Decluttering Itu Gampang Kalau Kamu Punya Mindset Ini!

Sejak satu bulan terakhir, timeline Facebook dan Youtube saya dipenuhi dengan senyuman Marie Kondo, mbak-mbak asal Jepang yang mejadi pahlawan bagi kebiasaan buruk bule-bule Barat yang doyan numpuk barang. Mulai dari video dan artikel pendek tentang tips dan trik decluttering mbak Kondo, sampai pro dan kontra tentang konsepnya.

Pertama saya “kenal” mbak ini dan tayangan Netflix-nya yang bergaya ala-ala savior from other planet, jujur saya sih geli. Geli karena setelah merasakan hidup di negara Barat, saya setuju memang betul manusianya doyan banget nyampah.

Sampah bikin bangsa maju.

Ya karena sampah itu ekonomi. You buy things, you move the economy. Dan yang namanya “things” itu mulai dari packaging, unused items, out of trends items, occasional / celebration items, broken items, ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah.

Bagi saya, decluttering itu butuh mindset. Bukan berarti ditolong mbak Marie Kondo bebersih terus masalah selesai. Ada pola pikir yang harus ditanamkan, khususnya dalam melihat fungsi barang (kalau kata Kondo harus spark joy), dan tentunya memahami kebutuhan dan keinginan. As I always recall, harus punya kendali atas diri kita sendiri.

Jadi saya mau berbagi di tulisan ini, 3 mindset yang perlu dimiliki untuk sukses decluttering. Saya berasumsi semua yang membaca ini pasti punya tempat tinggal, entah itu di kos-kosan, apartemen, rumah, sewa maupun milik.

1. Volume barang bertambah di rumah itu sudah pasti, jadi kendalikan lajunya!

Dengan berjalannya waktu, pasti deh volume barang yang kita simpan di tempat tinggal bertambah. Penyebahnya ada 2, pertama karena mentang-mentang punya tempat menyimpan (tempat tinggal), kita bisa meletakkan barang apapun. “Ah lacinya masih muat,” atau “Lumayan nih beli piring cantik siapa tau kapan-kapan ada tamu bisa buat ngejamu.” Kedua adalah simply godaan konsumerisme. “Duh ada lipstik buy one get one, kapan lagi ada deal kayak begini” (padahal sudah punya 5 lipstik di rumah).

Nah yang kayak begini nih jadi sumber cluttering: numpuk stok barang di rumah. Sementara barang lama masih disimpan (dan terpakai), kita sudah menambah stok barang baru.

Sebetulnya tidak ada masalah sih, selama kita tahu semuanya tepat guna, tapi masalah seringkali tidak demikian.

Saya juga punya masalah seperti ini. Tiap belanja di Sephora, saya selalu minta sample produk gratisan, karena ya mental “kapan lagi dapet deal begini.” Tiap belanja dapet 3 sample. Tapi karena produk tersebut bukan yang saya butuhkan, melainkan just because I feel good about getting free stuff, akhirnya jadi cluttering. Dipake males, dibuang sayang. Terus aku kudu piye? 😫

Clutter: ngumpulin sample product sebanyak ini, enggak kepake tapi dibuang sayang

Solusinya adalah kendalikan laju pertambahan barang. Barang bertambah itu pasti, tapi mau bertambah berapa kita yah kendalikan.

Caranya gimana?

Setiap kali berbelanja dan butuh / ingin membeli sesuatu (saya tidak akan judge kebutuhan dan keinginan), selalu ingat-ingat barang sejenis yang tersimpan di rumah, dan jawab pertanyaan ini:

“Ada yang bisa dibuang?”

Membuang barang itu tidak mesti karena masih terpakai atau tidak. Kalau kamu merasa sudah tidak “ingin” gunakan dan “ingin” mengganti dengan yang baru, maka barang tersebut bisa dibuang (dibuang bisa ke tempat sampah, atau didonasikan, atau dijual). Apa gunanya menyimpan barang yang kita sudah tidak inginkan?

