Declutter: Obsesi Produk Skincare dan Makeup Multifungsi

Semakin berumur semakin saya menyadari saya gak suka ribet. Dulu punya obsesi kalau sudah punya uang pengen borong produk makeup dan perawatan kulit apapun yang ada di luar sana.

Biar cantik terus, katanya begitu.

Nyatanya saya jengah sendiri dengan bejibunnya produk yang tersedia. Pertama, saya harus investasi waktu untuk melakukan keseluruhan rezimnya. Capek dan malas, saya lebih suka bengong selonjoran di kasur. Kedua, rasanya kok saya jadi cluttering, numpuk / menjejerkan banyak banget kemasan. Bikin sumpek meja rias.

Dari situlah saya mulai investasi waktu untuk mencari produk multifungsi: 1 kemasan, 1 pemakaian, bisa memberikan beberapa fungsi sekaligus.

Long story short, dengan beberapa hit and miss, saya menemukan produk multifungsi yang cocok dan akan saya gunakan terus selama produk tersebut bisa diakses.

Ngapain sih saya berbagi cerita beginian? Mungkin saja ada yang seperti saya sudah kesal dengan produk makeup dan skincare yang bejibun dan sedang mencari cara untuk mengatasi kekesalan tersebut. Kalau solusi saya ya beralih ke produk multifungsi.

Disclaimer: banyak di antara produk ini masuk kategori high end brand dengan harga lumayan bikin sedih. Tapi saya akan coba kasih alternatif produk sejenis dengan fungsi yang mirip.

1. Leonor Greyl Huile Secret de Beaute

Awal kenalan saya beauty oil adalah saat dapet free trial Josie Maran Argan Oil dari Sephora, yang klaimnya bisa dipakai untuk wajah, badan, dan rambut. Lumayan trial 2 minggu, saya pakai untuk wajah tiap pagi dan malam sebagai pengganti pelembab wajah, sambil sekalian digosok ke tangan/kuku dan rambut. Tokcer banget mengatasi kulit kekeringan akibat musim dingin Kanada yang ganas, plus bikin rambut lebih lembut.

Tapi begitu mau upgrade beli full size lihat harganya, duh mau nangis. Mahalnya gak ketulungan, 120ml seharga C$124. Bagus sih, tapi saya cari yang lain aja deh.

Surfing di google, sampailah saya pada Leonor Greyl Huile Secret de Beaute ini. Katanya sih produk perawatan rambut, tapi klaimnya bisa dipakai untuk badan dan wajah juga. Katanya juga, go-to must-haves nya Parisien. Harga mendingan daripada Josie Maran, yaitu C$85 dapet 100ml. Jadi saya putuskan untuk coba.

It works like magic. Satu produk, saya dapat manfaat pelembab wajah, krim tangan / badan, dan perawatan rambut. Plus, wanginya enak banget bikin merasa cantik.

Memang harganya masih agak tinggi. Untuk alternatif, The Body Shop punya Beauty Oil dengan klaim serupa dan harga lebih murah. Ada juga Marula Oil keluaran The Ordinary yang saya juga sudah coba dan beneran bagus buat wajah maupun kulit dan rambut.

The Ordinary Marula Oil
The Ordinary Cold-Pressed Virgin Marula Oil

2. Laura Mercier Tinted Moisturizer

Mungkin Laura Mercier Tinted Moisturizer ini adalah produk multifungsi pertama yang saya pakai. Berawal dari rasa jengah harus melapis-lapis produk wajah, mulai dari pelembab, foundation, bedak tabur. Selain menghabiskan waktu, wajah juga jadi terasa lengket karena terlalu banyak yang dioles.

Saya lebih suka dengan produk yang terasa ringan di wajah, walaupun tidak bisa nutupin jerawat dan bekas jerawat saya yang bejibun. Yang terpenting buat saya adalah fungsi melembabkan dan meratakan warna kulit.

Saya menemukan yang paling cocok adalah Laura Mercier Tinted Moisturizer. Produk ini memberikan 2 manfaat, yaitu pelembab wajah dan foundation, namun serasa tidak memakai apapun di wajah. Harganya lumayan, C$56 untuk 50ml, satu botol bertahan 5 bulan.

