Work From Home: Lebih Hematkah?

Disclaimer:

If you can relate to this article a little or so well, please be grateful. You are luckier than 80% of the population.

If you can’t, let’s talk.

Sudah hampir 3 minggu semenjak warga pekerja kantoran ramai-ramai disuruh tinggal di rumah alias Work From Home (WFH) untuk menekan penyebaran virus galak COVID-19. Sebagai anak rumahan, sebetulnya sih saya betah-betah saja tinggal di rumah, paling jadi gak betah kalau anak kecil lagi berisik minta makan.

Yaiya betah lah, karena alhamdulillah masih terima gaji, gak takut kelamaan WFH jadi “dirumahkan.” I’m a lucky b****, dan tentunya kamu juga yang masih terus terima gaji (penuh ataupun dipotong) walau produktifitas kerja berkurang. Let’s take a moment to be grateful…

Berkurangnya aktifitas di luar adalah berkurangnya juga biaya yang dikeluarkan dari aktifitas di luar. Apa sajakah itu? Ada biaya transportasi, jajan makan siang (yang gak bawa bekel), ngopi pagi/sore, dan nongkrong after hour. Kesemuanya itu adalah pengeluaran harian yang sifatnya RUTIN.

Kalau kita sekarang tidak ada pengeluaran untuk beraktifitas di luar, apakah itu artinya pengeluaran rutin bulanan secara keseluruhan akan berkurang, alias jadi berhemat? In my experience, jawabannya adalah BELUM TENTU.

Kenapa? Karena dengan tinggal di rumah, pola rutinitas kita berubah, dan akibatnya adalah adanya pergeseran biaya rutin yang dikeluarkan karena tinggal di rumah.

How? Setiap orang pasti punya pola pengeluaran rutin untuk beraktifitas di luar rumah yang berbeda-beda, seperti berapa besaran biaya transportasi (tergantung moda, jarak), biaya makan siang (warteg, restoran, jasa antar makanan, atau bahkan bekel dari rumah), jajan (di cafe, warung). Pergeseran pengeluaran rutin untuk tinggal di rumah pun pasti tiap orang berbeda.

Nah, jadi saya nulis di sini mau berbagi pengalaman saya selama 2 minggu terakhir tentang kenapa tinggal di rumah tidak menyebabkan penghematan atau pengurangan pengeluaran rutin bulanan secara drastis. Tentu pola pengeluaran rutin saya bisa berbeda dengan kamu, namun setidaknya tulisan ini bisa kasih insight dan memberikan pemahaman tentang struktur keuangan personal kamu di situasi seperti sekarang ini.

Dan tentunya tulisan ini tidak akan membahas aspek pendapatan, karena saya cuma fokus di struktur pengeluaran.

Pengeluaran 1: Utilities

Dengan tinggal di rumah, sadar gak sadar kita menggunakan lebih banyak listrik, air ledeng, gas, dan air minum. Kalau beraktifitas di luar, konsumsi utilities kita “disubsidi” oleh fasilitas bersama, seperti di kantor atau di area publik lainnya.

In my case, dengan mondok di rumah, AC jadi lebih sering nyala (karena suami anti keringetan), cuci piring (dan cuci tangan) lebih sering, gak dapet air minum gratisan dari kantor, dan lebih sering nyalain kompor untuk masak. Tagihan listrik dan air saya di bulan Maret setelah menjalani hampir 2 minggu WFH bengkak dengan besaran 80% dari biaya transportasi yang tidak terpakai karena tidak ke kantor. Konsumsi air galon juga meningkat 50%.

Pengeluaran 2: Makan

Urusan makan ini agak tricky sebetulnya. Ini sangat tergantung pilihan makan selama ini.

Sebagai latar belakang, di hari-hari normal, saya sarapan dan makan malam di rumah, dan makan siang jajan di luar dan sekali-kali (1-2 kali seminggu) bawa bekal. Semenjak WFH, saya full masak terus. Namun karena memiliki lebih banyak waktu untuk memasak, saya cenderung membuat masakan yang lebih time-consuming dan menggunakan bahan makanan tanpa melihat harga karena dengan masak rasanya lebih murah daripada beli makanan.