Jadi prinsipnya upayakan “one (item) in, one (item) out” atau kalau terlalu sulit bisa juga “five in, three out.” : Harus ada barang yang keluar dari rumah.

Dengan demikian, laju pertambahan barang bisa lebih pelan. Kalau tidak ada yang “out,” sudah pastilah menumpuk.

2. Investasi pada barang basic, berkualitas baik, dan multifungsi

Godaan industri konsumsi memang luar biasa ya. Yang namanya trend fashion misalnya, bisa ganti setidaknya 2 kali dalam setahun. Baru pakai dress trendy 6 bulan, tiba-tiba rasanya jadi outdated ketika muncul koleksi baru. Terus jadi pengen beli lagi. Selain bikin boros, bikin numpuk juga.

“Tapi kan murah ini.”

Nah ini masalahnya. Barang murah itu justru sumber cluttering. Karena murah, kita merasa dapat insentif untuk terus berbelanja. Padahal ujung-ujungnya boros juga.

Karena itu, kita perlu punya mindset investasi. Sekarang saya lebih suka mengeluarkan uang lebih banyak untuk satu barang yang berkualitas baik dan basic, dan kalau perlu multifungsi. Barang seperti ini bikin puas karena berkualitas baik, bisa terpakai untuk berbagai macam keperluan. Kalau istilah ekonominya: maximum utility.

Saya ambil contoh high heels. Saya suka ke kantor pakai high heels. Supaya nyaman, saya beli yang berkualitas tinggi dengan harga tinggi. Karena harga tinggi, saya ingin juga bisa dipakai dengan setelan apapun, jadi saya pilih warna hitam dan desain polos (basic). Karena basic, saya juga jadi bisa gunakan selain untuk ke kantor, seperti untuk ke undangan / pesta (multifungsi). Karena berkualitas tinggi, sepatu ini terpakai hingga lebih dari 2 tahun, artinya selama kurun waktu tersebut saya tidak beli sepatu. Selain hemat, saya tidak menambah volume barang di rumah.

3. Kenangan itu disimpan di hati dan pikiran, bukan barang

Mungkin ini yang paling sulit, apalagi kalau melibatkan orang tersayang. Saya sering merasa sedih ketika melakukan sortir barang anak. Sepatu baru terpakai 6 bulan tiba-tiba sudah sempit, sehingga sudah tidak bisa dipakai. Seyogiyanya karena sudah tidak terpakai, ya dibuang atau didonasikan. Namun ada saja pikiran “Duh sayang, dia kan pakai sepatu ini waktu pertama kali bisa jalan,” atau “Ini kan kado dari mantan bos dulu.”

Yang begini nih jadi sumber cluttering. Bayangkan kalau semua barang yang kita miliki dikaitkan dengan kenangan masa lalu. Simpanlah kenangan di hati pikiran, bukan barang. Gimana caranya? Be present in every moment of your life. Ketika anak baru bisa jalan, ya nikmati momen tersebut, jangan malah inget sepatunya.

Jadi itulah kira-kira apa yang saya rasa sebagai mindset for decluttering. Yang terpenting adalah, decluttering harus menjadi sikap melalui membentuk pola pikir, bukan sekedar rutinitas, apalagi dianggap sebagai kewajiban.

Karena Decluttering adalah menghargai diri sendiri.