BB dan CC cream sebetulnya dapat memberikan fungsi serupa. Saya juga pernah pakai, dan sama multifungsi, namun saya merasa tidak ada yang seringan ini. Beberapa produk alternatif dengan harga lebih murah, bisa coba produk BB atau CC cream dari brand lower end, seperti Bourjois (my fave), L’oreal, atau Maybelline.

3. Laura Mercier Secret Camouflage

Laura Mercier Secret Camouflage
Laura Mercier Secret Camouflage in SC-2

Laura Mercier Secret Camouflage sebetulnya sepaket sama produk poin 2 di atas. Intinya produk ini fungsinya memberikan pigment di bagian tertentu pada wajah. Sehari-hari saya pakai untuk nutup blemishes alias jerawat atau bekas jerawat atau redness yang gak ketutup oleh tinted moisturizer. Jadi warna kulit lebih merata. Pakenya gampang banget, tinggal colek (jari harus bersih pastinya), tap-tap di area yang mau ditutup, and it will blend smeamlessly with complexion!

Terus multifungsi apanya? Kalo lagi super malas pakai makeup, saya bisa pakai produk ini sebagai untuk meratakan warna kulit: undereye concealer sekaligus blemishes concealer sekaligus foundation. Jadi tinggal tap-tap di bagian manapun yang perlu warnanya disamakan dengan warna kulit, wajah pun udah terlihat kayak gak bermake-up tapi flawless (no-makeup makeup gitu dehh).

Harganya lumayan, C$42, tapi karena cuma butuh sedikit banget untuk kasih pigment, selama pemakaian higenis bisa awet sampai 2 tahun. Not bad lahh.

Sayangnya, produk ini gak ada alternatifnya. Bahkan katanya sih, makeup artist kelas dunia pasti pake produk ini saking bagusnya.

4. Lucas Papaw Ointment

Kenal Lucas Papaw Ointment saat lagi merantau di Australia. Di sana dijual di mana-mana, udah kayak barang grosiran. Dan kayaknya semua orang punya dan pakai. Berfungsi sebagai lipbalm, dan lain-lain, klaimnya. Harganya juga murah, sekitar C$10 untuk tube 10 ml, sama seperti harga lipbalm.

Awalnya saya pikir ini semacam Vaseline petroleum jelly. Setelah mendalami profil produk ini, ternyata ada fungsi antiseptiknya juga karena terbuat dari ekstrak pepaya. Setelah saya coba, menurut saya produk ini jauh lebih tokcer daripada Vaseline!

Satu produk bisa saya gunakan sebagai pelembab bibir, pelembab tangan, mengeringkan luka, menyembuhkan alergi / gigitan serangga, dan paling top adalah sebagai diaper rash bayi!

Bahkan di Kanada saya pun bela-belain cari produk ini di Amazon walaupun ada bejibun produk di toko dengan klaim serupa.

I just can’t live without this!

5. Burt’s Bees Liptint Balm

Saya suka lipstick, tapi saya gak suka teksturnya yang cenderung bikin kering setelah beberapa jam. Bibir saya termasuk yang gampang banget kering sehingga saya harus selalu pakai pelembab bibir sebelum memakai lipstick. Masalahnya, saya malas harus memakai 2 produk, yaitu lipbalm kemudian lipstick.

Jadi saya pun mulai beralih memakai produk lipbalm yang memberikan warna. Awalnya saya coba merek high end, mulai dari Dior Lip Glow, Fresh Sugar Lip Treatment, namun akhirnya saya mendarat di Burt’s Bees Liptint Balm yang harganya cuma C$5.

Yang paling saya suka dari liptint balm ini adalah, warnanya tidak mencolok sehingga saya bisa aplikasikan kapan saja, bahkan tanpa harus melihat ke cermin!

Sebetulnya masih ada beberapa produk multifungsi yang saya pakai, tapi saya merasa manfaat multifungsinya tidak sesignifikan 5 produk di atas. Ada Stila Convertible Color atau Benefit Benetint yang bisa jadi perona pipi sekaligus pewarna bibir. Tapi saya merasa kedua produk tersebut hanya optimal sebagai perona pipi, sedangkan sebagai pewarna bibir kurang bagus.

Stila Convertible Color
Stila Convertible Color in Lilium

Ada juga produk murah Cetaphil Gentle Skin Cleanser yang bisa dipakai untuk sabun badan dan pembersih wajah. Bagus banget buat kulit sensitif. Walaupun produk ini bagus banget sebagai sabun badan dan membersihkan wajah, namun saya merasa produk ini kurang bisa mengangkat bekas makeup. Mungkin produk ini cocok buat yang kesehariannya gak bermakeup.

