Review Menstrual Cup: Nyesel.. Nyesel Gak Dari Dulu!

Saya tidak akan cerita apa itu menstrual cup. Asumsi saya siapapun yang baca artikel ini pasti sudah tahu dan sedang mencari review tentang produk ini. So here it is… pengalaman saya dengan Menstrual Cup.

Saya sudah kepingin banget mencoba pakai menstrual cup sejak 4 tahun lalu waktu masih tinggal di Kanada. Diva cup, produk pertama menstrual cup, adalah buatan Kanada.

Tanya kanan kiri, belum ada yang punya pengalaman. Mungkin saya saja yang kurang gaul, karena di internet sudah marak banget.

Saya nanya ke suami, suami spontan discourage. “Dengernya aja ngilu” gitu katanya. “Yang ‘aman’ saja pakai pembalut.”
Well, kata siapa pembalut paling aman?

Fast forward pulang ke Indonesia, ternyata menstrual cup sudah ada made in local-nya, G Menstrual Cup. Belakangan IG profile-nya sering banget nongol di timeline.

Akhirnya saya pun termakan targeted ads nya Instagram. Admin G Menstrual Cup bisa kasih konsultasi gratis, ya udah saya WA admin.

Saya menanyakan ukuran yang paling pas untuk saya: first timer namun sudah pernah melahirkan. Saya disarankan untuk memakai ukuran S (mereka punya 3 ukuran: XS, S, dan L). Langsung detik itu juga saya pesan. Harganya 150 ribu, gak jauh beda dengan modal coba-coba skincare.

(Untuk cara pakai dan informasi2 detail lainnya cek di IG mereka saja di sini.)

Sudah baca petunjuk, nonton tutorial, baca tips and tricks, cobain di perioed pertama gagal total. It didn’t work, at first try.

Namun memang menurut petunjuk, memakai menstrual cup adalah learning curve, perlu latihan 2-3 period untuk kita bisa “menemukan” cara yang paling pas untuk kita. It’s individual experience you cannot compare, so they say.

Jadi kuncinya: coba terus sampai berhasil.

Di periode kedua akhirnya saya berhasil pakai. Saya gak bisa jelaskan, pokoknya I have “that” spot dan sejak itu pemakaian lancar terus.

It feels so good I wish I knew it before, and here’s why…

1. Pakai menstrual cup bikin lupa sedang period
Menstrual cup setelah terpasang dengan benar, tidak terasa apapun. Tidak ada rasa mengganjal sedang menggunakan sesuatu, bahkan aliran period pun tidak terasa sama sekali!

2. Tidak kuatir bocor
Gimana mau kuatir bocor, period saja lupa! Apabila dipakai dengan benar dan cup tidak penuh, dijamin tidak akan ada kebocoran.

3. Tidak ada oksidasi
Darah yang ditampung oleh cup tidak terkespos udara dan langsung dibuang, sehingga tidak teroksidasi. Saya jadi merasa lebih “bersih” dan nyaman di selama masa period.

4. Lepas pasang cukup 2-3 kali sehari
Menstrual cup diklaim bisa menampung darah hingga 12 jam, bahkan tidak perlu dilepas saat buang air kecil. Tapi kalau saya sih lebih suka cek 6-8 jam sekali, just to be sure cup tidak kepenuhan.

5. investasi jangka panjang modal 150 ribu
Kalau pakai pembalut, harus modal 30-50 ribu setiap bulan. Menggunakan menstrual cup cukup modal 150 ribu, bisa dipakai sampai beberapa tahun ke depan! Hemat dan baik untuk lingkungan.

Satu hal penting yang saya temukan dari menggunakan menstrual cup adalah, it has changed my perspective about period and menstrual blood. Untuk pertama kalinya saya merasa nyaman dan percaya diri di masa period

… ada prekondisi yang harus dipenuhi dalam menggunakan menstrual cup, yaitu akses ke air bersih dan produk hygene.

Di sisi lain, semua produk punya pros dan cons. Menstrual cup is super highly recommended dibandingkan dengan pembalut. Namun menurut pengalaman saya, ada prekondisi yang harus dipenuhi dalam menggunakan menstrual cup, yaitu akses ke air bersih dan produk hygene.

Ada alasan kenapa pembalut biasa begitu populer, bukan hanya karena praktis sekali pakai buang, namun higenis bagi yang tidak punya akses air bersih dan produk hygene. Namun ya memang sayangnya jadi masalah baru, yaitu masalah lingkungan.