P.S.: kalau ada yang punya tambahan atau pandangan lain, feel free untuk tulis di kolom komentar. 😊

Membuat Rencana Anggaran Travelling

Tahun baru 2019 ini saya mengambil cuti tahunan, dan mumpung cuti ya jalan-jalan dong. Saya dan keluarga memutuskan untuk liburan ke Quebec City, ibu kota Provinsi Quebec, Kanada, yang jaraknya sekitar 450 km dari Ottawa, ditempuh dalam waktu 4.5 jam via tol (kira-kira naik mobil dari Bandung ke Semarang pake trans Jawa lah yaa)

Nah, saya jadi pengen berbagi cara membuat rencana anggaran travelling (sambil bikin alasan untuk pamer foto-foto liburan lol). Bagi saya, membuat rencana anggaran untuk travelling itu fardhu ain: wajib hukumnya. Karena rencana anggaran menentukan travelling macam apa yang bisa saya lakukan: tempat bisa dikunjungi, makanan yang dicoba, aktivitas yang bisa dilakukan. The whole travelling experience essentially starts with proper budgeting. Uang adalah segalanya gaessss.

Jadi saya akan bagi beberapa langkah dalam merencenakan keuangan travelling.

  • 1. Tetapkan budget travelling, untuk 1 tahun
  • Bagi saya biaya travelling itu masuk dalam kategori pengeluaran non rutin (baca tentang kategori pengeluaran: Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga). Saat paling pas menentukan rencana anggaran travelling tak lain dan tak bukan adalah ya awal tahun seperti ini. Berapa kali rencana melakukan travelling dalam setahun? Berapa uang dialokasikan untuk travelling dalam setahun? Ke mana saja tujuan travelling?

    Saya ilustrasikan di sini. Misalkan saya punya rencana anggaran pengeluaran non rutin selama setahun adalah Rp. 100 juta. Nah dari jumlah ini, berapa banyak yang akan dipakai untuk travelling? Mau seluruhnya juga bisa (so lupakan belanja baju, sepatu, hape baru, dan pengeluaran non rutin lainnya). Kalau pengalaman saya sih, travelling mengambil 25% dari total pengeluaran non-rutin saya. Jadi kalau saya punya anggaran non-rutin Rp. 100 juta, saya akan alokasikan Rp. 25 juta untuk dipakai travelling.

    Rp. 25 juta bisa dipakai untuk travelling berapa kali, dan ke mana saja? Domestik? Internasional? Nah bisa ini ditentukan tergantung besaran tiap komponen pengeluaran travelling yang akan saya jelaskan di poin nomor 2.

    2. Tetapkan komponen pengeluaran travelling

    Saat membuat rencana anggaran travelling, tetapkan pengeluaran per komponen untuk mengetahui berapa anggaran yang dibutuhkan.

    • Transport

    Semua biaya transport harus dihitung. In my case ke Quebec City, saya naik mobil, jadi biaya yang dikeluarkan adalah bensin, biaya cuci mobil, oli, dan perlengkapan untuk menangkal keganasan salju Kanada.

    Komponen transportasi ini harus dihitung semua, misal kalau naik pesawat, ingat bahwa tiket pesawat bukan satu-satunya biaya transportasi: ada ongkos taksi ke bandara, extra luggage, transport domestik (taksi, Uber, Grab, sewa mobil beserta bensin dan asuransi). Jadi jangan dipikir dapet tiket murah meriah, biaya transportasinya segitu doang. No way.

    • Penginapan
    Fairmont Le Château Frontenac
    Fairmont Le Château Frontenac, hotel yang merupakan situs bersejarah di Kanada, harga menginapnya juga fantastis (saya gak nginep di sini btw)

    Biaya penginapan ini cukup straightforward. Penginapan ya bisa hotel, air bnb, pun kalaupun nebeng siapkan biaya terima kasih seperti traktir makan, bantuin bebersih, atau bayar ekstra listrik / air.

    • Makan
    Poutine at Le Chic Shack, Quebec City
    Menu favorit ala Québécois adalah Poutine, yaitu kentang goreng disiram saus gravy dan cheese curd (Le Chic Shack, Quebec)

    Perjalanan saya ke Quebec City kali ini adalah 4 hari 3 malam, maka saya langsung tetapkan 4 hari x 3 kali makan x biaya sekali makan $(n) = 12 kali makan x $(n). Saya alokasikan jumlah makan maksimal (terlepas nyatanya hari pertama saya berangkat dari setelah makan siang sehingga sebetulnya di hari pertama saya makan di perjalanan hanya sekali yaitu makan malam). Ini saya lakukan untuk memberikan anggaran “ekstra” untuk jajan.

