Bijak Menetapkan Limit Kartu Kredit!

Tahun 2019 baru berjalan 4 bulan, sudah 3 kali pula saya terima surat cinta dari bank. Isi surat intinya bilang kalau saya dapat kenaikan batas jumlah penggunaan kartu kredit.

Ini keenam kalinya saya dapat surat yang sama selama 2 tahun di Kanada. Selama ini surat macam itu gak pernah saya gubris: saya gak mau naikin batas penggunaan kartu kredit saya.

Tapi gimana perasaan saya?

Yang pasti 6 kali baca surat serupa, 6 kali saya senyum-senyum sendiri. Bangga banget coyyy!! Apalagi suratnya selalu dimulai dengan “As our valued costumer…”, saya berasa berharga dan dibutuhkan. Terlebih lagi, tawaran kenaikan batas penggunaan kartu kredit memberikan impresi bahwa saya dianggap “mampu” untuk memiliki penghasilan besar. Bisa banget dah ini bank!

Untuk keempat kalinya, saya gak gubris surat tersebut. Saya gak mau menaikkan batas pemakaian. Toh selama ini pemakaian saya rata-rata di bawah batas.

Ok cukup dulu riya dan sombongnya. Apakah saya berpikir tawaran kenaikan batas pemakaian kartu kredit itu benar-benar karena saya adalah “valued costumer”?

Bagi saya, “valued costumer” adalah istilah lain dari “source of money.”

This is what I think about it. Bank ingin menaikkan batas pemakaian kartu kredit saya karena mereka ingin saya gak mampu bayar!

Sekarang gini. Saya ini tipe nasabah yang sudah ngeruk keuntungan sebesar-besarnya dari fasilitas kartu kredit (baca: Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit). Sementara bank kan cari untung dari bunga cicilan dan biaya tahunan (yang gak pernah saya lakukan dengan trik). Terus bank dapet untung dari mana dong.

Di satu sisi, bank aman punya nasabah kayak saya, yang disiplin gak pernah kredit macet, tapi sekaligus rugi karena gak dapet “persenan” dari saya.

Menawarkan penambahan batas pemakaian itu satu jalan untuk nyari untung dari saya. Kalau saya dapat kenaikan batas, saya jadi merasa punya kapasitas belanja lebih banyak dengan hutang, sehingga saya jadi belanja lebih banyak, sampai belanja saya melebihi penghasilan bulanan saya, sehingga ketika tagihan datang, saya gak bisa bayar semuanya sekaligus. Kalau saya gak bisa bayar sekaligus, artinya sebagian lagi saya bayar bulan berikutnya, plus dengan tagihan baru. Artinya, saya jadi harus bayar bunga.

This is exactly their plot!

Kalau siklusnya berulang, maka saya akan terus bayar cicilan + bunga untuk membayar tagihan yang tidak mampu saya bayar di bulan sebelumnya.

Mereka pun dapat untung.

Kesimpulannya, jangan kesengsem dulu kalau ditawari kenaikan batas pemakaian, karena bisa jadi bank sedang berusaha cari untung dengan bikin kamu susah.

Canada 101: Kenalan Dulu Yuk!

Sekali-kali boleh ya cerita tentang negara tempat saya bermukim saat ini: Kanada!

Saya belum pernah terang-terangan berbagi cerita tentang hidup di Kanada. Setelah sekitar 2 tahun tinggal di sini, it’s safe to say I can share my views about living in this country.

Sedikit latar belakang, Kanada tuh geudueee banget, jarak ujung barat di timur sama dengan Sabang sampai Merauke. Jadi mungkin pengalaman tiap orang akan berbeda tergantung tinggal di daerah / Provinsi mana. Sama lah kayak di Indonesia.

Saya tinggal di Ottawa, ibukota Kanada. Kotanya kecil, adem ayem, tapi boleh dibilang bisa merepresentasikan Canadian experience ……. not really! Tapi setidaknya sebagai ibukota, Ottawa merepresentasikan bilingualism Kanada: English-speaking dan French-speaking.

Sejujurnya, seumur hidup gak pernah kepikiran bisa tinggal di Kanada. Ketika mengetahui kami sekeluarga akan pindah ke Kanada, saya hampir gak punya pengetahuan apapun tentang Kanada. Obsesi saya dari kecil adalah lihat Eropa (udah kesampean juga sih).