Nah, ini jadi sumber atas 2 masalah: (1) harga hasil masakan per porsi jadi lebih mahal dan (2) masak terus-terusan bikin jenuh. Masakan per porsi sejak WFH bisa 20-50% lebih tinggi dari biasanya. Sementara itu, kalau saya jenuh masak, saya akan pilih jasa antar makanan siap saji (gofood, gojek) yang harganya mahal dan saya punya kewajiban sosial untuk membelikan abang ojek dan petugas keamanan apartemen. Overall, pengeluaran makan saya tidak berkurang karena biaya untuk makan di luar saat bekerja dialihkan untuk masak mewah dan kewajiban sosial.

Pengeluaran 3: Ngemil

Ini mirip dengan persoalan makan. Tinggal di rumah bikin kecenderungan ingin ngemil terus. Akhirnya jadi banyak pengeluaran untuk beli cemilan.

Pengeluaran 4: Alat Pelindung Diri dan Hygene

Dengan adanya himbauan untuk memperhatikan perlindungan diri dan hygene, saya yang biasanya gak pernah nyetok masker jadi nyetok. Cuci tangan juga jadi lebih sering sehingga sabun cuci tangan lebih cepat habis (plus selama ini cuci tangan di kantor pakai fasilitas kantor). Tisu toilet juga lebih banyak terpakai. Sejak WFH, penggunaan sarana hygene di rumah meningkat sekitar 50%. Semua ini walaupun murah, ada biaya ekstra yang dikeluarkan.

Jenis pengeluaran di atas adalah yang saya rasakan pergeserannya semenjak WFH. Terdapat juga pengeluaran lainnya seperti kuota internet, belanja untuk penyaluran hobi untuk mengatasi kebosanan, dll tergantung fasilitas yang tersedia di rumah. Kesemuanya memiliki konsekuensi biaya yang harus kita sadari.

Kesimpulannya, kita cuma mengalihkan pengeluaran dari biaya beraktifitas di luar ke biaya beraktifitas di rumah. Namun dengan memahami pergeseran ini, sebetulnya kita bisa saja memikirkan bagaimana cara berhemat di tengah situasi seperti ini, yaitu dengan mengedalikan jenis-jenis pengeluaran di atas. Misalnya, dengan tidak ngemil berlebihan, atau mengganti penggunaan AC dengan kipas angin. Sebetulnya asal mau pasti bisa.

Jakarta, 8 April 2020

About DNA Test: What Am I?

I’d been eyeing on the commercial DNA test since I moved to North America, but was hesitant about the accuracy of such test. Not until recently my boss took the test and showed me how “fun” the results were. So I decided to grab the (discounted) kit and sent my sample to the lab. I chose 23andme as one of the commercial service provider here in North America.
So why would I splash CAD160 only to reveal my ethnicity compositions (the kit comes with traits, and health analysis, too). I’ve been asked by so many people my whole life, why I physically look different than common Indonesians, particularly than the rest of my family members. Very light (to fair) skin, brunette, hazel eyes. My most effective, end-of-discussion answer, would be “… because I have European ancestry…”. My parents also use the same answer.
But the truth is, no one… no one ever, can actually verify it. And deep down inside, I am never sure about having such ancestry. It just doesn’t make sense, because I am the only one in the family with such features (few cousins share common features, though, which is so random).
I also got so many questions about why I am always underweight, and my answer is “It’s genetics” only because my two brothers are also underweight. But we are not sure.
I took the test, to find out the truth. Of course I didn’t do it without research. I set my expectation by doing lots of reading on the service. The conclusion? It’s a “recreational science.” It’s not necessarily proven and their level of accuracy relies on their data set. it’s about percentile: how you are compared to the set of data they own. Meaning, the more data set of people who share the same genetics with me, the more “likely” the result corresponds to reality.
I finally received my result just few days ago. It displays so many interesting findings and details, from ancestry percentage, genetic-based health factors, and traits. I won’t elaborate everything (you should try it, it’s amusing!), but here’s two important highlights which (finally!) serve as the answer of some of the most pressing questions about my genetics:
  1. I am definitely Asian. No European. But, the result says that people who share similar genetics with me will have everything the opposite of my physical features. So why do I have all those features? I have no idea. Some irregular variations maybe? (Disappointing explanation, duh?)
  2. I tend to weight less than average. This explains why I am underweight my whole life. Weight has genetics factor guyss!
But it’s a “recreational science” after all. Those results are no way near accuracy nor reality. Why? The provider admits their analysis are based on estimations, and they particularly don’t have enough data set on people of my ethnicity. They even provide results on traits based on assumption from genetics of different ethnicity, which is not necessarily relevant.
Do the results serve as facts? I would say it gives some senses about my ethnicity, traits, and health tendency. It’s scientific, but it’s just for fun. At least for me, now I have better ammunition in dealing with questions about my ethnicity and weight.
But I think the test is worth taking. It’s a fun experience to find something new about yourself and something you are not aware of before. Lots of revelations, although don’t take it seriously.