Intinya sih, produk makeup dan skincare multifungsi sudah membantu saya “memotong” waktu dan usaha dalam rutinitas di pagi hari maupun malam hari. Selain itu, saya tidak lagi rusuh buka-tutup sebareg produk untuk rezim perawatan tubuh dan bermakeup. Sebagai emak dengan seabreg tanggung jawab, saya gampang lupa dan kalau sudah lupa dengan salah satu rezim, rasanya kesel dan ujung-ujungnya badmood, jadi dengan produk multifungsi, rezim saya lebih singkat dan tidak ada yang terlewat. Yang tak kalah penting juga, counter saya jadi lebih lapang dengan jumlah botol yang lebih sedikit alias decluttering!

Muslin Cloth sebagai Alternatif Kapas Wajah

Gak tau kenapa ya, peradaban pengeruk kapas ini punya kualitas kapas yang juelek!

Tahun pertama tinggal di Kanada, saya harus ke counter Shiseido yang merek Jepang itu untuk beli kapas dengan kualitas standar buat pake produk wajah lah. Harganya? Murahhh, untuk 165 lembar saya bayar CAD11 (eq 120 ribu). Ada yang lebih murah? Adaaaaaa. Tapi rasanya kayak nempel amplas di muka 😭😭😭

Tahun kedua, saya mulai eungap bolak balik beli kapas ratusan ribu yang cuman bertahan kurang dari 2 bulan. Sayapun mulai bertanya-tanya: Orang sini pake apa sih buat bersihin muka?

Jawabannya: ya kapas berasa amplas!

Sayapun mengahbiskan waktu berjam-jam browsing situs Sephora online, dan nemulah yang namanya muslin cloth. Katanya sih bisa jadi alternatif kapas untuk memakai produk pembersih wajah.

Karena demi mengumpulkan poin di Sephora dan sedang promo diskon, sayapun gagayaan beli muslin cloth branded seharga CAD20 (eq 210 ribu). Lumayan dapet 3 lembar.

Fast forward 3 bulan kemudian, saya bilas susu pembersih pakai setengah bagian muslin cloth, dan gunakan setengahnya lagi untuk pakai toner. Habis pakai saya bilas muslin cloth dengan air hangat dan sabun bayi, lalu air dry. Setiap hari. Kulit saya kinclongan. Mungkin karena ada unsur gentle exfoliating-nya dari tektur kain yang agak kasar. Komedo berkurang drastis, jerawat tetep sih kalau lagi hormon. Tapi overall kondisi kulit membaik. Dan 2 lembar muslin cloth masih terlipat manis di dalam wadah dan belum dipakai sama sekali.

Tapi yang bikin saya gak kalah happy adalah berkurangnya penggunaan kapas (mahal) secara signifikan. Penggunaan muslin cloth tidak sepenuhnya menggantikan peran kapas. Saya masih pakai kapas untuk hal lain, seperti membersihkan eye makeup, membersihkan luka dengan alkohol, pakai betadine, dan apapun yang kapas yang bisa lakukan. Yang pasti, saya tidak lagi sering bolak-balik ke counter Shiseido untuk bersedih beli kapas ratusan ribu. Penggunaan kapas saya berkurang hingga lebih dari 50 persen, sehingga saya cukup bayar CAD 11 untuk kapas 4-5 bulan sekali.

Semoga, setidaknya saya bisa mengurangi jejak sampah saya.

Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit

Saya mau berbagi tentang cara mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari kartu kredit. Tips dan trik ini sudah saya lakukan sejak saya pertama kali punya kartu kredit tahun 2011, dan juga sudah dilakukan oleh orang tua saya sejak zaman jebot (dan sampai sekarang mereka hidup makmir gaess).

Saya mendengar banyak komentar pro dan kontra tentang menggunakan kartu kredit, berikut di antaranya:

“Kartu kredit itu bahaya, bisa bikin kita terjerat hutang denga bunga”

“Punya kartu kredit itu makin banyak makin bagus, bisa dapat semakin banyak peluang promo dan diskon”

Saya setuju dan tidak setuju. Kartu kredit bisa menguntungkan, bisa juga merugikan. Tapi kalau buat saya: kartu kredit itu bikin untung BANGET! Saya akan bahas kenapa dan gimana caranya untuk mengeruk keuntungan pakai kartu kredit sebesar-besarnya. Saya berasumsi kamu sudah mengetahui cara membuat kartu kredit jadi saya langsung masuk ke poin-poin tips dan trik yaaa.