Saya yakin banyak orang Indonesia yang sama nge-blank-nya kaya saya tentang Kanada (selain sebagai tempat lahir Justin Bieber mungkin). It’s a North American country, but we mostly know North America to be the US, don’t we?

Jadi di tulisan ini saya mau memberikan sedikit gambaran tentang Kanada, berdasarkan pengalaman saya tinggal di Ottawa. Yang pasti saya gak cerita tentang hal-hal yang berat dan substansi (macam GDP kek, demografi, Kanada anggota G7 kek, atau Kanada lagi punya Perdana Menteri seganteng Disney Prince). Saya lagi malas nulis yang berat-berat, jadi saya akan mulai dengan berbagi hal-hal yang jadi stereotype dalam konteks keseharian ala Kanada.

(Kalau suka nonton sitcom Brooklyn Nine-Nine, they actually make some jokes around Ottawa and Canada and it couldn’t be funnier if you don’t know Canada.)

1. Orang Kanada suka banget ngeluh soal cuaca, and it’s real!

Kalau pernah punya kenalan orang Kanada, dijamin pasti pernah diajak ngobrol tentang cuaca! Ngomongin cuaca adalah jurus ampuh orang Kanada buat ngobrol basa-basi dan beramah tamah. Buat orang Kanada atau siapapun yang pernah merasakan tinggal di Kanada, ada segudang hal yang bisa dibahas dari topik cuaca.

Kenapa harus bahas cuaca? Karena di Kanada, ada segudang alasan untuk mengeluhkan cuaca. Dengan letak Kanada yang ada di utara deket-deket sama kutub, cuaca memang aneh alias ekstrim.

Di Ottawa, rata-rata suhu minus dan/atau turun salju dalam setahun adalah 5 bulan, dan tentu 5 bulan tersebut penuh dengan drama: badai salju, frostbite dengan suhu -20 sampai -40, black ice, salju menggunung, dan lain-lain yang tentunya bisa jadi topik ngobrol berkepanjangan.

Major’s Hill Park Ottawa
Ketika semua nampak kering dan membeku *duilehh – Major’s Hill Park, Ottawa

Tapi begitu lewat musim dingin, yaitu 7 bulan lainnya dalam setahun, juga begitu banyak hal yang yang dapat dibahas tentang indahnya pemandangan dan cuaca. Saat musim semi dan panas, banyak bunga-bunga, sejuk, mataharinya cerah, bahkan kadang kepanasan sampai 40 derajat. Di musim semi, cuaca juga sejuk dan pemandangannya super indah dengan gradasi warna daun-daun mulai dari merah, kuning, hijau, dan coklat, yang pastinya jadi topik ngobrol.

Jadi ya wajar kalau kami suka sekali membahas cuaca, karena walaupun 4 musim, variasinya rame banget.

2. “Apa Kabar?”

Masih inget pelajaran Bahasa Inggris dasar kalau pertama kali kenalan sama orang buka percakapan dengan “Hi, my name is Nadia. How do you do?”

Well, ekspresi seperti itu ternyata gak berlaku di percakapan dunia nyata para English speaker, apalagi di Kanada!

Orang Kanada demen banget nanyain kabar, ke siapapun, bahkan ke orang yang baru dikenal atau sekedar basa-basi misalnya sama kasir saat lagi bayar belanjaan. Jadi, adab membuka percakapan dengan SIAPAPUN, mau itu orang asing, kolega, penjaga toko, percakapan telepon, adalah begini:

A: “Hi. How are you?”

B: “I’m good /doing well. Thanks. How are you?”

A: “I’m good /doing well. Thanks. … (lanjut dengan topik percakapan)”

Dan pembuka inilah yang membawa kamu ngobrolin cuaca, basa-basi, sampai yang serius.

3. Jangan kaget kalau ada orang nimbrung ngajak ngobrol di tempat umum

Orang Kanada secara umum pengguna fasilitas umum yang baik. Mereka sopan di jalanan. Apalagi buat saya yang punya anak kecil. Kalau naik bis, sudah pasti lah mereka akan mengosongkan tempat duduk paling depan untuk orang-orang kategori khusus, termasuk ibu yang bawa anak kecil, karena memang ada aturan demikian. Tapi dalam keseharian pun tanpa ada aturan they know how to put others first. Tidak jarang saya dibantu oleh orang lewat ketika saya lagi riweuh bawa barang sambil megang anak.