Setiap kali saatnya lepas pasang, menstrual cup harus dibersihkan dengan air bersih dan sabun. Setelah periode menstruasi selesai, menstrual cup juga harus direbus supaya steril sebelum disimpan untuk periode berikutnya.

Aspek hygene sangat penting dalam penggunaan menstrual cup, karena it’s something we put inside our reproductive organ. Sayangnya, sanitasi masih merupakan barang mewah khusunya di Indonesia.

So memang kalau mau mengatasi masalah lingkungan, kuncinya adalah manusia yang sejahtera dulu (loh kok jadi SJW)

Eniwei that’s my two cents!

Review: Mustika Ratu Hair Tonic Penyubur Rambut

Mustika Ratu Hair Tonic Penyubur Rambut ini berfungsi layaknya tonik rambut pada umumnya.

Tonik rambut ini menjanjikan menyuburkan rambut agar tidak mudah rontok dan mengurangi gatal-gatal dan ketombe di rambut. Bahan utamanya adalah ekstrak kina dan urang aring yang memang merupakan bahan yang biasa dipakai untuk tonik rambut.

Bisa dibilang produk ini tidak terlalu “spesial” dibandingkan dengan Mustika Ratu Hair Oil Cem Ceman (baca review di sini). Namun demikian, tonik rambut ini saat digunakan dalam rangkaian perawatan rambut memberikan hasil yang diharapkan.
Manfaat utama yang saya perhatikan adalah tonik rambut ini memang sangat membantu mengurangi gatal-gatal di kulit kepala (Saya tidak punya masalah ketombe jadi saya tidak tahu apakah produk ini bermanfaat mengurangi ketombe). Di samping itu, saya juga perhatikan rambut saya jadi lebih cepat tumbuh sejak menggunakan tonik rambut ini. Rangkaian pemakaian minyak cem ceman juga membantu kengurangi rambut rontok.

Seperti halnya Mustika Ratu Hair Oil Cem Ceman, packaging produk ini sangat tidak ergonomis. Packaging tidak membantu untuk dapat mengaplikasikan produk dengan mudah. Saya coba tuang di telapak tangan, dan ketika saya coba gosokkan ke kulit kepala, pasti ada saja yang tumpah. Saya juga pernah coba tuang langsung dari botolnya ke kulit kepala, namun produk yang keluar terlalu banyak dan tidak bisa menyebar dengan baik di kulit kepala.

Untuk mengatasinya, saya tuangkan produk ke botol pipet (saya pakai botol bekas The Ordinary) dan aplikasikan ke rambut dengan pipet ke kulit kepala. Ini dapat menjadi metode mudah untuk aplikasikan tonik rambut, karena dengan pipet saya dapat kendalikan jumlah produk yang diaplikasikan sehingga tidak merembes dan tumpah kemana-mana.

Produk ini paling optimal diaplikasikan setiap habis keramas.

Sama halnya dengan minyak cem ceman, produk ini sudah ada sejak lama dan tersedia di mana-mana, baik di supermarket, atau di toko online mustika ratu dan hampir tidak pernah out of stock. Kalau kamu punya masalah rambut yang sama dengan saya, tidak ada salahnya untuk coba.

Review: Mustika Ratu Hair Oil Cem Ceman

Bagi yang belum pernah mencoba produk rambut ini, mungkin sekarang saatnya untuk mencoba.

Minyak rambut hair oil cem ceman ini adalah produk yang menjanjikan dapat menjaga kilau asli warna rambut dan merawat kekuatan akar rambut agar tidak rontok.

Saya punya masalah rambut mudah rontok, akar berminyak namun ujung rambut cenderung mudah kering dan kusam, jadi produk ini menjanjikan dapat mengatasi sebagian besar masalah rambut saya.

Cara pakai produk ini adalah digosokkan pada kulit kepala dan rambut, setidaknya 1 jam sebelum keramas atau sebelum tidur dan keramas di pagi hari. Setelah saya rutin 2-3 kali dalam seminggu selama 2 minggu berturut-turut, hasilnya mulai terlihat. Rambut rontok saya berkurang drastis dan rambut jadi lebih mudah diatur.

