Biaya Menjadi Sobat Misqueen

Sebagai lulusan Development Studies, sebetulnya saya agak miris bikin artikel bertema seputaran menjadi miskin. Miskin (poverty) itu lebih dari sekedar tidak punya uang, tetapi merupakan sebuah siklus yang melibatkan keterbatasan kesempatan (opportunity), akses (access), dan tertanam menjadi pola pikir (mindset) yang memengaruhi pilihan (choices).

Ah cukup sudah romantisme bikin essay kuliah. Tulisan saya ini tidak akan berkaitan dengan ilmu Development Studies dengan kemiskinan (comot teorinya dikit-dikit bolelah), tapi mau cerita tentang sesama kelas menengah. Saya dan populasi di sekitaran saya adalah kalangan menengah: belum kaya, tapi jauh lebih sejahtera dari miskin.

… belum kaya … lebih sejahtera …

Nahh, di sinilah persoalan yang mau saya tulis. Menjadi kelas menengah sebetulnya punya kesempatan, punya akses lebih baik, namun masih rentan untuk terjebak dalam mindset dan choices miskin (kembali lagi, karena belum kaya). Yang begini nih namanya kategori kelas menengah tapi sobat misqueen.

Terus apa masalahnya dari menjadi kelas menengah yang sobat misqueen? Here’s the theory: it’s expensive to be poor. Menjadi miskin itu tidak efisien. Pola pikir dan pilihan miskin menjadikan kita harus mengeluarkan resources (tenaga, uang) lebih besar untuk memperoleh kesempatan dan akses.

Kok bisa? Saya coba buktikan teori ini dalam poin-poin berikut ini, tentunya dengan konteks my fellow kelas menengah.

1. Demi belanja gadget baru atau liburan, rela memotong anggaran makan

Duh akhir bulan bokek nih jadi sehari-hari makan Indomie aja ampe gajian

Sering banget kan denger keluhan seperti ini? Kedengerannya lucu sih, sekaligus problematik. Jadi kalau anggaran kebutuhan pokok (makan) sampai harus diirit-irit, uangnya habis dipakai untuk apa saja?

Pernahkah berhitung, berapa sih rasio pengeluaran makan dengan total pengeluaran dalam setahun? My magic number is 20. Ya, 20 persen dari total pengeluaran (penjelasan lengkap tentang berbagai rasio pengeluaran / pendapatan, baca: Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga). Ada 80 persen lagi yang bisa dipakai untuk kebutuhan lain, maka sebetulnya 20 persen itu bukan angka yang besar.

Jadi, kalau kamu berpikir untuk berhemat dengan mengurangi anggaran makan, please think again, karena gak ngaruh! Mau dikurangin sampai setengah pun, cuma menyumbang penghematan 10 persen dari total pengeluaran. Lagian yang bener aja memangkas anggaran makanan sampai setengah. Makan adalah kebutuhan pokok dan merupakan sumber life support, jadi gak boleh dikorting. Pertama, hidupmu jadi gak mutu, kedua gak bisa bikin kamu punya extra uang.

Jadi kalau kamu masih berpikir bisa berhemat dari mengurangi anggaran makan, coba pikirkan lagi apakah kamu sudah layak untuk spending on luxuries. Makan aja susah.

Note: Kalau hasil hitunganmu pengeluaran makan > 20 persen, artinya kamu belum kaya, karena pengeluaran paling pokok yaitu urusan perut menghabiskan porsi yang besar. Kalau = atau < 20, selamat! Kamu sudah makmur.

2. Belanja macem-macem pakai kartu kredit, kemudian tiap bulan bayar tagihan minimum

Sebagai kelas menengah yang agak “mampu”, sudah pasti jadi incaran sales kartu kredit. Lagian, hari gini masak gak punyakartu kredit? Kartu kredit memberikan banyak kemudahan transaksi, ngasih reward point, dan tinggal gesek kalau sedang tidak bawa uang tunai. Saking wuenaknya gesek, gak kerasa sudah pada batas pemakaian per bulan.

Kalau saatnya ditagih, sudah pasti harus bayar. Nah ini bagian ini paling tidak enak. Selama belanja gak kebablasan sih, gak ada masalah, penghasilan setelah dikurangi tagihan pokok masih mencukupi untuk bayar tagihan kartu kredit, tinggal bayar penuh. Selesai. Tidak ada biaya tambahan.

Gimana kalau ternyata sisa penghasilan tidak mencukupi? Bisa saja bayar cicilan minimum, tapi artinya kamu harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar apa yang sudah kamu beli sebelumnya menggunakan kartu kredit, karena kamu harus bayar bunga. Bayangkan, betapa mahalnya hidup kamu kalau memilih jalan ini. Pilihan buruk jadi pilihan mahal, sobat misqueen harus menanggung biaya lebih besar.

Kalau mau tips lengkap memakai kartu kredit, baca tulisan saya tentang Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit

3. Punya rekening tabungan premium, kemudian harus bayar biaya admin bank karena jumlah tabungan di bawah syarat minimal

Kelas menengah kece sudah pasti punya rekening tabungan. Tapi masak iya punya jenis tabungan biasa-biasa saja, fasilitas minim, jatah transaksi terbatas, gak kelas dong. Rekening tabungan kalau perlu yang batas transaksinya setinggi harga tas luxury brand, karena siapa tahu butuh beli LV tunai.

Rekening tabungan premium bisa memberikan kenikmatan seperti itu. Sebagai contoh, rekening tabungan saya dan suami ada di bank yang sama, tapi yang saya jenis silver, dia gold. Jelas beda fasilitasnya. Saya cuma bisa narik uang di ATM Rp5 juta per hari, dia bisa sampai Rp25 juta.

Tapi yang namanya rekening tabungan premium, bukan tanpa “harga” loh ya. Ada batas minimal jumlah tabungan yang disyaratkan untuk bebas biaya admin bulanan. Sehari saja dalam sebulan jumlah tabungan di bawah syarat, langsung deh kena biaya admin.

Artinya, kalau mau punya rekening tabungan premium, kamu harus punya banyak tabungan, harus tajir. Kalau uang cuman numpang lewat, selamat Anda adalah sobat misqueen yang harus ngebayarin bank tiap bulan untuk menikmati rekening tabungan premium.

4. Melihat expenses dan income bulanan, bukan tahunan

Kalau mau menghitung besaran kapasitas finansial, wajib hukumnya memahami expenses dan income dengan melihat agregat tahunan. Karena yang namanya pengeluaran (kadang penghasilan juga) tidak bisa disamarataksn setiap bulannya. Ada pengeluaran non rutin, penghasilan bonus, yang kesemuanya harus dicatat dan dipetakan untuk menyusun strategi tata kelolanya.

Kalau kamu masih bicara penghasilan bulan ini untuk pengeluaran bulan ini, dan bulan depan dipikir belakangan, apa bedanya pola pikir ini dengan rekan-rekan kita di kalangan bawah yang masih memikirkan besok makan apa?

So, are you one of the examples above?

PS: please comment kalau ada poin lain yang menurut kamu merupakan ciri kelas menengah sobat misqueen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s