    • Miscellaneous
    Hôtel de Glace, Quebec
    Hotel pop-up saat musim dingin, untuk berkunjung dikenai biaya mulai dari C$20 (Hôtel de Glace, Quebec)

    Komponen biaya miscellaneous ini macem-macem. Ada belanja oleh-oleh, admission ticket ke museum, wahana, dll. Walaupun ini masuk dalam kategori lain-lain, ini penting banget jangan sampai tidak dianggarkan karena seringkali memakan biaya yang cukup tinggi.

    3. Tambahkan 10% ekstra

    Quartier Petit Champlain
    Quartier Petit Champlain, tempat belanja dengan vibe walking street ala Eropa

    Setelah menentukan anggaran tiap komponen travelling, jumlahkan dan tambahkan biaya 10% dari jumlah total anggaran tersebut. Ini penting banget untuk mengantisipasi kalau ada komponen yang “lupa” dimasukkan ke dalam anggaran. Walaupun udah bikin perencanaan sematangnya, kita juga harus merencanakan untuk lupa, coz we’re all just human, right?

    Setelah semua komponen untuk semua rencana travelling dalam setahun dijumlahkan dan ditambah ekstra 10%, berapa totalnya? Apakah melebihi anggaran yang sudah ditetapkan sesuai poin 1 di atas? Kalau sesuai, good job! Kalau jebol, artinya harus dikurangi sampai mencukupi. Kenapa? Karena…

    4. Jangan pernah ngutang untuk travelling!

    Travelling itu menyenangkan, refreshing katanya. Bisa membuat pikiran terbuka, dan in return meningkatkan produktivitas. Tapi apa gunanya travelling kalau kamu bokek, bahkan terlilit hutang. Ingat gaes, hutang itu membuat hati tidak tenang, tidur tidak nyenyak. Yang ada travelling malah menjadi beban hidup.

    Dan yang terpenting, ingat bahwa travelling adalah kebutuhan non rutin. Masih ada banyak hal yang penting untuk kamu penuhi dengan uang sebelum bisa travelling, seperti paying your monthly bills atau bahkan menjaga kesehatan dengan makan 3 kali sehari. Taking care of your body is way more important than merely pleasing instagram story.

    5. Habiskan budgetnya

    Kalau sudah punya rencana anggaran yang sesuai dengan alokasi pengeluaran sesuai poin 1, pastikan uang tersebut dihabiskan untuk travelling!

    Menghabiskan anggaran travelling itu penting banget supaya kamu bisa menikmati travelling itu sendiri. Jadi saat menjalaninya gak itung-itungan, karena semua proses hitung-menghitung sudah dilakukan sebelum berangkat. Nikmati semua uang yang sudah kamu anggarkan.

    Semoga tulisan OOT dari pengalaman liburan ini bisa kasih inspirasi dalam merencanakan travelling yang lebih memuaskan. Puas karena bisa pegang kendali antara kebutuhan mengunjungi tempat-tempat yang menyenangkan dengan kemampuan finansial aka duit.

    Semoga terhibur dengan foto-foto hasil jepretan saya selama jalan-jalan di Quebec City.

    Selamat merencanakan liburan!

    Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga

    Memasuki tahun baru 2019, dan untuk membuka topik Personal Finance, saya mau bahas tentang formula dasar mengelola keuangan.

    Nothing fancy, saya ingin berbagi pengalaman mengelola keuangan agak serius selama 8 tahun terakhir. Serius karena saya catat semua pengeluaran dengan rapih, and it’s safe to say that 8 annual personal financial records have statistical and analytical value (duileh).

