Work From Home: Lebih Hematkah?

Disclaimer:

If you can relate to this article a little or so well, please be grateful. You are luckier than 80% of the population.

If you can’t, let’s talk.

Sudah hampir 3 minggu semenjak warga pekerja kantoran ramai-ramai disuruh tinggal di rumah alias Work From Home (WFH) untuk menekan penyebaran virus galak COVID-19. Sebagai anak rumahan, sebetulnya sih saya betah-betah saja tinggal di rumah, paling jadi gak betah kalau anak kecil lagi berisik minta makan.

Yaiya betah lah, karena alhamdulillah masih terima gaji, gak takut kelamaan WFH jadi “dirumahkan.” I’m a lucky b****, dan tentunya kamu juga yang masih terus terima gaji (penuh ataupun dipotong) walau produktifitas kerja berkurang. Let’s take a moment to be grateful…

Berkurangnya aktifitas di luar adalah berkurangnya juga biaya yang dikeluarkan dari aktifitas di luar. Apa sajakah itu? Ada biaya transportasi, jajan makan siang (yang gak bawa bekel), ngopi pagi/sore, dan nongkrong after hour. Kesemuanya itu adalah pengeluaran harian yang sifatnya RUTIN.

Kalau kita sekarang tidak ada pengeluaran untuk beraktifitas di luar, apakah itu artinya pengeluaran rutin bulanan secara keseluruhan akan berkurang, alias jadi berhemat? In my experience, jawabannya adalah BELUM TENTU.

Kenapa? Karena dengan tinggal di rumah, pola rutinitas kita berubah, dan akibatnya adalah adanya pergeseran biaya rutin yang dikeluarkan karena tinggal di rumah.

How? Setiap orang pasti punya pola pengeluaran rutin untuk beraktifitas di luar rumah yang berbeda-beda, seperti berapa besaran biaya transportasi (tergantung moda, jarak), biaya makan siang (warteg, restoran, jasa antar makanan, atau bahkan bekel dari rumah), jajan (di cafe, warung). Pergeseran pengeluaran rutin untuk tinggal di rumah pun pasti tiap orang berbeda.

Nah, jadi saya nulis di sini mau berbagi pengalaman saya selama 2 minggu terakhir tentang kenapa tinggal di rumah tidak menyebabkan penghematan atau pengurangan pengeluaran rutin bulanan secara drastis. Tentu pola pengeluaran rutin saya bisa berbeda dengan kamu, namun setidaknya tulisan ini bisa kasih insight dan memberikan pemahaman tentang struktur keuangan personal kamu di situasi seperti sekarang ini.

Dan tentunya tulisan ini tidak akan membahas aspek pendapatan, karena saya cuma fokus di struktur pengeluaran.

Pengeluaran 1: Utilities

Dengan tinggal di rumah, sadar gak sadar kita menggunakan lebih banyak listrik, air ledeng, gas, dan air minum. Kalau beraktifitas di luar, konsumsi utilities kita “disubsidi” oleh fasilitas bersama, seperti di kantor atau di area publik lainnya.

In my case, dengan mondok di rumah, AC jadi lebih sering nyala (karena suami anti keringetan), cuci piring (dan cuci tangan) lebih sering, gak dapet air minum gratisan dari kantor, dan lebih sering nyalain kompor untuk masak. Tagihan listrik dan air saya di bulan Maret setelah menjalani hampir 2 minggu WFH bengkak dengan besaran 80% dari biaya transportasi yang tidak terpakai karena tidak ke kantor. Konsumsi air galon juga meningkat 50%.

Pengeluaran 2: Makan

Urusan makan ini agak tricky sebetulnya. Ini sangat tergantung pilihan makan selama ini.

Sebagai latar belakang, di hari-hari normal, saya sarapan dan makan malam di rumah, dan makan siang jajan di luar dan sekali-kali (1-2 kali seminggu) bawa bekal. Semenjak WFH, saya full masak terus. Namun karena memiliki lebih banyak waktu untuk memasak, saya cenderung membuat masakan yang lebih time-consuming dan menggunakan bahan makanan tanpa melihat harga karena dengan masak rasanya lebih murah daripada beli makanan.

Nah, ini jadi sumber atas 2 masalah: (1) harga hasil masakan per porsi jadi lebih mahal dan (2) masak terus-terusan bikin jenuh. Masakan per porsi sejak WFH bisa 20-50% lebih tinggi dari biasanya. Sementara itu, kalau saya jenuh masak, saya akan pilih jasa antar makanan siap saji (gofood, gojek) yang harganya mahal dan saya punya kewajiban sosial untuk membelikan abang ojek dan petugas keamanan apartemen. Overall, pengeluaran makan saya tidak berkurang karena biaya untuk makan di luar saat bekerja dialihkan untuk masak mewah dan kewajiban sosial.

Pengeluaran 3: Ngemil

Ini mirip dengan persoalan makan. Tinggal di rumah bikin kecenderungan ingin ngemil terus. Akhirnya jadi banyak pengeluaran untuk beli cemilan.

Pengeluaran 4: Alat Pelindung Diri dan Hygene

Dengan adanya himbauan untuk memperhatikan perlindungan diri dan hygene, saya yang biasanya gak pernah nyetok masker jadi nyetok. Cuci tangan juga jadi lebih sering sehingga sabun cuci tangan lebih cepat habis (plus selama ini cuci tangan di kantor pakai fasilitas kantor). Tisu toilet juga lebih banyak terpakai. Sejak WFH, penggunaan sarana hygene di rumah meningkat sekitar 50%. Semua ini walaupun murah, ada biaya ekstra yang dikeluarkan.

Jenis pengeluaran di atas adalah yang saya rasakan pergeserannya semenjak WFH. Terdapat juga pengeluaran lainnya seperti kuota internet, belanja untuk penyaluran hobi untuk mengatasi kebosanan, dll tergantung fasilitas yang tersedia di rumah. Kesemuanya memiliki konsekuensi biaya yang harus kita sadari.

Kesimpulannya, kita cuma mengalihkan pengeluaran dari biaya beraktifitas di luar ke biaya beraktifitas di rumah. Namun dengan memahami pergeseran ini, sebetulnya kita bisa saja memikirkan bagaimana cara berhemat di tengah situasi seperti ini, yaitu dengan mengedalikan jenis-jenis pengeluaran di atas. Misalnya, dengan tidak ngemil berlebihan, atau mengganti penggunaan AC dengan kipas angin. Sebetulnya asal mau pasti bisa.

Jakarta, 8 April 2020

One thought on “Work From Home: Lebih Hematkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s