Decluttering Itu Gampang Kalau Kamu Punya Mindset Ini!

Sejak satu bulan terakhir, timeline Facebook dan Youtube saya dipenuhi dengan senyuman Marie Kondo, mbak-mbak asal Jepang yang mejadi pahlawan bagi kebiasaan buruk bule-bule Barat yang doyan numpuk barang. Mulai dari video dan artikel pendek tentang tips dan trik decluttering mbak Kondo, sampai pro dan kontra tentang konsepnya.

Pertama saya “kenal” mbak ini dan tayangan Netflix-nya yang bergaya ala-ala savior from other planet, jujur saya sih geli. Geli karena setelah merasakan hidup di negara Barat, saya setuju memang betul manusianya doyan banget nyampah.

Sampah bikin bangsa maju.

Ya karena sampah itu ekonomi. You buy things, you move the economy. Dan yang namanya “things” itu mulai dari packaging, unused items, out of trends items, occasional / celebration items, broken items, ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah.

Bagi saya, decluttering itu butuh mindset. Bukan berarti ditolong mbak Marie Kondo bebersih terus masalah selesai. Ada pola pikir yang harus ditanamkan, khususnya dalam melihat fungsi barang (kalau kata Kondo harus spark joy), dan tentunya memahami kebutuhan dan keinginan. As I always recall, harus punya kendali atas diri kita sendiri.

Jadi saya mau berbagi di tulisan ini, 3 mindset yang perlu dimiliki untuk sukses decluttering. Saya berasumsi semua yang membaca ini pasti punya tempat tinggal, entah itu di kos-kosan, apartemen, rumah, sewa maupun milik.

1. Volume barang bertambah di rumah itu sudah pasti, jadi kendalikan lajunya!

Dengan berjalannya waktu, pasti deh volume barang yang kita simpan di tempat tinggal bertambah. Penyebahnya ada 2, pertama karena mentang-mentang punya tempat menyimpan (tempat tinggal), kita bisa meletakkan barang apapun. “Ah lacinya masih muat,” atau “Lumayan nih beli piring cantik siapa tau kapan-kapan ada tamu bisa buat ngejamu.” Kedua adalah simply godaan konsumerisme. “Duh ada lipstik buy one get one, kapan lagi ada deal kayak begini” (padahal sudah punya 5 lipstik di rumah).

Nah yang kayak begini nih jadi sumber cluttering: numpuk stok barang di rumah. Sementara barang lama masih disimpan (dan terpakai), kita sudah menambah stok barang baru.

Sebetulnya tidak ada masalah sih, selama kita tahu semuanya tepat guna, tapi masalah seringkali tidak demikian.

Saya juga punya masalah seperti ini. Tiap belanja di Sephora, saya selalu minta sample produk gratisan, karena ya mental “kapan lagi dapet deal begini.” Tiap belanja dapet 3 sample. Tapi karena produk tersebut bukan yang saya butuhkan, melainkan just because I feel good about getting free stuff, akhirnya jadi cluttering. Dipake males, dibuang sayang. Terus aku kudu piye? 😫

Clutter: ngumpulin sample product sebanyak ini, enggak kepake tapi dibuang sayang

Solusinya adalah kendalikan laju pertambahan barang. Barang bertambah itu pasti, tapi mau bertambah berapa kita yah kendalikan.

Caranya gimana?

Setiap kali berbelanja dan butuh / ingin membeli sesuatu (saya tidak akan judge kebutuhan dan keinginan), selalu ingat-ingat barang sejenis yang tersimpan di rumah, dan jawab pertanyaan ini:

“Ada yang bisa dibuang?”

Membuang barang itu tidak mesti karena masih terpakai atau tidak. Kalau kamu merasa sudah tidak “ingin” gunakan dan “ingin” mengganti dengan yang baru, maka barang tersebut bisa dibuang (dibuang bisa ke tempat sampah, atau didonasikan, atau dijual). Apa gunanya menyimpan barang yang kita sudah tidak inginkan?

Jadi prinsipnya upayakan “one (item) in, one (item) out” atau kalau terlalu sulit bisa juga “five in, three out.” : Harus ada barang yang keluar dari rumah.

Dengan demikian, laju pertambahan barang bisa lebih pelan. Kalau tidak ada yang “out,” sudah pastilah menumpuk.

2. Investasi pada barang basic, berkualitas baik, dan multifungsi

Godaan industri konsumsi memang luar biasa ya. Yang namanya trend fashion misalnya, bisa ganti setidaknya 2 kali dalam setahun. Baru pakai dress trendy 6 bulan, tiba-tiba rasanya jadi outdated ketika muncul koleksi baru. Terus jadi pengen beli lagi. Selain bikin boros, bikin numpuk juga.

“Tapi kan murah ini.”

Nah ini masalahnya. Barang murah itu justru sumber cluttering. Karena murah, kita merasa dapat insentif untuk terus berbelanja. Padahal ujung-ujungnya boros juga.

Karena itu, kita perlu punya mindset investasi. Sekarang saya lebih suka mengeluarkan uang lebih banyak untuk satu barang yang berkualitas baik dan basic, dan kalau perlu multifungsi. Barang seperti ini bikin puas karena berkualitas baik, bisa terpakai untuk berbagai macam keperluan. Kalau istilah ekonominya: maximum utility.

Saya ambil contoh high heels. Saya suka ke kantor pakai high heels. Supaya nyaman, saya beli yang berkualitas tinggi dengan harga tinggi. Karena harga tinggi, saya ingin juga bisa dipakai dengan setelan apapun, jadi saya pilih warna hitam dan desain polos (basic). Karena basic, saya juga jadi bisa gunakan selain untuk ke kantor, seperti untuk ke undangan / pesta (multifungsi). Karena berkualitas tinggi, sepatu ini terpakai hingga lebih dari 2 tahun, artinya selama kurun waktu tersebut saya tidak beli sepatu. Selain hemat, saya tidak menambah volume barang di rumah.

3. Kenangan itu disimpan di hati dan pikiran, bukan barang

Mungkin ini yang paling sulit, apalagi kalau melibatkan orang tersayang. Saya sering merasa sedih ketika melakukan sortir barang anak. Sepatu baru terpakai 6 bulan tiba-tiba sudah sempit, sehingga sudah tidak bisa dipakai. Seyogiyanya karena sudah tidak terpakai, ya dibuang atau didonasikan. Namun ada saja pikiran “Duh sayang, dia kan pakai sepatu ini waktu pertama kali bisa jalan,” atau “Ini kan kado dari mantan bos dulu.”

Yang begini nih jadi sumber cluttering. Bayangkan kalau semua barang yang kita miliki dikaitkan dengan kenangan masa lalu. Simpanlah kenangan di hati pikiran, bukan barang. Gimana caranya? Be present in every moment of your life. Ketika anak baru bisa jalan, ya nikmati momen tersebut, jangan malah inget sepatunya.

Jadi itulah kira-kira apa yang saya rasa sebagai mindset for decluttering. Yang terpenting adalah, decluttering harus menjadi sikap melalui membentuk pola pikir, bukan sekedar rutinitas, apalagi dianggap sebagai kewajiban.

Karena Decluttering adalah menghargai diri sendiri.

P.S.: kalau ada yang punya tambahan atau pandangan lain, feel free untuk tulis di kolom komentar. 😊

2 thoughts on “Decluttering Itu Gampang Kalau Kamu Punya Mindset Ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s