    Tentang Pengeluaran

    Hal pertama yang mau saya bahas adalah: expenses. Lupakan dulu punya gaji/pemasukan berapa, memahami expenses itu penting banget, karena ini justru sumber masalah utama keuangan (admit it, we all have issues with the way we spend :p), baru kemudian bahas penghasilan.

    1. Pahami struktur pengeluaran tahunan

    Kalau mau lihat sebetapa boros dan hemat kita, lihat pengeluaran dalam setahun, bukan bulanan, apalagi harian. Pengeluaran itu ada 2 jenis: rutin dan non-rutin.

    • Rutin: pengeluaran yang udah pasti ada setiap bulannya dan kurleb per bulan sama, seperti groceries, transport, tagihan listrik, air, pulsa, dan jajan-jajan (nongkrong di resto, kafe)
    • Non-Rutin: pengeluaran every once in a while, seperti beli baju, beli makeup, nyalon (ini relatif sih, bisa juga jd rutin kalo emang wajib tiap bulan), bayar pajak mobil, servis mobil, PBB, ngecat rumah, travelling)

    Setelah menentukan pengeluaran rutin dan non-rutin, pahami ratio-nya. Berapa ratio yang ideal antara pengeluaran rutin dan non-rutin? Berdasarkan catatan saya, pengeluaran non-rutin yang cucok mencakup max 30% persen dari seluruh pengeluaran. Kalau jebol, you’d better have good reason for that :p .

    What does it entail? Dari struktur pengeluaran, kamu harus bisa tentukan ratio pengeluaran rutin dan non-rutin, and my ideal number is 70 : 30.

    Trus gimana cara menentukannya dan nilai uangnya? Gampang! Buat daftar seluruh perkiraan pengeluaran rutin (pasti udah tahu apa aja dan berapa angkanya), jumlahkan, terus dikali 12. That would be your 70, trus tinggal dihitung aja yang 30 nya. I give you the simple math:

    Misal: setelah pengeluaran rutin dijumlah adalah 100 juta, cara menentukan anggaran untuk pengeluaran non-rutin:

    100 juta x 100/70 x 30/100 = 42.9 juta maksimal

    Jadi pengeluaran dalam setahun: 100 + 42.9 juta = 142.9 juta

    Penetapan ratio ini bisa disesuaikan tergantung penghasilan. Yang pasti, persetase pengeluaran rutin boleh > 70%, namun pengeluaran non-rutin kalau < 30% lebih baik.

    2. Pahami struktur pengeluaran non-rutin

    Karena pengeluaran non-rutin ini sudah dipatok batas maksimalnya, kita dalami lagi struktur pengeluaran non-rutin, yaitu essensial dan non-essensial.

    Pengeluaran essensial terdiri dari yang dibutuhkan dan wajib, misalnya beli baju ketika baju udah belel, sepatu olahraga ketika udah rusak, bayar pajak mobil, PBB, servis barang yang rusak.

    Non-essensial terdiri dari beli blush on warna peach shimmer karena baru punya yang warna pink, beli sepatu warna merah karena cuma punya yang hitam, dan apapun yang sifatnya keinginan.

    Terus berapa ratio yang ideal untuk membagi yang essensial dan non-essensial? Jawabannya: tidak ada. Tidak ada karena pengeluaran non-rutin tidak sepenunhnya bisa diprediksi. Siapa yang bisa prediksi sepatu tiba-tiba jebol, atau ada saudara yang butuh bantuan. Artinya, sebisa mungkin kendalikan pengeluaran non-essensial.

    Gak menjawab ya? Well, karena mengendalikan keinginan itu adalah attitude, bukan science :p.

    3. Strategi berhemat

    Dengan berpegang bahwa pengeluaran rutin dan non-rutin adalah 70 : 30, di mana yang dipatok batas maksimalnya adalah yang non-rutin, kalau ingin berhemat, berhematlah di komponen non-rutin. Kenapa? Bayangkan, non-rutin tidak terjadi tiap bulan tapi menguasai 1/3 sumber pengeluaran!