Tapi yang lucu dan menarik adalah, mereka juga seringkali tidak sungkan untuk nimbrung dalam percakapan atau bahkan bertanya hal-hal random. Kalau saya dan suami lagi tampak bingung cari jalan, tidak jarang akan ada yang nyamperin dan kasih tahu harus kemana, padahal kita gak nanya. Tidak jarang juga saya diajak ngobrol di bis cuma gara-gara anak saya pakai mitten (sarung tangan) berbentuk penguin. Mereka tidak sungkan komentar “itu mitten-nya lucu banget, pantesan anak kamu suka” atau “itu mitten beli di mana, saya mau beli yang kayak gitu buat ponakan saya.”

Bahkan pernah satu ketika saat saya mau keluar dari tempat makan siang di restoran, satu waitress ngejar-ngejar saya, kirain ada barang ketinggalan, eh ternyata cuma mau tanya “suka banget sama coat kamu, boleh tau itu mereknya apa?”

Yaa gitu deh.

4. Punya warung kopi kebanggaan namanya Tim Hortons

Warung Kopi Tim Hortons (photo credit: Ottawa Citizen)

Kalau Amerika punya jaringan warung kopi Starbucks, Kanada punya Tim Hortons! Tim Hortons ini mulanya warung kopi buat para supir bis lintas provinsi yang lagi transit (ya macam warung kopi di pantura gitu gaes), terus sekarang jadi gede bangat ada hampir di setiap sudut kota. Harga per cangkir kopinya jauh lebih murah dibandingkan dengan Starbucks: untuk kopi hitam dihargai sekitar $1.5 dibandingkan dengan Starbucks yang hampir $4 per cangkir.

Tapiiii, saya sih beli kopi di Tim Hortons hanya kalau bener-bener kepepet: kalau gak ada opsi warung kopi lain di sekitar. Kenapa? Jujur kopinya rasa abal-abal. It’s practically a regular drip coffee. Terus udah gitu disiram pake gula sebanyak-banyaknya. Not my type of cup of coffee definitely. Walaupun saya gak suka Starbucks, saya masih lebih milih Starbucks yang jualan espresso-based coffee.

I think they just have a bad taste for coffee.

5. Punya makanan khas kebanggaan namanya Poutine

Classic Poutine (photo credit OttawaTourism)

Poutine (dibaca /po͞oˈtēn/) adalah semacam jajanan pinggir jalan kesukaan (mungkin) semua Canadians. Mungkin kalau di Indonesia seperti jajanan gorengan abang-abang kebanggaan kita semua gitu dehh. Poutine adalah kentang goreng tabur cheese curd dan saos gravy (saya gak tau saos gravy terbuat dari apa, sama kayak gak tau saos oranye abang-abang mie ayam terbuat dari apa). Rasanya seperti apa? Ya kayak kentang goreng tabur cheese curd dan saos gravy *minta digaplok

Enak? Lumayan. Jajanan rakyat lah. Beberapa tempat jualan poutine take it to next level dengan ngasih toppings tambahan macam daging, ayam, jamur, dan lain-lain.

Tapi poutine akan selalu terbuat dari kentang goreng tabur cheese curd dan saos gravy.

6. Obsesi hockey bisa bikin gontok-gontokan

Hockey: sport game kesukaan Kanada

Untuk yang satu ini, saya gak terlalu ngerti, dan jujur saya belum punya ketertarikan nonton hockey. Tapi saya rasa saya perlu tulis di sini karena hockey is very imporant for Canadians. The moment they get into hockey stuff, tiba-tiba semua keramahan mereka bisa hilang dan berganti dengan kompetisi sampai cela-celaan bahkan gontok-gontokan. Mungkin kayak fans fanatik Persib hehehe.

7. Taking punctuality to the next level

Satu hal yang paling saya suka dari warga Kanada adalah punctuality. On time banget bahkan dalam beberapa kesempatan, mereka bisa memulai sebuah kegiatan / pertemuan 5 menit SEBELUM jadwal yang ditentukan.

