Biaya Kepemilikan Tas Designer Brand

Sebelumnya saya minta maaf kalau tulisan ini dianggap kurang sensitif karena mengekspos perilaku belanja saya yang terkesan berlebihan. Saya sadar ini berlebihan. Percayalah, bukan maksud saya mau riya, tapi saya pengen kasih edukasi tentang konsekuensi dari memiliki perilaku belanja tas mahal. It’s ugly, baca deh.

Mungkin buat beberapa orang, judul di atas agak bombastis, jadi sebelum mikir terlalu jauh apa itu “tas designer brand” dalam tulisan ini, saya batasi definisinya dengan tas merek desainer yang harga belinya di kisaran 2-10 juta perak. Kisaran harga ini sangat bergantung pada material dan ukuran tas.

Mahal? Murah? Relatif, tergantung disposable income kamu. Buat saya sih, mengeluarkan uang segitu untuk beli tas udah mahal.

Tulisan ini saya tujukan bagi kamu yang sudah pernah punya 1 atau lebih tas merek desainer, atau yang sedang naksir untuk melakukan pembelian pertama. Saya sendiri sudah punya “beberapa”.

Sebelum masuk ke penghitungan biaya kepemilikan, saya mau cerita dulu tentang ide memiliki tas mahal. Memiliki tas merek desainer ini butuh “komitmen.”

Jadi tas merek desainer pertama adalah “Coach” yang saya beli tahun 2013 atau sekitar 6 tahun yang lalu. Belinya pake drama semenjak 2 tahun sebelumnya. Hampir tiap ke mall kerjaannya nongkrong depat gerai, duit udah punya tapi kok ya gak tega untuk beli. Sampai akhirnya suatu hari suami udah empet denger saya ngoceh tentang punya tas baru, lalu menyeret saya masuk ke gerai “Coach” dan melarang saya keluar sampai saya ambil 1 tas. Alhasil saya pun beli tas merek desainer pertama saya: tas kantor ukuran besar yang apapun bisa masuk ke situ. Multifunction.

It’s a good investment, they say. Punya tas mahal bikin percaya diri, dan dijamin awet karena menggunakan material premium. Ok. Saya setuju bikin percaya dirinya karena desainnya memang keren sampai kok rasanya saya jadi lebih cantik dan keren, dan saya juga setuju materialnya jauh lebih bagus daripada tas biasa.

Awet? Nah ini relatif. Untuk menjamin bisa dipake lama, tas mahal butuh komitmen merawat: kalau bahan kulit ya rajin-rajin dibersihkan pakai pembersih khusus kulit, kalau bahan kain, ya rajin-rajin disikat/dilap. Udah komitmen merawat aja? Enggak. Kamu juga butuh komitmen untuk membeli tas mahal lagi.

Lho apa gunanya punya tas mahal kalau harus bikin komitmen beli lagi?

Buat yang sudah punya beberapa, mungkin udah ngerti kenapa. Buat yang belum pernah punya, this is the little dirty secret you need to know. Kowe ora bakal iso mudun, ndhuk! (Kamu gak akan bisa turun kelas, sis!). Kalau udah punya satu, most likely kepengen punya lagi. Tas non merek desainer jadi kelihatan bapuk semua, dan kamu akan gak punya kepercayaan diri kalau gak pake tas mahal. Masa yang dipake satu itu doang? Masa cuma punya tas kantor? Butuh juga dong tas maen, tas kondangan, dan tas-tas lainnya yang ada dehhhh pokoknya.

Nah, setelah 2 jenis komitmen ini bisa kamu pahami, baru kita bisa mulai hitung biaya kepemilikannya.

Oh wait belum selesai. Kalau tas mahal itu awet, umurnya berapa lama? Ini relatif. Saya coba pakai pengalaman saya. To begin with, saya gak selebor sama barang, artinya I use them well, tapi bisa dibilang saya juga gak apik-apik amat: saya bukan tipe yang rajin ngelap, bersihin dan doing the care stuff juga. Saya lakukan sih, tapi gak sering. Misalkan, saya bersihin tas saya mungkin 6 bulan sekali. Sering atau jarang? Saya gak tau, you judge.

Jadi untuk menghitung biaya kepemilikan tas mahal, saya pakai contoh tas Coach kulit pertama saya. Beli di tahun 2013 dengan harga sekitar Rp5 juta, tas tersebut sekarang sudah berusia 6 tahun. Gimana kondisinya sekarang?

Kulitnya masih bagus, bentuk masih ok, model masih cukup up-to-date. Ada beberapa sudut yang terkelupas, tapi tidak mengganggu. Overall, masih layak pakai.

Bagus dong?

Tapi saya udah malas untuk memakainya. Kenapa? Warnanya agak memudar, tidak sekinclong saat pertama kali beli. Sebetulnya tidak masalah. Tapi kalau dibandingkan dengan tas kulit Coach yang dibeli di tahun 2017, jelas terlihat perbedaannya. Saya lebih pede memakai yang baru karena tas baru masih terlihat kinclong.

So I have an attitude problem here. Saya gak mau pakai tas tahun 2013 karena walaupun dari sisi fungsional masih baik (sesuai janji tas mahal yang memiliki kualitas baik), namun SELERA saya atas tas tersebut ada umurnya. Selera saya dan kamu berbeda, tapi rupanya selera saya bertahan hanya sampai 6 tahun.

Jadi mari hitung biaya kepemilikan tas Coach pertama saya:

Rp5 juta : 6 tahun = Rp830 ribu per tahun

Jadi saya menghabiskan Rp830 ribu per tahun untuk menunjang rasa percaya diri dan cantik melalui 1 tas mahal saya ini. Asumsikan kalau Rp830 ribu sebagai baseline, kalau saya punya 5 – 10 tas, kalikan saja dengan jumlah yang dimiliki. Jadi berapa hayoo?

Asumsimya kurang valid? Ok saya ambil satu sampel lagi, yaitu tas Longchamp Le Pliage sejuta umat. Saya beli di tahun 2018 dengan harga eq Rp1,8 juta, dan melihat kondisinya sekarang, saya proyeksikan tahun depan sudah harus dihibahkan, jadi umurnya maksimal 2 tahun.

Rp1,8 juta : 2 tahun = Rp900 ribu

Sama kan?

Is it even a good investment?

Mahal. Sungguh mahal.

Saya sudah masuk dalam perangkap kepercayaan diri yang diukur salah satunya dari tas bermerek. Alhamdulillah saya masih punya disposable income yang memungkinkan saya untuk “berinvestasi” pada tas yang bikin percaya diri. Tapi ini mahal, mahal banget. Kalau tidak mampu, plis jangan dipaksakan.

Moral of the story: Sebelum membeli tas bermerek, selalu ingat bahwa kepemilikan jenis barang ini butuh 2 jenis komitmen: perawatan untuk menjadikannya terpakai dalam jangka waktu panjang dan bersiap diri untuk pembelian tas bermerek berikutnya karena wis ora iso mudun (gak bisa turun kelas).

Masih tertarik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s