Bahan utama minyak cem ceman, yaitu minyak kelapa, memang diyakini dapat merawat rambut dan mengatasi kerontokan. Di Indonesia, mungkin ini bukan hal baru, karena minyak kepala tersedia di mana-mana dan sudah dikenal sejak lama. Namun, you know what, minyak kelapa ini baru saja jadi hype di dunia barat beberapa tahun terakhir! Ternyata untuk urusan perawatan rambut, kita sudah lebih maju loh hehehe…

Memang dari sisi tekstur produk ini punya banyak kekurangan. Saat dulu pertama kali memakai minyak cem ceman ini, rasa-rasanya kok justru bikin akar rambut makin berminyak, karena tekstur produk ini memang sangat berminyak dan lengket. Namun setelah dibersihkan dengan keramas, kulit kepala saya terasa lebih bersih dan rambut terasa lebih ringan.

Karena teksturnya tersebut, saya lebih suka pakai produk ini satu jam sebelum keramas daripada dibawa semalaman tidur karena akan meninggalkan bekas di bantal.

Selain itu, packaging nya juga tidak ergonomis, setelah dituang ada saja yang akan menetes di sisi bukaannya. Jadi harus ekstra hati-hati dan bikin agak repot tiap pemakaian. Tapi tidak ada ruang untuk complain, 1 botol dengan isi 175 ml seharga Rp 20 ++ ribuan, dengan pemakaian rutin seminggu 2-3 kali pun produk ini awet sampai 6 bulan! Soal harga dan kualitas, produk ini tidak ada yang bisa mengalahkan.

On the plus side, saya juga pakai produk ini untuk melindungi rambut dari air kaporit kolam renang yang bisa merusak rambut. Caranya, sebelum berenang saya gosokkan seperti biasa di kulit kepala dan rambut, kemudian pakai swimming cap. Tekstur minyaknya bisa melindungi dari kontak langsung rambut dengan air kaporit. Namun tentunya tetap harus pakai swimming cap juga utk perlindungan ekstra.

Produk ini sudah ada sejak lama dan tersedia di mana-mana, baik di supermarket, atau di toko online mustika ratu dan hampir tidak pernah out of stock. Kalau kamu punya masalah rambut yang sama dengan saya, tidak ada salahnya untuk coba, kalau tidak cocok juga tidak perlu menyesal karena ini harganya cuma 3% masker rambut Kerastase 😁

Sebagai catatan, minyak rambut cem ceman ini jadi salah satu rangakaian perawatan rambut dengan Mustika Ratu Hair Tonic Penyubur Rambut, yang akan saya review juga dalam artikel terpisah.

Proper review Indonesian beauty brands, please

Blog ini akan saya pakai untuk merekaman perjalanan saya dalam menggunakan merek kecantikan Indonesia.

Buat para cewek, udah gak usah ditanya lagi, perjalanan mencari produk kecantikan terbaik gak pernah berhenti. Yes, we’re so obsessed with beauty products!

Saya sendiri penggila produk kecantikan, sejak kecil. Makeup, skincare, bodycare, haircare… Pada awalnya, semua itu dilakukan demi terlihat cantik. Namun ternyata, nobody cares. Karena kebanyakan cewek sama kayak saya, pengen “dilihat” cantik. It’s myself, not others, gak kepikiran untuk “melihat.” Jadi sekarang saya sadar, obsesi produk kecantikan adalah demi diri sendiri merasa cantik. Tidak perlu “terlihat” yang merupakan afirmasi dari eksternal.

Saya adalah pengguna dan penggemar produk kecantikan Indonesia sejak lama, dan ingin lebih banyak menggunakan produk lokal. Saya percaya bahwa mendukung produk lokal adalah langkah awal untuk menjadi bangsa yang maju.

Banyak produk Indonesia yang sudah ada dan dikenal dari dulu, seperti Mustika Ratu, yang review produknya sudah seperti dongeng folklore: “sudah digunakan turun-temurun dari zaman nenek masih muda, pokoknya bagus tak diragukan lagi.”

Nyatanya produk kecantikan di Indonesia terus berkembang dan banyak yang baru. Dan sebagai generasi kritis, review ala folklore sudah tidak lagi relevan dan memuaskan. Kita butuh proper review: mengapa produk ini bagus, bagaimana cara kerjanya, apa gunanya.

Sebagai penggila produk kecantikan yang ingin menambah beauty haul merek lokal, jujur saya kesulitan menemukan that proper review. Apalagi di era influencer dan paid promotion sekarang, review adalah iklan, iklan adalah review. Hal ini menyulitkan saya untuk memutuskan produk yang mau saya pilih.