Mereka cukup berhati-hati dalam membuat janji. Dalam banyak kesempatan, ketika dimintai deadline, misalnya saya pesan suatu barang, mereka akan bilang barang akan siap dalam 5 hari, namun pada prakteknya barang sudah siap 3 hari kemudian.

Semoga tulisan ini bisa membuka perkenalan dengan negeri nun jauh di sini. It’s time to put Canada on your map. Kenapa? Kalau bicara yang lebih substantif, sebetulnya Kanada ini terdepan dalam banyak hal, khususnya dalam menciptakan inovasi teknologi bagi kemajuam dunia dan keterbukaan terhadap multikulturalisme. Semoga suatu hari nanti kalau saya gak malas saya akan tulis tentang hal tersebut *grin*

THE Ultimate Cilok Bandung!

Oke. Eksperimen jajanan Bandung masih jalan terus. Saya ini fans berat jajanan Bandung, apalagi yang minim gizi macam gorengan, cilok, cimol, yang ditabur pake bubuk taburan yang gak jelas asalnya.

Kali ini saya baru saja menaklukkan resep CILOK Bandung, pake isian jando, alias lemak daging, yang bakal bucat (=pecah) saat digigit.

Semoga resep ini bisa menginspirasi untuk coba buat homemade cilok, yang tentu bahan-bahannya lebih bisa ditakar dan (semoga) lebih sehat dibandingkan jajanan abang-abang. (PS: anak balita bisa ikut icip juga, sekalian kenalan sama jajan favorit emak).

Langung ke resep:

Untuk +/- 50 buah cilok

Bahan-bahan:

    250 gram tepung tapioka
    250 gram tepung terigu
    3 siung bawang daun, iris tipis
    2 siung bawang putih, haluskan
    Air mendidih
    50 gram lemak daging, potong kecil-kecil

Bumbu:

  • Bumbu kacang siap saji
  • Boncabe

Cara membuat:

  1. Campur tepung tapioka, tepung terigu, bawang daun, dan bawang putih. Aduk merata.
  2. Masukkan air mendidih sedikit demi sedikit sambil diaduk. Apabila adonan mulai terlihat seperti gumpalan besar, uleni dengan tangan. Tambahkan air mendidih dan uleni terus hingga adonan menjadi ulen.
  3. Ambil sejumput adonan, pipihkan, kemudian letakkan lemak daging di tengah. Lipat dan bentuk aduk menjadi bulat. Ulangi hingga adonan habis.
  4. Tuang adonan yang telah dibentuk ke dalam panci berisikan air mendidih. Masak selama 15 menit sampai cilok matang, kemudian tiriskan.
  5. Hidangkan cilok dengan bumbu kacang atau taburan boncabe, atau bumbu lainnya sesuai selera.

