#hidupminimalis Less is More

Saya ingin berbagi perjalanan saya menjalani #hidupminimalis sebagai gaya hidup. Harus saya akui, semakin bertambahnya umur dan tanggung jawab hidup, bertambah pula kebutuhan hidup. Namun kadang kebutuhan dan keinginan sulit dipisahkan. Batas kebutuhan dan keinginan pun menjadi kabur. Akhirnya we spent so much energy and time for things we don’t even need, but we just want it.

Salahkah memenuhi keinginan? Hidup minimalis adalah sikap kendali dalam memilah kebutuhan dan keinginan. Hidup minimalis bagi saya merupakan sikap untuk menghargai diri sendiri.

Hidup minimalis yang saya maksud dalam jurnal ini adalah tentang memilih, membeli, dan menyimpan barang. Intinya sih, pergeseran pola pikir konsumsi yang lebih berorientasi pada tujuan dasar: pemenuhan kebutuhan.

Sejalan bertambahnya usia dan tanggung jawab, saya merasa saya memiliki semakin banyak kebutuhan. Kebanyakan untuk menata hidup, seperti memiliki tempat tinggal yang layak beserta isinya, kebutuhan untuk memiliki pola hidup lebih sehat, kebutuhan untuk menghibur diri, kebutuhan menjaga hubungan keluarga, dan banyak lagi. Semuanya adalah sesuatu yang rasa butuhkan.

Di sisi lain, kebutuhan juga memiliki spektrum. Ada kebutuhan dengan prioritas tinggi, seperti makan 3 kali sehari. Ada juga kebutuhan dengan prioritas yang tidak terlalu tinggi, seperti makan enak. Sekali-sekali butuh lahh makan enak, tapi beneran butuh? Atau hanya keinginan untuk memuaskan lidah saja? Memuaskan lidah apakah kebutuhan layaknya perut kenyang?

Dalam ilmu ekonomi cetek sih semua diatur dalam hukum supply and demand. Di mana ada permintaan, di situ ada penawaran. Jadi pasar bereaksi atas apa yang kita butuhkan dan inginkan. Kebutuhan dan keinginan kita yang tentukan. Masalahnya, sekarang ini era di mana teorinya dibalik: kebutuhan dan keinginan ditentukan yang jualan.

Kok bisa? Karena judgement alias penilaian atas kebutuhan dan keinginan ditentukan oleh buaian trik marketing yang daya rayuannya luar biasa. Window shopping ke mall liat ada barang lagi diskon 70%, langsung dibeli padahal belum tentu butuh. Ujung-ujungnya tidak terpakai, jadi sampah, atau bahkan tertimbun memunuhi isi rumah.

Saya akan membagi topik hidup minimalis setidaknya dalam tiga kategori. Kategori ini bisa saja berkembang sesuai pemahaman saya dalam perjalanan saya menulis berbagi di sini.

1. Less buying

Intinya berusaha berhemat. Bukan pelit, bukan juga belanja serba murah(an). Saya percaya bahwa berbelanja dengan orientasi kebutuhan, dengan pilihan barang yang berkualitas (harga) tinggi, akan terasa lebih hemat kalau dilihat secara jangka panjang, karena kualitas yang baik memaksimalkan fungsi dan utilitas.

2. Less garbage

Setidaknya dalam benak saya saat ini ada 3 aspek untuk mengurangi sampah: mengurangi penggunan produk sekali pakai (produk plastik!), memilih produk dengan packaging minimal supaya tidak jadi sampah, dan memilih produk berkualitas supaya awet sehingga gak cepet jadi sampah.

3. Declutter

Pengalaman berpindah-pindah tempat tinggal 5 kali selama 7 tahun mengajarkan saya betapa repotnya cluttering alias nimbun barang. Tidak hanya merepotkan, tapi juga kebiasaan buruk. Menimbun barang tidak jarang jadi dalih untuk menyimpan kenangan. Padahal kenangan itu disimpan di hati dan pikiran, bukan barang. Declutter whenever you have the chance. Declutter juga merupakan upaya menghargai barang, dengan memiliki sedikit barang namun terpakai dan berguna.

Ketiga kategori tersebut kadang berkaitan erat, kadang juga tidak. Jadi bukan tidak mungkin apa yang akan saya tulis memiliki ide yang bertentangan. Saya hanya ingin berbagi perjalanan saya belajar menjadi lebih baik.

Mungkin saya juga akan punya kecenderungan pick and choose terhadap apa yang saya suka dan tidak suka, sehingga konsep minimalis saya seperti tidak konsisten. Sekali lagi, topik tulisan hidup minimalis ini bertujuan untuk berbagi perjalanan dalam bertransisi, bukan untuk menggurui apalagi menjadi sempurna.

Hidup minimalis merupakan upaya jangka panjang untuk berhemat secara ekonomi, memudahkan hidup dengan mengelola barang tepat guna, dan juga menjaga lingkungan melalui pengurangan konsumsi barang yang menghasilkan sampah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s