Sementara itu, untuk produk asing, review-nya bejibun. Saking bejibunnya, saya hilang fokus dalam memilih produk lokal karena informasi produk asing lebih lengkap, sehingga saya jadi lebih diyakinkan untuk mengeluarkan uang untuk produk asing.

Atas concern ini, saya mau berkomutmen menggunakan platform blog saya untuk memulai catatan review produk merek Indonesia secara proper. Mungkin bukan “proper” dalam konteks yang scientific, apalah saya ini anak ilmu sosial tanggung. Namun paling tidak saya ingin mengupas produk dari merek Indonesia melalui pengalaman saya menggunakannya dengan mencoba menjawab 5W + 1H. Harapannya, catatan saya dapat jadi pool of information yang bermanfaat untuk kamu dalam memutuskan untuk membeli produk Indonesia.

Kenapa harus produk buatan Indonesia?

Ada tiga alasan mendasar mengapa produk buatan Indonesia patut menjadi pilihan:

Pertama, murah. Murah karena tidak ada biaya impor. Kalaupun menggunakan bahan impor, dibuatnya di Indonesia. Murah bukan berarti gak berkualitas. Fyi guys, banyak produk “murah” buatan luar negeri dijual di Indonesia dengan harga selangit. Ngapain dibeli?

Kedua, it does the job dan cocok untuk cuaca tropis. Terdengar seperti tagline produk jadul? Trust me, it’s true. Saya sudah mengalami tinggal di cuaca empat musim. Banyak produk impor dari negara empat musim malah jadi overkill kalau dipakai di cuaca tropis. Ngapain bayar mahal untuk manfaat yang gak dibutuhkan?

Ketiga, mendukung produk lokal adalah investasi kecil membangun kemajuan bangsa kita. Di negara Amerika Utara yang merupakan produsen merek-merek raksasa, gerakan komunitas untuk mendukung produk lokal dengan skala bisnis terbatas sangat kuat, karena dari produk lokal lah lahir inovasi yang tidak dibayangkan sebelumnya.

Saya akan rutin posting berbagai review produk kecantikan Indonesia. Stay tune and I hope you enjoy it! 😊

Membuat Anggaran Kondisi Darurat

Setelah 3 minggu #dirumahaja (gara-gara pandemik virus galak COVID-19 tentunya), mulai terasa rutinitas hidup pun jadi berubah. Mulai dari kebiasaan bangun, tidur, cara kerja, pola makan, sampai pola belanja. Nahh, ngomongin pola belanja atau pola konsumsi, kita bicara tentang pendapatan / penghasilan (income) dan pengularan (expense). Dalam kondisi “luar biasa” seperti saat ini, banyak dari kita yang kehilangan akses untuk bekerja, sehingga kehilangan akses terhadap penghasilan.

Kalau kamu beruntung seperti saya, saya masih terima gaji walaupun #dirumahaja, dengan pengurangan take home pay.
Perubahan ini, sedikit ataupun banyak membuat kita semua berada dalam kondisi tidak biasa, bahkan darurat (emergency), termasuk kondisi darurat keuangan pribadi karena ketidakpastian akses ke penghasilan (income). Pasti sudah sering denger dong para ahli keuangan maupun influencer di luar sana, bahwa kita harus “miliki dana untuk biaya hidup selama 6 bulan untuk jaga-jaga kalau menghadapi kondisi darurat.”

Well, behubung kondisi darurat tersebut sudah bukan di depan mata doang, tapi kita udah “nyebur” ke dalamnya, yang terpenting sekarang adalah gimana caranya supaya bisa tetap berenang, kalau gak bisa berenang, do whatever it takes supaya gak tenggelam dan selamat sampai daratan: SURVIVAL! Saya gak akan bicara tentang berapa banyak dana darurat yang se(harus)nya dimiliki, melainkan gimana caranya, berapapun penghasilan atau dana yang dimiliki saat ini, bisa mengelola pola konsumsi untuk BERTAHAN di dalam kondisi darurat ini (yang sayangnya kita gak tahu sampai kapan, seburuk itu kawan). Intinya anggaran kondisi darurat ini downsize dari anggaran pada kondisi normal. Tujuan dari downsizing adalah untuk memberikan kelonggaran bagi kamu untuk memiliki dana bertahan hidup lebih lama: berhemat untuk kehidupan di masa datang yang masih belum pasti.