UnPackaging: Shampoo and Soap Bar

Hidup di Kanada membuat saya empet sama yang namanya sampah. 
Lho, bukannya Kanada itu negara yang bersih ya?
Iya. Iya. Tapi percayalah, negara maju macam Kanada ini justru menyumbang sampah yang gedeeee banget buat bumi. Saya tidak punya angka pastinya. Saya cuma merasakan dalam keseharian beraktifitas, khususnya berkaitan dengan belanja rumah tangga.
Mereka sangat suka dengan kemasan sekali pakai. Seperti kalau lagi acara kumpul-kumpul, pasti akan lebih memilih alat makan plastik dan sterefoam. Packaging bahan groceries seperti buah dan sayur pre-cut dan pre-washed juga bikin banyak sampah. 
Masih mending orang Indonesia yang punya pilihan packaging makanan daun pisang atau kertas daur ulang yang tidak menghabiskan ruang tempat sampah.
Karena itu saya jadi mulai memikirkan pola berbelanja yang less garbage: tidak banyak menghasilkan sampah. Jujur saja, saya masih ketergantungan dengan produk groceries pre-cut dan pre-washed yang menyumbang sampah packaging, jadi saya coba mulai dengan produk perawatan wajah dan tubuh.
Sejak 2 tahun terakhir, saya menggunakan sabun mandi batangan. Selain harganya yang super murah, saya tidak dibebani dengan sampah botol. Saya ingat, untuk kebutuhan sekeluarga, saya bisa beli sabun cair 1 botol dalam sebulan (sekitar 200 ml). Saya coba leboh hemat dengan beli ukuran 400 ml untuk 2 bulan. Dari sisi harga lebih murah, namun saya menyumbang sampah 1 botol besar tiap 2 bulan sekali.
Semenjak saya ganti sabun batangan, selain harganya jauh lebih murah ($7 untuk 8 batang), saya hanya membuang 1 lembar kertas setiap bulannya. Setidaknya itu membuat saya tidak terlalu merasa bersalah karena ukuran sampah (dan materialnya) tidak seberat botol sabun cair.
Atas dasar itulah saya mencoba produk shampoo batangan. Sayang, produk ini belum banyak pemain pasarnya, sehingga harga di pasaran mahal (saya pakai Lush, $13 per batang, untuk 2 bulan). Walaupun demikian, saya senang tidak lagi menyumbang sampah botol shampoo (dan conditioner) setiap 2 bulan sekali. Bahkan karena Lush menjual tanpa packaging, saya tidak membuang sampah sama sekali (kecuali struk belanjanya mungkin lol).
Saya berharap akan lebih banyak pemain pasar untuk produk shampoo batangan supaya harganya bisa lebih bersaing. Kenapa produk ramah lingkungan justru lebih banyak merogoh isi kocek?
Di satu satu sisi, packaging membantu dalam mengorganisir barang dan belanjaan. Di sisi lain, packaging ini seringkali berakhir ke tempat sampah, jadi sampah, dan bikin empet.

Menghitung Biaya Kepemilikan Gadget

Minggu lalu ketika lagi jalan-jalan di mall, saya melewati gerai Apple (siapa sih yang gak tau Apple). Saya pun berhenti sejenak untuk melihat poster yang terpasang di depan pintu masuk. Poster tersebut memuat promosi Apple tentang “trade-ins”: tukar tambah produk Apple. Yang lebih menarik lagi, trade-ins tersebut tidak berlaku hanya untuk tukar tambah produk, tapi juga gift card bahkan uang tunai!

Gadget yang saya miliki semuanya memang merek Apple, bahkan smartphone yang saya pegang saat ini merupakan smartphone Apple kedua saya (yang pertama adalah iPhone 4S yang sudah tidak layak pakai tapi masih berfungsi jadi mainan anak saya). Beberapa gadget Apple saya sudah outdated alias jadul banget, jadi saya pikir boleh juga trade-ins dengan seri terbaru, atau paling tidak saya numpang “membuang” gadget Apple yang lama sambil ngarep dapat sedikit uang untuk modal beli baru.

Saya langsung semangat untuk mempelajari promo tersebut. Karena anak sudah ngantuk minta pulang, saya tidak berkesempatan untuk masuk gerai untuk bertanya. Tapi tidak masalah, saya bisa cek website.

Sampai di rumah saya langsung buka website Apple. Rupanya informasi sudah ada lengkap ada di sana, bahkan tersedia aplikasi kalkulator untuk menghitung nilai gadget saya!

Sayapun langsung coba ikuti petunjuk kalkulator tersebut, dengan memasukkan informasi tentang salah satu gadget tertua saya, yaitu Macbook Air edisi akhir 2010. Kemudian saya diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan berkisar tentang kondisi fisik dan performance gadget saya. Alhamdulillah MacBook Air saya masih dalam kondisi baik sehingga semua jawaban saya tidak mengindikasikan ada kerusakan.

Setelah menjawab semua pertanyaan, muncul nilai estimasi MacBook saya dalam nilai Canadian Dolar, yaitu $126 atau sekitar Rp1,4 juta.

Jujur agak nyesek. Saya beli laptop tersebut pada awal 2011 dengan harga Rp13,5 juta, hanya untuk mendapati nilainya sekarang tinggal 10% dari harga beli. Tapi ya laptop saya tersebut sangat awet, bertahan selama 8 tahun dan kondisinya masih baik!

Saya jadi berpikir, sebenarnya berapa sih biaya memiliki sebuah, bahkan beberapa, gadget? Hari gini siapa sih yang gak punya gadget. Generasi modern macam kita pasti setidaknya punya satu smartphone dan satu laptop. Kalau tajiran dikit, punya Tab dan smart watch juga untuk melengkapi gaya hidup hightech. Tapi pernahkah kita menghitung biaya memilikinya?

