mulai beralih memakai produk lipbalm yang memberikan warna. Awalnya saya coba merek high end, mulai dari Dior Lip Glow, Fresh Sugar Lip Treatment, namun akhirnya saya mendarat di Burt’s Bees Liptint Balm yang harganya cuma C$5.

Yang paling saya suka dari liptint balm ini adalah, warnanya tidak mencolok sehingga saya bisa aplikasikan kapan saja, bahkan tanpa harus melihat ke cermin!

Sebetulnya masih ada beberapa produk multifungsi yang saya pakai, tapi saya merasa manfaat multifungsinya tidak sesignifikan 5 produk di atas. Ada Stila Convertible Color atau Benefit Benetint yang bisa jadi perona pipi sekaligus pewarna bibir. Tapi saya merasa kedua produk tersebut hanya optimal sebagai perona pipi, sedangkan sebagai pewarna bibir kurang bagus.

Stila Convertible Color
Stila Convertible Color in Lilium

Ada juga produk murah Cetaphil Gentle Skin Cleanser yang bisa dipakai untuk sabun badan dan pembersih wajah. Bagus banget buat kulit sensitif. Walaupun produk ini bagus banget sebagai sabun badan dan membersihkan wajah, namun saya merasa produk ini kurang bisa mengangkat bekas makeup. Mungkin produk ini cocok buat yang kesehariannya gak bermakeup.

Intinya sih, produk makeup dan skincare multifungsi sudah membantu saya “memotong” waktu dan usaha dalam rutinitas di pagi hari maupun malam hari. Selain itu, saya tidak lagi rusuh buka-tutup sebareg produk untuk rezim perawatan tubuh dan bermakeup. Sebagai emak dengan seabreg tanggung jawab, saya gampang lupa dan kalau sudah lupa dengan salah satu rezim, rasanya kesel dan ujung-ujungnya badmood, jadi dengan produk multifungsi, rezim saya lebih singkat dan tidak ada yang terlewat. Yang tak kalah penting juga, counter saya jadi lebih lapang dengan jumlah botol yang lebih sedikit alias decluttering!

Muslin Cloth sebagai Alternatif Kapas Wajah

Gak tau kenapa ya, peradaban pengeruk kapas ini punya kualitas kapas yang juelek!

Tahun pertama tinggal di Kanada, saya harus ke counter Shiseido yang merek Jepang itu untuk beli kapas dengan kualitas standar buat pake produk wajah lah. Harganya? Murahhh, untuk 165 lembar saya bayar CAD11 (eq 120 ribu). Ada yang lebih murah? Adaaaaaa. Tapi rasanya kayak nempel amplas di muka 😭😭😭

Tahun kedua, saya mulai eungap bolak balik beli kapas ratusan ribu yang cuman bertahan kurang dari 2 bulan. Sayapun mulai bertanya-tanya: Orang sini pake apa sih buat bersihin muka?

Jawabannya: ya kapas berasa amplas!

Sayapun mengahbiskan waktu berjam-jam browsing situs Sephora online, dan nemulah yang namanya muslin cloth. Katanya sih bisa jadi alternatif kapas untuk memakai produk pembersih wajah.

Karena demi mengumpulkan poin di Sephora dan sedang promo diskon, sayapun gagayaan beli muslin cloth branded seharga CAD20 (eq 210 ribu). Lumayan dapet 3 lembar.

Fast forward 3 bulan kemudian, saya bilas susu pembersih pakai setengah bagian muslin cloth, dan gunakan setengahnya lagi untuk pakai toner. Habis pakai saya bilas muslin cloth dengan air hangat dan sabun bayi, lalu air dry. Setiap hari. Kulit saya kinclongan. Mungkin karena ada unsur gentle exfoliating-nya dari tektur kain yang agak kasar. Komedo berkurang drastis, jerawat tetep sih kalau lagi hormon. Tapi overall kondisi kulit membaik. Dan 2 lembar muslin cloth masih terlipat manis di dalam wadah dan belum dipakai sama sekali.