    Di dalam pengeluaran rutin, semuanya adalah essensial, namun di dalam pengeluaran non-rutin, ada aspek essensial dan non-essensial. Jadi, ya kendalikan dulu pengeluiaran non-rutin.

    Jadi gimana cara berhemat dari pengeluaran non-rutin?

    Buat skala prioritas. Alokasikan untuk pengeluaran wajib yang sudah pasti ketahuan akan ada dan bisa diperkirakan jumlahnya, seperti pajak mobil, PBB, travelling (kalau memang direncanakan di tahun tersebut), bayar iuran kartu kredit. Lalu yang sifatnya insidentil, seperti servis mobil / rumah. Apakah rumah bener-bener sudah harus dicat, atau kursi mobil yang udah butek harus diganti, atau bisa ditunda sampai tahun depan? Kalau bisa, ya anggarkan di tahun berikutnya sebagai pengeluaran wajib. Terakhir yang sifatnya impulsif: apakah yang masih ada sisa setelah dialokasikan untuk yang wajib dan insidentil?

    “Duh tapi tahun ini aku butuh beli tas LV yang mahal banget, ada gak pengeluaran rutin yang bisa dikorbanin juga?”

    Jawabannya: Bisa saja. Di atas saya sebut bahwa jajan-jajan masuk dalam pengeluaran rutin. Yes, you deserve to get leisure every month, but it’s you who decide how much. In my case sih idealnya 10- 20% dari seluruh pengeluaran rutin, tergantung selera (dan penghasilan tentunya). Kalau kamu merasa punya kebutuhan untuk berimpulsif ria, ya jajan-jajan cukup dialokasikan 10% aja untuk kompensasi.

    Tapiiii, jangan pernah berpikir untuk berhemat di makan! Makan sehari 3 kali dengan gizi seimbang itu fardhu ain: wajib hukumnya. Makan adalah taking care of your health, so please jangan dikorting-korting! Sebetulnya kamu akan terkejut kalau melihat datanya bahwa komponen makan itu sangat kecil di antara pengeluaran lainnya, jadi berhemat di komponen ini percuma karena GAK NGARUH, namun too many people focus on saving on this component.

    Misalnya nih, sekali makan ongkosnya 15 ribu, artinya makan 3 kali sehari 45 ribu. Terus kamu pengen hemat dengan makan sehari 2 kali ajah, jadi potong 15 ribu pengeluaran makan sehari. Sebulan kamu hemat 15 ribu x 30 = 450 ribu. Setahun x 12 bulan = 5,4 juta sajahh!! Buat nalangin beli iphone baru juga gak bisa gaes, tapi kamu ngorbanin kesehatan, no way!

    5,4 juta bisa kamu dapatkan dari penghematan di pengeluaran non-rutin, misal dengan menahan diri gak liburan Singapura pas long weekend dan menggantinya dengan liburan ke Bandung (kalo kamu tinggal di Jakarta)

    Hubungan dengan penghasilan

    Udah cerita panjang lebar tentang pengeluaran, belum ngomongin penghasilan nih. Gimana mau nentuin bisa mengeluarkan berapa kalau gak tau penghasilannya berapa.

    Gak juga. Makanya di atas kita selalu bicara ratio dan persentasi kan, supaya bisa disesuaikan berapapun penghasilannya.