Jadi Perempuan Itu…

Mumpung masih dalam suasana Hari Perempuan, sebagai perempuan saya mau ngoceh tentang perempuan ah.

Jadi…
Jadi perempuan itu…
Perempuan itu cantik. Cantik itu datang dari dalam diri. Attitude. Personality. Pembawaan harus baik supaya terlihat cantik. Inner beauty bahasa kerennya. Tapi jangan ngandalin pembawaan aja. Penampilan juga penting. Apalagi kalau mau menarik perhatian laki-laki. Laki-laki itu visual, fisik. Jadi harus merawat diri ya. Rambut harus diurus, jangan sampai kusam. Rawat muka, pake makeup kalau perlu, tapi jangan menor ya, kesannya jadi terlalu cari perhatian, yang biasa aja gitu, effortless beauty lah. Perempuan zaman sekarang harus gesit. Jadi berpakaian yang nyaman aja. Tapi perempuan harus anggun, perempuan bagusnya pake rok. Rok panjang gak praktis, eh tapi jangan kependekan juga ya, nanti dikira mau  merayu laki-laki, yang biasa-biasa aja. Pakai sepatu yang nyaman. Perempuan menarik kalau pake high heels, simbol perempuan kuat, tangguh. Tapi jangan ketinggian ya, nanti susah jalan, gak gesit kayak perempuan zaman sekarang.
Single? Punya pekerjaan? Bagus! Raih prestasi setinggi-tingginya ya, kamu kan gak ada beban ngurus suami, apalagi anak. Kesepian? Makanya cepetan cari suami,  sebelum jadi perawan tua. Nanti kalau kamu keburu sukses, laki-laki gak ada yang mau sama kamu. Takut. 
Tinggal di rumah jadi ibu rumah tangga? Bagus! IRT adalah profesi paling mulia bagi seorang perempuan. Jadi IRT itu harus pinter, berpendidikan, supaya bisa menciptakan generasi yang pinter juga. Eh tapi perempuan tuh harus punya kemandirian ekonomi loh, jangan cuman bergantung pada suami. Kok punya ART? Kamu kan gak ngapa-ngapain di rumah, cuman ngurus anak dan bebersih rumah ajah. Kesepian? Mana mungkin. Kan ada anak dan suami yang tiap hari kamu urus di rumah.
Sudah berkeluarga? Bekerja? Bagus! Kamu perempuan dengan aspirasi tinggi. Kamu bisa ngurus anak, ngurus suami, ngurus rumah, ngurus diri, dan punya duit sendiri. Kok banyak banget yang diurus? Ya gapapa lah. Perempuan masa kini harus kuat, tangguh, bisa multitasking. Capek? Ya siapa suruh kerja, ngapain sih punya aspirasi tinggi. Cari duit tuh urusan suami. Kesepian? Plis jangan manja. Kamu punya keluarga, punya banyak kolega, punya uang sendiri.
Single mother? Bekerja? Bagus! Kamu bertanggung jawab atas penghidupan kamu dan anak kamu. Kamu mandiri, tidak diatur suami, bebas berinteraksi. Tapi pasti kesepian ya? Cepetan cari suami, kamu pasti suka laki-laki mapan dan matang kan? Jangan coba-coba merebut suami orang supaya kamu bisa lepas tanggung jawab menghidupi keluarga ya.
Jadi…

Jadi perempuan itu…

Sekian.

Menghitung Biaya Memulai Karir Make-up Artist

Saya bukan makeup artist.

Lalu apa credential saya untuk menulis artikel ini?

Palugada.

Di suatu masa dalam karir (palugada) saya, saya dihadapkan pada satu situasi di mana terdapat 20 orang penari, usia anak dan remaja, tidak tahu cara merias dirinya sendiri, dan hanya bisa mengandalkan sumber daya manusia (Indonesia) yang sangat terbatas di luar negeri. Salah satu bentuk “bargain” saya dalam membujuk sumber daya manusia tersebut adalah dengan menjanjikan bahwa seluruh peralatan berias harus disediakan oleh saya (kami) sebagai pihak penyelenggara acara.