Struktur Anggaran
Sebelum membuat anggaran, kita harus ngerti dulu jenis pengeluaran. Ada 2 kategori besar jenis pengeluaran, yaitu pengeluaran rutin dan non-rutin. Saya punya tulisan tentang formula dasar mengelola keuangan rumah tangga di sini. It’s a lengthy read, kalau punya waktu baca silakan, namun saya akan coba sederhanakan dan membuat lebih spesifik pada tulisan ini, dan sebagian besar adalah pengalaman pribadi.

Dalam kondisi darurat seperti saat ini, mari kota fokus di jenis pengeluaran rutin saja. Kita singkirkan dulu pengeluaran non-rutin, kecuali sangat mendesak. Toh, di saat ini yang terpenting adalah keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Pengeluaran rutin terbagi dalam 3 jenis dasar, yaitu kebutuhan primer, sekunder, dan tersier (berasa pelajaran SMP ya). Kebutuhan primer adalah yang esensial, yaitu makan, minum, listrik, transportasi. Kebutuhan sekunder adalah yang kontekstual: bisa menjadi esensial dalam suatu situasi, bisa juga menjadi non-esensial dalam situasi lainnya, yaitu pakaian, sepatu, telepon, koneksi internet (contoh: pakaian olahraga merupakan kebutuhan untuk berolahraga, namun kamu masih bisa berolahraga dengan baju lain). Kebutuhan tersier adalah non-essensial, yaitu luxury goods, benda seni, dan yang bersifat hiburan seperti langganan musik, program TV, games, atau bahkan a fancy cup of coffee!

Ilustrasi struktur anggaran

Pengelompokkan ini menjadi formula dalam memahami struktur anggaran. Struktur anggaran menjadi guideline untuk menyusun anggaran.

Menyusun Anggaran Kondisi Darurat
Sebelum membuat anggaran kondisi darurat, kita harus tau dulu apa saja pengeluaran rutin saat kondisi normal. Sudah punya? Very good. Belum punya? Well, sekarang saatnya mengingat-ingat dan menuliskan daftar pengeluaran rutin.

Setelah punya daftar pengeliaran rutin, masukkan ke dalam 3 kelompok 3 kebutuhan: primer, sekunder, atau tersier. Setelah dikategorikan, saatnya mengevaluasi kebutuhan tersebut dan mempertimbangkan ulang kebutuhan masing-masing, dimulai dari yang kelompok yang non-esensial, yaitu dari tersier, sekunder, kemudian terakhir adalah primer.

Berikut breakdown setiap komponen

1. Kebutuhan Tersier
Pada prinsipnya, dalam kondisi darurat kita bisa pangkas habis kebutuhan tersier, karena, well, it’s non-essential.

Kalau bisa bikin roti sendiri, ngapain beli roti dari toko yang harganya bisa 4 – 5 kali lipat dari harga bahan dasar.

Ngapain langganan Netflix? Gak ada nilai yang menambah produktivitas, yang ada bikin tambah males ngapa-ngapain.

Hari gini beli tas branded? Kapan dipakenya?

But let’s be fair. Terkurung di rumah, tidak bisa bersosialisasi, bisa bikin stress. You need to do something that can keep your sanity, walaupun tidak produktif. Jadi, kalau kebutuhan tersier bisa membantu kamu menjaga kewarasan, gak ada salahnya tetap dikonsumsi. Namun, buat skala prioritas, dan pilih yang paling membawa manfaat. Misalnya, saya butuk tetap berlangganan Youtube premium supaya bisa mengakses berbagai konten tanpa iklan, khususnya untuk anak saya. Saya rela deh gak sering-sering take out jajan martabak manis atau Ref Velvet Cake dari restoran. Atau, bisa saja korbankan langganan hiburan elektronik (Netflix, Apple Music) supaya bisa sering jajan makanan jadi / take outs daripada stress harus mikirin masak sehari 3 kali. Make your choice.

Tapi plis, plissss banget, bukan milih menutup langganan hiburan elektronik, terus jadi beralih ke layanan ilegal ya gaessss.

Saya bikin cookies dan kopi sendiri di rumah. Harga bahan-bahan untuk membuatnya paling mahal Rp15,000 (dengan bahan premium). Kalau ke Cafe minimal Rp40,000

2. Kebutuhan Sekunder
Menjelaskan kebutuhan sekunder ini agak rumit. It really depends on your personal needs.

Saya ambil contoh langganan internet. Internet ini bisa dibilang kebutuhan sekunder, tapi bisa jadi primer, tergantung kebutuhan. Buat yang sedang Work From Home, koneksi internet ini bisa jadi kebutuhan primer, esensial untuk mendukung produktivitas, modal cari uang. Namun, kalau internet dipakai untuk mainan medsos dan hiburan doang, internet jadi kebutuhan sekunder: semi-esensial.