    Intinya gini, semakin besar penghasilan, ratio pengeluaran rutin akan cenderung semakin mengecil dengan pengeluaran non-rutin. Kenapa? Semakin meningkatnya kesejahteraan (=penghasilan) pasti kita pengen dong menikmati belanja keinginan. Keinginan adanya kan di kategori non-rutin, artinya pengeluaran non-rutin akan meningkat. Tapi yang penting jaga rationya: 70 : 30 is a fair ratio untuk kelas menengah, pengeluaran rutin bisa aja naik, tapi non-rutin jangan deh. Tapi kalau kamu masuk dalam kategori horang kaya, abaikan semua tulisan ini :p

    Berapa penghasilan yang bisa dikeluarkan, berapa yang harus ditabung? Saya sih gak mau mendikte berapa banyak, it’s personal. Yang penting, pengeluaran gak boleh lebih besar dari penghasilan, alias gak boleh ngutang untuk pengeluaran konsumsi.

    Kalau ngutang beli rumah gimana? Boleh, tapi ceritanya bisa satu artikel lagi buat topik yang ini 🙂

    Yang pasti, usahakan bisa nabung, batas ideal saya sih minimal 10% dari penghasilan dalam setahun. Lebih dari itu lebih baik, kalau gak mampu 10%, berapapun deh, yang penting hidup harus punya cadangan :).

    Misal, pasti udah tau kan gaji per bulan berapa dan dapet berapa kali dalam setahun. Jumlahkan kemudian kali 10% atau berapapun yang kamu mau, baru sisanya kamu sebar ke perkiraan pengeluaran rutin dan non-rutin, dan bisa dibagi HABIS tanpa merasa bersalah.

    Terus gimana kalau penghasilannya gak rutin kayak pengusaha, pedagang, atau PNS yang ngarep uang jaldis dan honor ? Saya gak punya jawaban buat pengusaha dan pedagang (gak punya pengalaman, walao kata emak yang pedagang, bisa diprediksi rata-rata tahunannya). Tapi buat PNS yang punya aspek jaldis dan honor, hitung penghasilan yang sudah pasti ajah, yaitu gaji dan tunjangan, dalam memproyeksikan pengeluaran tahunan. Anggapkan uang jaldis dan honor itu durian runtuh, atau bahkan pos tabungan.

    Mengelola penghasilan: investasi

    Buat saya mengelola pengeluaran adalah yang paling penting dalam pengelolaan keuangan secara keseluruhan. You have to understand your spending in order to manage your finance (sebetulnya ini teori kelas menengah, kalau kamu horang kaya / konglomerat udah pasti teori ini kamu ketawain).

    Sementara mengelola penghasilan adalah a way forward: setelah kamu mampu memahami dan mengelola pengeluaran dengan benar dan bijak (inget ya it’s an attitude).

    Buat salary men and women (populasi terbesar) penghasilan itu udah saklek, udah pasti, gaji tiap bulan sama,.

    Semua orang bilang kita harus investasi, but it’s easier said than done kan. Gimana caranya hayo? Gimana cara mulainya?

    Terus terang saya belum bisa bicara banyak tentang topik mengelola penghasilan: I still on my journey to find out the best practice of managing my asset portofolio. Tapi setidaknya saya mau berbagi cara termudah untuk memulai (disclaimer: berhubung mudah, jangan harap return-nya bisa fantastis ya, namanya juga mulai)

    Setelah bisa nabung, tabungannya diapain? Langkah pertama, lindungi nilainya. Katanya Indonesia mengalami inflasi 10 persen tiap tahun, artinya duit 100 ribu tahun ini nilainya lebih kecil dari nilai tahun lalu. Nominal boleh sama, nilai takkan pernah sama (duileh). Lindungi nilainya, setidaknya supaya tabunganmu gak aus dimakan zaman. Misal, beli emas jelas gak akan kasih keuntungan, tapi bisa menjaga nilai uangmu supaya gak erosi kayak batu yang disamber ombak. Gak ngapai-ngapain tau-tau kena korting, apa salahkuu? Dan bisa dicairkan jadi duit kapanpun butuh. Atau deposito, cuman bisa ngasih 8 persen setahun sih, tapi daripada di rekening bank coba, dapet 3 persen buat bayar biaya admin juga wkwkwkwkwk.