1. Usahakan Tidak Bayar Annual Fee (Biaya Tahunan)

Ini saya bukannya ngajak sesat untuk nunggak ya, tapi maksud saya adalah cari kartu kredit yang tidak ada annual fee-nya.

Annual fee ini mungkin gak seberapa dibandingkan dengan biaya hidup kita selama setahun. Setahu saya, annual fee punya range beragam, mulai dari Rp. 50 ribu, sampai Rp. 1 juta, tergantung jenis dan batas pemakaian.

Mungkin kalau punya 1 kartu kredit, bayar annual fee gak terlalu terasa, tapi kalau punya 3 bahkan 5, 10.. Ya lumayan kan jadi terkena biaya memegang kartu kredit.

Gimana caranya supaya gak bayar annual fee kartu kredit? Cari, kalau gak ada, tanya. Pasti ada.

Kalau gak ada gimana? Jangan sedih, cari opsi annual fee yang bisa dibayar dengan poin kartu kredit. Saya akan bicara tentang poin di poin nomor 2.

2. Manfaatkan Poin Kartu Kredit

Fasilitas kartu kredit biasanya punya promo poin, yang mana tiap kita belanja dengan kartu kredit, kita akan peroleh poin sesuai dengan jumlah yang dibelanjakan. Misalnya, kartu kredit yang sekarang saya gunakan punya promo 3 poin untuk setiap 1 dolar yang saya belanjakan. Kalau poinnya sudah terkumpul banyak, bisa ditukar untuk berbagai macam fasilitas, seperti voucher belanja, barang elektronik, tiket pesawat, hotel, dan macem-macem.

Nahh, manfaatkanlah poin ini untuk dapat keuntungan sebesar-besarnya. Kalau harus bayar annual fee, make sure poin bisa dipakai untuk itu. Kalau masih ada sisa atau bebas annual fee, gunakan untuk apapun yang bermanfaat untuk kebutuhan.

Karena itu, memilih jenis promo kartu kredit juga harus disesuaikan dengan kebutuhan kita, yang akan saya jelaskan di poin nomor 3.

3. Pilih kartu kredit dengan promo yang sesuai dengan kebutuhan

Di poin 2 saya bicara poin, sekarang bagaimana cara memanfaatkannya.

Kartu kredit punya berbagai macam jenis promo, yang tujuannya untuk membidik pasar dengan gaya hidup tertentu. Ada jenis kartu kredit yang bisa kasih cashback belanja di supermarket, ini mungkin ditujukan bagi keluarga yang doyan belanja groceries dalam jumlah besar. Ada juga yang bisa kasih diskon makan di restoran / cafe buat yang hobi nongkrong. Ada juga yang bisa kasih poin khusus untuk fasilitas travelling.

Saya sendiri sekarang pakai kartu kredit yang kasih fasilitas tukar double poin untuk merchant travelling, seperti hotel, tiket pesawat, sewa mobil, plus ada asuransi perjalanan domestik (Kanada) dan Amerika Serikat. Ini saya pilih karena intensitas travelling saya dalam setahun lumayan (termasuk business travelling). Fasilitas kartu kredit ini kerasa banget manfaatnya. Dengan pola spending saya dalam setahun, jumlah poin yang saya peroleh bisa ditukar untuk menginap di hotel bintang 4 selama 3-4 hari! Ini judulnya “kartu kredit bikin hemat” gaess. Catatan sombong: saya juga dikasih fasilitas tidak bayar annual fee selamanya ✌🏻

4. Kartu kredit untuk menunda pembayaran, bukan uang tambahan

Ide bahwa kartu kredit adalah uang tambahan adalah salah kaprah kebanyakan orang yang akhirnya terjerat bunga kartu kredit.