So I started off with a list. Sebagai perempuan banyak gaya hobi belanja makeup yang entah kapan mau dipake, saya gak bego-bego amat lah. Saya paham bahwa makeup itu kategorinya macam-macam, mulai dari foundation, hightlighter, lipstick, you name it. Saya juga tahu cara mengurutkannya.

Tapi yang paling penting, saya tahu betul bahwa makeup ada kelasnya: from e.l.f. to MAC, from Revlon to Tom Ford. Sebuah lipstick berwarna merah harganya bisa mulai dari $3 sampai $50, tergantung mereknya apa. Apakah harga menentukan kualitas? Bisa iya, bisa engga. It’s a matter of save or splurge!

Kalau untuk keperluan sendiri, saya suka dengan luxury brand, splurge, nurut lah sama beauty guru Youtuber favorit saya, Lisa Eldridge, yang punya pelanggan tetap artis A-list macam Kate Winslet. Siapa tahu kalau pakai makeup yang sama bisa secantik artis Hollywood.

Tapi sekarang tugas saya adalah menyediakan perlengkapan makeup untuk merias orang lain. Ini semacam saya harus membelanjakan uang untuk barang modal merias. Pertanyaannya menjadi: selain menyediakan semua kategori makeup yang dibutuhkan, makeup brand mana yang harus saya beli?

Berapa modal yang harus saya keluarkan untuk memiliki aset peralatan untuk merias orang lain?

Mari kita hitung biaya modal memulai karir sebagai makeup artist, berdasarkan pengalaman saya di atas.

1. Beyond single shade

Ada 20 penari, dengan warna kulit yang berbeda-beda. Artinya saya butuh menyediakan lebih dari satu shade foundation, concealer, blush on, dan lipstick juga.

2. Hygene and Care

Ada 20 penari, artinya ada 20 pasang bulu mata yang diberi mascara. Saya butuh 1 aplikator untuk satu orang untuk menjamin mascara tetap higenis. Tidak hanya mascara, tetapi juga 1 aplikator lipstick, aplikator foundation, eyeshadow, blush on, dan liquid liner per orang.

Di sampinh itu, tidak semua kulit wajah dalam kondisi siap diaplikasikan makeup. Artinya saya harus sediakan produk perawatan kulit. Minimal pelembab wajah dan pelembab bibir.

3. Save or splurge?

Ada ribuan brand di luar sana. Satu kategori produk bisa memiliki range harga hingga 10 kali lipat. Apa bedanya? Kualitas, katanya. Apakah yang murah memiliki kualitas lebih rendah? Tidak selalu. Produk mahal katanya terasa lebih nyaman. Yang saya tahu pasti, murah atau mahal, save or splurge, kesemuanya berfungsi. Itu pilihan.

So how much did I spend?

Untuk mengakomodir berbagai jenis warna kulit para penari yang bermacam-macam, saya tidak mau rugi bandar membeli berbotol-botol foundation ataupun berbagai warna blush on. Saya fokus mencari produk dalam format palette: satu produk yang memiliki berbagai macam opsi shade. Saya membeli foundation, concealer, blush on, eyeshadow, lipstick dalam bentuk palette. Harga sedikit lebih mahal daripada harga satuan, dengan kuantitas untuk masing-masing shade lebih sedikit. Tapi yang namanya makeup tidak bisa disimpan terlalu lama, jadi saya justru butuh produk yang cepat habis supaya tidak terbuang jika terlanjur kadaluarsa.

Untuk hygene dan care, saya fokuskan menyediakan produk untuk kulit sensitif. Tentunya jenis kuliat setiap penari berbeda, tapi pilihan produk kulit sensitif setidaknya dapat menghindarkan resiko reaksi kulit (apalagi in my case yang dirias adalah anak-anak dan remaja).

Terakhir, saya berbelanja di dua jenis toko kosmetik: brand kelas menengah dan brand kelas bawah. Mengapa? Saya menyediakan makeup bagi penari yang kebutuhannya hanya untuk tampil paling lama 10 menit di atas panggung, saya hanya butuh makeup yang berfungsi dalam waktu tersebut. Brand kelas menengah maupun bawah bisa memberikan jaminan makeup bertahan untuk kebutuhan tersebut.