    Kalo mau yg lebih canggih, beli properti produktif, bukan sekedar properti/tanah yg setelah dibeli merem berharap harganya naik terus: itu bokis! Properti/tanah itu gak liquid, gak bisa disulap jd duit ketika lagi butuh, jadi harus yang produktif, yang bisa kasih cashflow tiap bulan. Mau yg lebih canggih lagi? Main di pasar uang. Kalau ngerti yang beginian (saya enggak) bisa ngasih penghasilan besar, lebih dari sekedar lindung nilai (dan ngasih penghasilan tambahan) tapi ada resiko dan tentunya harus do your market research, yang tentunya mengambil waktu produktif kamu juga (jam kerja tambahan).

    Intinya sih 2 hal, mengelola penghasilan itu yang penting lindung nilai, kemudian bisa diekspansi jadi keuntungan / tambahan penghasilan. But the more you want to gain, the more you have to work on it. Gak ada tuh ceritanya ngelola aset sambil merem tiba-tiba bikin kaya. Semua pake usaha, warisan aja ngelolanya butuh usaha (ngerawat banyak harta emangnya gampang?).

    Kesimpulan

    Understanding your finance takes 4 steps. Pertama adalah memahami dulu struktur pengeluaran, kemudian memahami kebutuhan dan keinginan, sesuaikan pengeluaran dengan penghasilan, dan terakhir going forward dengan mengelola aset ketika tiga langkah utama sudah bisa dijalani. Membuat proyeksi keuangan tahunan sangat penting, yang di dalamnya melibatkan kendali. Kendali lewat disiplin mencatat, mengawasi, dan kendalikan keinginan.

    Mengelola keuangan itu sikap, bukan hanya ilmu pengetahuan.

    Warm Welcome from Cold Corner!

    Finally I’m launching my brand new blog!

    As the end of 2018 is approaching, I want to look back and reflect to everything that has been going on throughout the year. It’s been a great year for me. I get to understand myself better, I feel comfortable with my own skin better than ever, and this year I find a way to gain control over myself.

    But things wasn’t easy at all at first. Living away from my true home for almost two years, with so many things going on as I juggle between work-life balance, I began to feel the urge to rediscover myself. I have been so consume by routines, works, keeping my toddler alive and healthy, house responsibility, really took away me from myself. I was so consumed by everything outside of me.

    So two months ago, I took leave (without travelling as many usually guess) trying to seek inspirations. I finally realized that I have plenty of room to stretch my productivity as a person. So I want to be more productive, not just doing a salary- woman + family woman stuff. And the time is just right. My toddler is growing more independent, and I know how navigate with work and Canadian life, so I think I can strech my productivity.

    Creating this blog wasn’t an overnight decision. I have been wanting to set up my own personal website since ages, but never really have the drive to begin. Now that I am so inspired to learn myself better, thanks to the amazing 2018, I want to start writing about the little (or big) things that make me feel so fulfilled.

    In this personal blog, I will share everything I feel like worth-sharing, mostly about my experience as a daughter, wife, mom, career woman, expat (not really, actually), through my own lens. I will talk a lot about things I like and I feel like I am good at, from personal finance, lifehacks, reviews, and ultimately – my obsessions to recurring patterns and cycles of everyday life.

    I’m also starting a journey to #hidupminimalis in an effort to reduce garbage, avoid unnecessary purchase of goods, and maximize the utility of my belongings. It’s a way of controlling spending, avoid cluttering, and I believe it’s also good for the environtment. You will see why it’s so important.

    You will find some inconsistencies in my thoughts and actions, because I believe incosistency is part of a learning curve, and I want to keep learning.

    I hope my personal blog will record my personal journey on self-discovery as well as perfecting the way I handle my daily life.

    I will mostly write in Bahasa Indonesia.

    Blooper:

    I just bought myself a nice expensive mirrorless camera lens, so I’d better use it for something productive such as doing a blog project to feature my takes!