Kartu kredit itu tidak akan berbunga selama kita bayar tepat waktu dan tidak dicicil. Otherwise, kena bunga kartu kredit itu bunga-nya flat: persentase bunga dihitung dari jumlah tagihan, bukan jumlah yang sudah kamu cicil sebelumnya. Bayangin, kalau bunga kartu kredit per tagihan adalah 3%, dan kamu punya tagihan Rp. 1,000,000, maka bunga di bulan pertama kalau tidak bayar penuh:

Rp. 1,000,000 x 3% = Rp. 30.000

Terus kamu bayar Rp. 200,000, maka bulan berikutnya:

Rp. 1,000,000 x 3% = Rp. 30.000

Bukan

(Rp. 1,000,000 – Rp. 200,000) x 3% = Rp. 24,000

Gak peduli kamu bayar cicilan berapa, pokoknya selama belum lunas kamu akan dikenakan bunga dari tagihan awal, yaitu Rp. 30,000. Ngehek kan?

Jadi kalau menggunakan kartu kredit, pastikan saat tagihan dibayar semua supaya tidak kena bunga.

Terus ngapain pakai kartu kredit kalau ujung-ujungnya dibayar penuh?

Buat saya, kartu kredit membantu menunda pembayaran dan mengelola cashflow. Dengan kartu kredit, saya bisa belanja tanpa harus mengeluarkan uang, dan membayarkannya sekaligus saat tagihan datang (dan baru gajian). Manfaatnya, saya jadi pegang tunai dalam jumlah besar yang memberikan saya rasa aman. Cashflow saya dapat diukur dan diatur melalui pembayaran seluruh pengeluaran saya melalui satu pintu tagihan kartu kredit (dan dapat poin gaess).

Akhir kata, saya cuma mau ulang lagi, bahwa kartu kredit itu memberikan banyak keuntungan bagi penggunanya selama kita menguasai trik untuk “mengeksploitasi”nya. Tidak ada yang dirugikan.

Satu pesan saya: gunakan kartu kredit secara bijak, dan jangan pernah kredit macet.

Catatan: kalau ada yang punya trik selain yang disebut di atas, feel free untuk berbagi di komentar. Thanks!

Trik Membuat Bubur Ayam Express

Tinggal di perantauan, khususnya di tempat perantauan dengan selera kuliner butut (=buruk) (sorry, Canadians!) plus tidak tersedianya restoran masakan Indonesia sungguh bikin galau. Harus saya akui, menjadi orang Indonesia itu artinya juga menjadi terikat dengan makanannya.

Sejak merantau saya betul-betul belajar untuk menghargai masakan mang-mang pinggir jalan, mulai dari Nasi Goreng, Soto Ayam, everything you name it lah. Jangan pernah meremehkan keberadaan mereka! Ternyata hidup tanpa jajanan mang-mang itu sungguh menyiksa.

Dan celakanya, masakan jajanan pinggir jalan itu susah bin ribet bikinnya. Saya pun harus mencoba masak masakan Indonesia demi survival di negara orang. Satifying your tastebud is to keep your sanity!

Jajanan terfavorit saya adalah Bubur Ayam. Ngebayangin bahan-bahannya sih simple ya, cuma modal beras dan segala topping-nya. Wait, toppings? Justru ini pe-ernya. Menyiapkan segala macam topping ini beban hidup banget: sangat menghabiskan waktu, sementara hanya perlu waktu sekejap untuk menghabiskan semangkuk bubur ayam :(. Rebus ayam, goreng ayam, suwir ayam, goreng cakue, potong-potong cakue, rebus telor, goreng kerupuk, dll dll stress lah bayanginnya. Belum lagi nyiapin kaldu ayam untuk bubur nya. Nyerah boss!

Jadi saya cari cara paling cepat untuk menyiapkan bubur ayam, dan ada caranya! Yaitu dengan memanfaatkan bahan siap jadi dari supermarket. Pertimbangan kesehatan, produk tidak alami? Itu nomor dua. Buat saya yang penting bisa makan bubur ayam tanpa harus tepar 😉

Bahan siap saji yang saya pakai adalah: 1) kaldu ayam cair dalam kotak (mereknya Campbell), bawang putih halus dalam botol, cakue beli Chinatown, bumbu ayam goreng sebagai kuah bubur (merek Bamboe), bahkan untuk ayam kadang saya beli ayam panggang yang sudah jadi di supermarket, kemudian disuwir-suwir.

Jadi saya mau berbagi cara bikin bubur ayam express menggunakan bahan sudah saji dari supermarket.