Sebagian besar palette saya beli di toko kosmetik NYX (kelas menengah), sebagian lagi saya beli di dollar shop (kelas bawah), termasuk juga perlengkapannya di dollar shop. Untuk kesemuanya, saya menghabiskan $350. Lumayan mahal kan? Atau lumayan murah? You decide.

Kalau saya adalah seorang makeup artist yang mau mulai modal perlengkapan makeup dengan merek kelas atas, misalnya, MAC Cosmetics, saya menaksir bisa menghabiskan 3 kali lipat dari modal yang saya keluarkan di atas. Mahal? Murah? Tergantung sesering apa bisa dapet orderan dan seberapa pandai saya merias orang untuk percaya diri menetapkan tarif. Yang pasti harus dipikirkan berapa lama saya mengharapkan balik modal.

Balik modal. Break even. Itu kuncinya. Bagi yang ngerti dunia per makeup an, pasti gatel banget pengen beli merek makeup yang terbaik dengan harapan dapat hasil karya riasan terbaik. Tapi yang paling penting adalah jangan tekor hanya karena memilih produk yang tidak fit for purpose. Semuanya kembali kepada tujuan dan fungsi berias. Kalau dalam ilmu ekonomi namanya utilitas.

Kalau Lisa Eldridge merias Kate Winslet yang akan difoto oleh ribuan fotografer dan muncul di ribuan berita online dan cetak, masuk akal jika semua produk yang digunakan adalah produk kelas atas. Bayaran dan orderan pun tidak usah ditanya.

Kalau kamu, klien kamu siapa?

Biaya Menjadi Sobat Misqueen

Sebagai lulusan Development Studies, sebetulnya saya agak miris bikin artikel bertema seputaran menjadi miskin. Miskin (poverty) itu lebih dari sekedar tidak punya uang, tetapi merupakan sebuah siklus yang melibatkan keterbatasan kesempatan (opportunity), akses (access), dan tertanam menjadi pola pikir (mindset) yang memengaruhi pilihan (choices).

Ah cukup sudah romantisme bikin essay kuliah. Tulisan saya ini tidak akan berkaitan dengan ilmu Development Studies dengan kemiskinan (comot teorinya dikit-dikit bolelah), tapi mau cerita tentang sesama kelas menengah. Saya dan populasi di sekitaran saya adalah kalangan menengah: belum kaya, tapi jauh lebih sejahtera dari miskin.

… belum kaya … lebih sejahtera …

Nahh, di sinilah persoalan yang mau saya tulis. Menjadi kelas menengah sebetulnya punya kesempatan, punya akses lebih baik, namun masih rentan untuk terjebak dalam mindset dan choices miskin (kembali lagi, karena belum kaya). Yang begini nih namanya kategori kelas menengah tapi sobat misqueen.

Terus apa masalahnya dari menjadi kelas menengah yang sobat misqueen? Here’s the theory: it’s expensive to be poor. Menjadi miskin itu tidak efisien. Pola pikir dan pilihan miskin menjadikan kita harus mengeluarkan resources (tenaga, uang) lebih besar untuk memperoleh kesempatan dan akses.

Kok bisa? Saya coba buktikan teori ini dalam poin-poin berikut ini, tentunya dengan konteks my fellow kelas menengah.

1. Demi belanja gadget baru atau liburan, rela memotong anggaran makan

Duh akhir bulan bokek nih jadi sehari-hari makan Indomie aja ampe gajian

Sering banget kan denger keluhan seperti ini? Kedengerannya lucu sih, sekaligus problematik. Jadi kalau anggaran kebutuhan pokok (makan) sampai harus diirit-irit, uangnya habis dipakai untuk apa saja?

Pernahkah berhitung, berapa sih rasio pengeluaran makan dengan total pengeluaran dalam setahun? My magic number is 20. Ya, 20 persen dari total pengeluaran (penjelasan lengkap tentang berbagai rasio pengeluaran / pendapatan, baca: Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga). Ada 80 persen lagi yang bisa dipakai untuk kebutuhan lain, maka sebetulnya 20 persen itu bukan angka yang besar.

Jadi, kalau kamu berpikir untuk berhemat dengan mengurangi anggaran makan, please think again, karena gak ngaruh! Mau dikurangin sampai setengah pun, cuma menyumbang penghematan 10 persen dari total pengeluaran. Lagian yang bener aja memangkas anggaran makanan sampai setengah. Makan adalah kebutuhan pokok dan merupakan sumber life support, jadi gak boleh dikorting. Pertama, hidupmu jadi gak mutu, kedua gak bisa bikin kamu punya extra uang.