Tapi yang bikin saya gak kalah happy adalah berkurangnya penggunaan kapas (mahal) secara signifikan. Penggunaan muslin cloth tidak sepenuhnya menggantikan peran kapas. Saya masih pakai kapas untuk hal lain, seperti membersihkan eye makeup, membersihkan luka dengan alkohol, pakai betadine, dan apapun yang kapas yang bisa lakukan. Yang pasti, saya tidak lagi sering bolak-balik ke counter Shiseido untuk bersedih beli kapas ratusan ribu. Penggunaan kapas saya berkurang hingga lebih dari 50 persen, sehingga saya cukup bayar CAD 11 untuk kapas 4-5 bulan sekali.

Semoga, setidaknya saya bisa mengurangi jejak sampah saya.

Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit

Saya mau berbagi tentang cara mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari kartu kredit. Tips dan trik ini sudah saya lakukan sejak saya pertama kali punya kartu kredit tahun 2011, dan juga sudah dilakukan oleh orang tua saya sejak zaman jebot (dan sampai sekarang mereka hidup makmir gaess).

Saya mendengar banyak komentar pro dan kontra tentang menggunakan kartu kredit, berikut di antaranya:

“Kartu kredit itu bahaya, bisa bikin kita terjerat hutang denga bunga”

“Punya kartu kredit itu makin banyak makin bagus, bisa dapat semakin banyak peluang promo dan diskon”

Saya setuju dan tidak setuju. Kartu kredit bisa menguntungkan, bisa juga merugikan. Tapi kalau buat saya: kartu kredit itu bikin untung BANGET! Saya akan bahas kenapa dan gimana caranya untuk mengeruk keuntungan pakai kartu kredit sebesar-besarnya. Saya berasumsi kamu sudah mengetahui cara membuat kartu kredit jadi saya langsung masuk ke poin-poin tips dan trik yaaa.

1. Usahakan Tidak Bayar Annual Fee (Biaya Tahunan)

Ini saya bukannya ngajak sesat untuk nunggak ya, tapi maksud saya adalah cari kartu kredit yang tidak ada annual fee-nya.

Annual fee ini mungkin gak seberapa dibandingkan dengan biaya hidup kita selama setahun. Setahu saya, annual fee punya range beragam, mulai dari Rp. 50 ribu, sampai Rp. 1 juta, tergantung jenis dan batas pemakaian.

Mungkin kalau punya 1 kartu kredit, bayar annual fee gak terlalu terasa, tapi kalau punya 3 bahkan 5, 10.. Ya lumayan kan jadi terkena biaya memegang kartu kredit.

Gimana caranya supaya gak bayar annual fee kartu kredit? Cari, kalau gak ada, tanya. Pasti ada.

Kalau gak ada gimana? Jangan sedih, cari opsi annual fee yang bisa dibayar dengan poin kartu kredit. Saya akan bicara tentang poin di poin nomor 2.

2. Manfaatkan Poin Kartu Kredit

Fasilitas kartu kredit biasanya punya promo poin, yang mana tiap kita belanja dengan kartu kredit, kita akan peroleh poin sesuai dengan jumlah yang dibelanjakan. Misalnya, kartu kredit yang sekarang saya gunakan punya promo 3 poin untuk setiap 1 dolar yang saya belanjakan. Kalau poinnya sudah terkumpul banyak, bisa ditukar untuk berbagai macam fasilitas, seperti voucher belanja, barang elektronik, tiket pesawat, hotel, dan macem-macem.

Nahh, manfaatkanlah poin ini untuk dapat keuntungan sebesar-besarnya. Kalau harus bayar annual fee, make sure poin bisa dipakai untuk itu. Kalau masih ada sisa atau bebas annual fee, gunakan untuk apapun yang bermanfaat untuk kebutuhan.