Waktu persiapan: 20 menit

Waktu memasak: 30 menit

Bahan bubur:

  • 2 cup beras, cuci dan bilas
  • 4 cup kaldu ayam cair dalam kotak (Campbell)
  • 6-10 cup air matang (makin banyak bubur makin encer)
  • 2 sdm minyak sayur
  • 1 sdt bawang putih halus
  • Garam

Toppings:

  • Kecap asin
  • Kecap manis
  • Kuah bubur: bumbu ayam goreng siap pakai (merek Indofood atau Bamboe), siram air mendidih, aduk rata
  • Lada putih
  • Ayam rebus suwir-suwir (bisa juga beli ayam panggang yang sudah jadi dari supermarket tinggal disuwir-suwir)
  • Cakue, potong-potong
  • Bawang daun, iris tipis
  • Telor, rebus 12 menit
  • Kerupuk
  • Sambal

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak dalam panci besar, tumis bawang putih halus sampai harum.
  2. Masukkan beras, tumis sampai beras terasa kering.
  3. Tuang kaldu dan air matang. Aduk sampai beras tidak ada yang menempel di dasar panci. Taburkan garam secukupnya.
  4. Setelah mendidih, kecilkan api. Aduk sesekali.
  5. Setelah beras mengembang dan hancur, dan sudah terlihat seperti bubur, matikan api.

Cara menyajikan: Taruh bubur di atas mangkuk, tabur kuah bubur, kecap asin, kecap manis, dan semua toppings. Sajikan.

Masih terlihat ribet? Ini sudah cara paling cepat, dan butuh waktu sekitar 1 jam untuk memasak bubur.

Ada yang bilang masak bubur pakai nasi (daripada dari beras) lebih cepat dan mudah. Tapi saya belum coba. Saya sudah puas dengan metode yang ini.

Selamat mencoba.

Sedotan Reusable: Upaya Mengurangi Sampah Plastik

“Itu kayak tabung praktek kimia deh” komentar suami saat saya buka bungkus sedotan kaca yang saya beli dari Amazon.

Mungkin saya salah pilih produk sedotan, padahal ada juga sedotan yang terbuat dari stainless steel yang bentuknya terlihat lebih manis dan ramping.

Tapi yang mau saya bahas di sini bukan sedotan kaca vs. stainless steel, melainkan pilihan untuk mengganti sedotan sekali pakai dengan sedotan yang dapat digunakan kembali (reuseable).

Saya paling suka minum smoothies atau minuman dingin pakai sedotan. Selama ini saya suka beli sedotan plastik dalam jumlah besar. Satu kantong isi 50 buah, harganya cuma C$5 (eq Rp 50.000). Warna-warni, lumayan bisa bikin anak jadi ikut semangat minum smoothies.

Tapi ternyata mengajari anak suka smoothies gak cukup: saya juga ingin mengajari dia untuk gak banyak buang sampah (dia suka banget buang sampah ke tempat sampah). Dari situlah saya terinspirasi beli sedotan kaca. Saya beli di Amazon.ca seharga sekitar C$20 (eq Rp 200 ribu) dapat 5 buah sedotan kaca plus sikat pembersihnya. Saya sodorin deh smoothies pakai sedotan kaca (udah dicuci dulu pastinya) ke anak kecil, dan tetap doyan.

Kesimpulan: warna sedotan gak berpengaruh terhadap minat anak minum smoothies. Tapi mengganti sedotan plastik ke sedotan kaca ngaruh banget buat kami sekeluarga. Saya tidak lagi “memproduksi” sampah sedotan. Habis pakai, tinggal cuci pakat sikat pembersih, gak sampai semenit, voila! siap dipakai lagi.

Kalau dihitung-hitung dari harganya, mungkin kelihatannya mahal ya. Dengan modal C$20, sebetulnya ssaya bisa dapat 4 x 50 sedotan plastik, atau untuk 200 kali nyeruput. Sementara saya agak “taruhan” beli 5 sedotan kaca bisa pecah kapan aja kalau saya selebor (Ya makanya jangan selebor!) tapi saya juga ambil peluang pemakaian tidak terbatas.

200 kali vs. tidak terbatas

Pilih mana?

Tapi terlepas dari itung-itungan harga, yang terpenting saya mengurangi jejak sampah yang keluar dari rumah tangga saya. Saya tidak pernah tahu sampah yang saya “produksi” akan bermuara di mana, yang pasti sampah plastik akan eksis memenuhi lahan di bumi.

So far saya menikmati memakai sedotan kaca reusable and I think you should try it, too!