Jadi kalau kamu masih berpikir bisa berhemat dari mengurangi anggaran makan, coba pikirkan lagi apakah kamu sudah layak untuk spending on luxuries. Makan aja susah.

Note: Kalau hasil hitunganmu pengeluaran makan > 20 persen, artinya kamu belum kaya, karena pengeluaran paling pokok yaitu urusan perut menghabiskan porsi yang besar. Kalau = atau < 20, selamat! Kamu sudah makmur.

2. Belanja macem-macem pakai kartu kredit, kemudian tiap bulan bayar tagihan minimum

Sebagai kelas menengah yang agak “mampu”, sudah pasti jadi incaran sales kartu kredit. Lagian, hari gini masak gak punyakartu kredit? Kartu kredit memberikan banyak kemudahan transaksi, ngasih reward point, dan tinggal gesek kalau sedang tidak bawa uang tunai. Saking wuenaknya gesek, gak kerasa sudah pada batas pemakaian per bulan.

Kalau saatnya ditagih, sudah pasti harus bayar. Nah ini bagian ini paling tidak enak. Selama belanja gak kebablasan sih, gak ada masalah, penghasilan setelah dikurangi tagihan pokok masih mencukupi untuk bayar tagihan kartu kredit, tinggal bayar penuh. Selesai. Tidak ada biaya tambahan.

Gimana kalau ternyata sisa penghasilan tidak mencukupi? Bisa saja bayar cicilan minimum, tapi artinya kamu harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar apa yang sudah kamu beli sebelumnya menggunakan kartu kredit, karena kamu harus bayar bunga. Bayangkan, betapa mahalnya hidup kamu kalau memilih jalan ini. Pilihan buruk jadi pilihan mahal, sobat misqueen harus menanggung biaya lebih besar.

Kalau mau tips lengkap memakai kartu kredit, baca tulisan saya tentang Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit

3. Punya rekening tabungan premium, kemudian harus bayar biaya admin bank karena jumlah tabungan di bawah syarat minimal

Kelas menengah kece sudah pasti punya rekening tabungan. Tapi masak iya punya jenis tabungan biasa-biasa saja, fasilitas minim, jatah transaksi terbatas, gak kelas dong. Rekening tabungan kalau perlu yang batas transaksinya setinggi harga tas luxury brand, karena siapa tahu butuh beli LV tunai.

Rekening tabungan premium bisa memberikan kenikmatan seperti itu. Sebagai contoh, rekening tabungan saya dan suami ada di bank yang sama, tapi yang saya jenis silver, dia gold. Jelas beda fasilitasnya. Saya cuma bisa narik uang di ATM Rp5 juta per hari, dia bisa sampai Rp25 juta.

Tapi yang namanya rekening tabungan premium, bukan tanpa “harga” loh ya. Ada batas minimal jumlah tabungan yang disyaratkan untuk bebas biaya admin bulanan. Sehari saja dalam sebulan jumlah tabungan di bawah syarat, langsung deh kena biaya admin.

Artinya, kalau mau punya rekening tabungan premium, kamu harus punya banyak tabungan, harus tajir. Kalau uang cuman numpang lewat, selamat Anda adalah sobat misqueen yang harus ngebayarin bank tiap bulan untuk menikmati rekening tabungan premium.

4. Melihat expenses dan income bulanan, bukan tahunan

Kalau mau menghitung besaran kapasitas finansial, wajib hukumnya memahami expenses dan income dengan melihat agregat tahunan. Karena yang namanya pengeluaran (kadang penghasilan juga) tidak bisa disamarataksn setiap bulannya. Ada pengeluaran non rutin, penghasilan bonus, yang kesemuanya harus dicatat dan dipetakan untuk menyusun strategi tata kelolanya.

Kalau kamu masih bicara penghasilan bulan ini untuk pengeluaran bulan ini, dan bulan depan dipikir belakangan, apa bedanya pola pikir ini dengan rekan-rekan kita di kalangan bawah yang masih memikirkan besok makan apa?

So, are you one of the examples above?

PS: please comment kalau ada poin lain yang menurut kamu merupakan ciri kelas menengah sobat misqueen.