Langganan internet ini harganya bervariasi, makin mahal kecepatannya makin baik. Nah, kebutuhanmu yang mana? Kalau untuk aktivitas yanh tidak produktif, ngapain bayar mahal untuk langganan kecepatan tinggi? Bisa tetap langganan, tapi pilih fasilitas yang lebih terbatas selama tujuan untuk menghibur diri tetap bisa dilakukan, tanpa bayar tagihan mahal.

Penyedia jasa langganan internet punya beragam jenis paket dengan range harga beragam. (Sumber: cbn.id) – no endorse

Contoh lain: gak perlu beli baju olahraga dulu kalau kamu bisa berolahraga pakai kaos biasa yang ada di rumah.

Intinya, pengeluaran kebutuhan sekunder dalam kondisi darurat bisa saja dihapus, namun kalau sulit, dapat dikurangi dengan menurunkan kualitas konsumsi. Lagi-lagi, you choose what to keep.

3. Kebutuhan Primer
Sebetulnya kebutuhan primer alias esensial tidak ada yang bisa dipotong. You have to maintain it, and don’t cut it. Iya, sepenting itu.

Namun ada yang menarik dari pola pengeluaran kebutuhan primer di saat seperti ini. Berdasarkan pengalaman selama 3 minggu terakhir, saya menemukan pengeluaran untuk kebutuhan primer mengalami pergeseran komposisi, cenderung bertambah. Di satu sisi, saya memotong biaya transportasi secara signifikan karena tidak keluar rumah. Di sisi lain, tagihan listrik dan air meningkat karena kami sekeluarga tinggal di rumah 24/7, groceries meningkat karena kami sekeluarga makan 3 kali sehari di rumah dan tidak mengakses fasilitas publik yang tersedia kalau kami keluar rumah, seperti air minum, tisu toilet, sabun cuci tangan.

Kalau mau tahu detil besaran peningkatan pengeluaran dengan pergeseran rutinitas #dirumahaja, saya sudah tulis beberapa hari yang lalu di artikel Work From Home: Lebih Hematkah?

Intinya, kebutuhan primer bisa bergeser, namun tidak bisa dikurangi, bahkan antisipasi ditambah. Singkat kata, membuat anggaran kondisi darurat adalah mempertahankan agar kebutuhan primer terpenuhi sambil mengurangi / memangkas kebutuhan sekunder dan tersier.

Ilustrasi anggaran sebelum (pre-emergency) dan saat kondisi darurat (emergency). Ini cuma ilustrasi yah. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda dengan besaran anggaran per item yang berbeda.

Udah selesai?

Not quite. Ada 2 hal lagi yang belum masuk ke dalam anggaran di atas, yaitu (1) hutang / cicilan dan (2) sedekah.

Hutang / cicilan, entah itu kartu kredit, KPR, upayakan agar tetap dipenuhi. Plis jangan ngemplang, selama masih punya uang tunai. Kalau sampai tidak sanggup bayar atau kehabisan uang tunai, hubungi pemberi hutang dan jelaskan duduk persoalannya. Who knows mereka punya solusi.

Kalau kamu seberuntung saya yang masih memiliki gaji (dan sudah mengamankan dana darurat), tidak ada salahnya juga bersedekah kepada lingkungan sekitar kita. Kondisi darurat ini adalah masa sulit secara ekonomi bagi banyak orang. We have a social responsibility to protect our neighbourhood, baik itu untuk para pedagang kecil, abang ojol / taksi, atau mendukung bisnis lokal / UMKM yang terkena imbas kondisi darurat. Masukkan ke dalam anggaran rutin, sehingga kamu punya kendali atas besaran dana yang dapat dihabiskan untuk bersedekah. Jangan sampai kamu punya empati segede langit, bagi-bagi sedekah, tau-tau dana tunaimu habis dan kamu jadi gak bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kalau gak punya anggaran untuk sedekah, tidak apa-apa. Yang terpenting dari bersedekah adalah, help yourself before you help others.

Semoga penjelasan di atas bisa kasih sedikit panduan umum cara membuat dan mengelola anggaran kondisi darurat, and hopefully, ketika kondisi sudah normal suatu hari nanti, panduan ini bisa jadi pegangan untuk semakin disiplin dalam mengelola keuangan.

Jakarta, 11 April 2020