UnPackaging: Shampoo and Soap Bar

Hidup di Kanada membuat saya empet sama yang namanya sampah. 
Lho, bukannya Kanada itu negara yang bersih ya?
Iya. Iya. Tapi percayalah, negara maju macam Kanada ini justru menyumbang sampah yang gedeeee banget buat bumi. Saya tidak punya angka pastinya. Saya cuma merasakan dalam keseharian beraktifitas, khususnya berkaitan dengan belanja rumah tangga.
Mereka sangat suka dengan kemasan sekali pakai. Seperti kalau lagi acara kumpul-kumpul, pasti akan lebih memilih alat makan plastik dan sterefoam. Packaging bahan groceries seperti buah dan sayur pre-cut dan pre-washed juga bikin banyak sampah. 
Masih mending orang Indonesia yang punya pilihan packaging makanan daun pisang atau kertas daur ulang yang tidak menghabiskan ruang tempat sampah.
Karena itu saya jadi mulai memikirkan pola berbelanja yang less garbage: tidak banyak menghasilkan sampah. Jujur saja, saya masih ketergantungan dengan produk groceries pre-cut dan pre-washed yang menyumbang sampah packaging, jadi saya coba mulai dengan produk perawatan wajah dan tubuh.
Sejak 2 tahun terakhir, saya menggunakan sabun mandi batangan. Selain harganya yang super murah, saya tidak dibebani dengan sampah botol. Saya ingat, untuk kebutuhan sekeluarga, saya bisa beli sabun cair 1 botol dalam sebulan (sekitar 200 ml). Saya coba leboh hemat dengan beli ukuran 400 ml untuk 2 bulan. Dari sisi harga lebih murah, namun saya menyumbang sampah 1 botol besar tiap 2 bulan sekali.
Semenjak saya ganti sabun batangan, selain harganya jauh lebih murah ($7 untuk 8 batang), saya hanya membuang 1 lembar kertas setiap bulannya. Setidaknya itu membuat saya tidak terlalu merasa bersalah karena ukuran sampah (dan materialnya) tidak seberat botol sabun cair.
Atas dasar itulah saya mencoba produk shampoo batangan. Sayang, produk ini belum banyak pemain pasarnya, sehingga harga di pasaran mahal (saya pakai Lush, $13 per batang, untuk 2 bulan). Walaupun demikian, saya senang tidak lagi menyumbang sampah botol shampoo (dan conditioner) setiap 2 bulan sekali. Bahkan karena Lush menjual tanpa packaging, saya tidak membuang sampah sama sekali (kecuali struk belanjanya mungkin lol).
Saya berharap akan lebih banyak pemain pasar untuk produk shampoo batangan supaya harganya bisa lebih bersaing. Kenapa produk ramah lingkungan justru lebih banyak merogoh isi kocek?
Di satu satu sisi, packaging membantu dalam mengorganisir barang dan belanjaan. Di sisi lain, packaging ini seringkali berakhir ke tempat sampah, jadi sampah, dan bikin empet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s