Karena itu, memilih jenis promo kartu kredit juga harus disesuaikan dengan kebutuhan kita, yang akan saya jelaskan di poin nomor 3.

3. Pilih kartu kredit dengan promo yang sesuai dengan kebutuhan

Di poin 2 saya bicara poin, sekarang bagaimana cara memanfaatkannya.

Kartu kredit punya berbagai macam jenis promo, yang tujuannya untuk membidik pasar dengan gaya hidup tertentu. Ada jenis kartu kredit yang bisa kasih cashback belanja di supermarket, ini mungkin ditujukan bagi keluarga yang doyan belanja groceries dalam jumlah besar. Ada juga yang bisa kasih diskon makan di restoran / cafe buat yang hobi nongkrong. Ada juga yang bisa kasih poin khusus untuk fasilitas travelling.

Saya sendiri sekarang pakai kartu kredit yang kasih fasilitas tukar double poin untuk merchant travelling, seperti hotel, tiket pesawat, sewa mobil, plus ada asuransi perjalanan domestik (Kanada) dan Amerika Serikat. Ini saya pilih karena intensitas travelling saya dalam setahun lumayan (termasuk business travelling). Fasilitas kartu kredit ini kerasa banget manfaatnya. Dengan pola spending saya dalam setahun, jumlah poin yang saya peroleh bisa ditukar untuk menginap di hotel bintang 4 selama 3-4 hari! Ini judulnya “kartu kredit bikin hemat” gaess. Catatan sombong: saya juga dikasih fasilitas tidak bayar annual fee selamanya ✌🏻

4. Kartu kredit untuk menunda pembayaran, bukan uang tambahan

Ide bahwa kartu kredit adalah uang tambahan adalah salah kaprah kebanyakan orang yang akhirnya terjerat bunga kartu kredit.

Kartu kredit itu tidak akan berbunga selama kita bayar tepat waktu dan tidak dicicil. Otherwise, kena bunga kartu kredit itu bunga-nya flat: persentase bunga dihitung dari jumlah tagihan, bukan jumlah yang sudah kamu cicil sebelumnya. Bayangin, kalau bunga kartu kredit per tagihan adalah 3%, dan kamu punya tagihan Rp. 1,000,000, maka bunga di bulan pertama kalau tidak bayar penuh:

Rp. 1,000,000 x 3% = Rp. 30.000

Terus kamu bayar Rp. 200,000, maka bulan berikutnya:

Rp. 1,000,000 x 3% = Rp. 30.000

Bukan

(Rp. 1,000,000 – Rp. 200,000) x 3% = Rp. 24,000

Gak peduli kamu bayar cicilan berapa, pokoknya selama belum lunas kamu akan dikenakan bunga dari tagihan awal, yaitu Rp. 30,000. Ngehek kan?

Jadi kalau menggunakan kartu kredit, pastikan saat tagihan dibayar semua supaya tidak kena bunga.

Terus ngapain pakai kartu kredit kalau ujung-ujungnya dibayar penuh?

Buat saya, kartu kredit membantu menunda pembayaran dan mengelola cashflow. Dengan kartu kredit, saya bisa belanja tanpa harus mengeluarkan uang, dan membayarkannya sekaligus saat tagihan datang (dan baru gajian). Manfaatnya, saya jadi pegang tunai dalam jumlah besar yang memberikan saya rasa aman. Cashflow saya dapat diukur dan diatur melalui pembayaran seluruh pengeluaran saya melalui satu pintu tagihan kartu kredit (dan dapat poin gaess).

Akhir kata, saya cuma mau ulang lagi, bahwa kartu kredit itu memberikan banyak keuntungan bagi penggunanya selama kita menguasai trik untuk “mengeksploitasi”nya. Tidak ada yang dirugikan.

Satu pesan saya: gunakan kartu kredit secara bijak, dan jangan pernah kredit macet.

Catatan: kalau ada yang punya trik selain yang disebut di atas, feel free untuk berbagi di komentar. Thanks!