Kita hitung yuk. Long story short, saya iseng hitung semua harga gadget Apple saya melalui kalkulator tersebut. iPhone 4S yang saya beli pada pertengahan tahun 2013 dihargai $0 dari harga beli sekitar Rp7 juta, iPad mini 2 yang saya beli di awal tahun 2014 dihargai $0 (juga) dari harga beli sekitar Rp5 juta karena layarnya sudah pecah. iPhone 7 dibeli pada awal 2017 dihargai $226 dari harga retail mungkin sekitar $1,200.

Saya coba menghitung biaya kepemilikan per tahun.

Laptop MacBook Air:

Pemakaian 2011 – 2019: 8 tahun

Harga jual: $126 / Rp1,4 juta

Harga beli: Rp13,5 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp13,5 juta – Rp1,4juta) / 8 tahun = Rp1,51 juta

Smartphone iPhone 4s

Pemakaian 2013 – 2017: 4 tahun

Harga jual: $0

Harga beli: Rp7 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp7juta – Rp0) / 4 tahun = Rp1,71 juta

Tab iPad mini 2

Pemakaian 2014 – 2019: 5 tahun

Harga jual: $0

Harga beli: Rp5 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp5juta – Rp0) / 5 tahun = Rp1 juta

Smartphone iPhone 7

Pemakaian 2017 – 2019: 2 tahun

Harga jual: $226

Harga beli: $1,200

Nilai kepemilikan per tahun:

($1,200 – Rp226) / 2 tahun = $487 atau sekitar Rp5,2 juta

Dari perhitungan di atas, rata-rata biaya kepemilikan per unit gadget adalah di kisaran Rp1,5 jutaan (kecuali iPhone 7 yang tembus Rp5 jutaan). Artinya, saya mengeluarkan biaya sekitar Rp1,5 juta per tahun untuk memiliki sebuah gadget. Semakin banyak gadget yang dimiliki, maka biaya yang dikeluarkan pun makin besar. Pada kasus saya, dengan rata-rata 3 gadget yang saya miliki bersamaan, saya menghabiskan Rp4,5 juta per tahunnya hanya untuk memiliki!

Tapi gadget itu kan untuk produktivitas dan utilitas.

Betul! Jika gadget digunakan untuk menunjang pekerjaan, memperluas jejaring, mengakses ilmu pengetahuan, dan kegiatan produktif lainnya, ada nilai dari mengeluarkan biaya Rp1,5 juta per tahun per unit.

Lha kalau punya 2? 3? 4? Ya silakan jumlahkan sendiri.

Bisya rata-rata Rp1,5 juta itu dalam kondisi kepemilikan gadget selama kurun waktu 4 tahun ke atas ya. Lha kalau sering gonta-ganti? Berdasarkan hasil hitung-hitungan di atas, satu gadget yaitu iPhone 7 memiliki usia paling muda (2 tahun) dan memiliki biaya kepemilikan tahunan yang paling tinggi (Rp 5,4 juta). Artinya, kalau saya jual sekarang, saya menanggung biaya kepemilikan hanya dengan faktor pembagi yang kecil, yaitu 2, sehingga menghasilkan nilai rupiah tahunan besar. Artinya, semakin usianya muda, nilai rata-rata tahunannya makin besar. Artinya lagi, semakin sering gonta-ganti gadget, biaya kepemilikan akan semakin tinggi.

Jadi apa yang bisa dipetik dari ilustrasi ini?

Memiliki gadget itu ada biayanya. Di sisi lain, memiliki gadget ada utilitas alias manfaatnya bagi produktivitas. Untuk itu, sebelum memutuskan untuk memiliki suatu gadget, setidaknya ada 3 hal yang harus dipertimbangkan, yaitu (1) berapa lama kamu berencana mau miliki gadget ini (2) berapa biaya tahunan yang mau ditanggung, mengingat nilainya untuk produktivitas kamu? (3) gadget apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang produktivitas? Semoga dengan menjawab pertanyaan ini kamu bisa membuat keputusan yang paling optimal bagi rasio antara biaya dan manfaat kepemilikan sebuah gadget.