Review: Skincare Regime The Ordinary

Waktu nyampe Kanada, saya gak pernah ngeh ada merek skincare bernama The Ordinary, sampai temen-temen di Indonesia banyak bikin review tentang brand ini. Ternyata ini brand dari Kanada!

Beberapa teman di Indonesia rekomendasi pakai produk perawatan dan The Ordinary untuk masalah jerawat / blemishes. Katanya bagus, harga juga lumayan. Begitu cek harga di toko online Deciem (parent company The Ordinary), OMG INI SIH HARGANYA BUKAN LUMAYAN TAPI MURAH BANGETTTT!

Rupanya di Kanada, harga setiap produk The Ordinary berada di kisaran $5 – $20, alias Rp50 – Rp200 ribu sajah! Dengan bandingan biaya hidup di Kanada yang tinggi kalau dibandingkan dengan Indonesia, ini sih recehan banget.

Awalnya hampir gak percaya, apa iya ada produk skincare di Kanada semurah ini, apalagi bandingannya skincare di Sephora yang harganya $$$ banget. Karena penasaran, saya iseng kepoin company profile dan juga founder-nya yang sudah Almarhum. Saya terkesan banget dengan filosofi dan nilai dibalik produk ini: intinya adalah jualan skincare itu ya jualan bahan kimia skincare, bukan model, bukan packaging, narasi gimmick and all of those marketing campaign yang muahal dan ujung-ujungnya konsumen yang harus tanggung. I’m sold!

Produk yang saya coba pertama kali adalah Niacinamide 10% + Zinc 1% yang klaimnya adalah untuk mengatasi blemishes. Dipakai 3 minggu berturut-turut pagi dan malem, alhamdulillah langsung habis, alhamdulillah kulit kinclongan, komedo berkurang banget. Long story short, sayapun langsung cobain berbagai produknya:

Cold-Pressed Vigin Marula Oil: cocok banget buat mengatasi kekeringan di musim dingin ektrim Ottawa

Alpha Arbutin 2% + HA: sukses menyamarkan bekas jerawat setelah sekitar 1 bulan pemakaian

Cold-Pressed Rosehip Seed Oil: seperti moisturizer tapi lebih ringan dari Marula Oil, cocok untuk musim yang lebih lembab. Tidak bikin kulit lembab, sejak pakai Rosehip Seed Oil ini, kulit saya jadi tidak sesensitif sebelumnya. Gak gampang memerah dan bahkan gak gampang jerswatan kalau kena matahari atau menjelng period!

Squalane Cleanser: cleanse like a champ! Bersih banget! Tapi produk yang satu ini terbilang tidak murah (walau tidak terlalu mahal juga kalau dibandingkan balm cleanser kebanyakan), karena untuk harga $7.9, cuma dapat 50 ml, yang ludes dalam satu bulan kalau dipakai setiap hari.

Multi Peptide Serum for Hair Density: ngurangin rambut rontok

Puas banget!!

Memang saya masih belum bisa lepas dari SK II Facial Treatment Essence yang harganya nauzubillah (dan tokcer berat), tapi setidaknya saya bisa hemat banyak dengan mengganti sebagian besar skincare routine saya dengan The Ordinary.

Fast forward 3 bulan kemudian, setelah mix and match berbagai produk The Ordinary, saya putuskan untuk jadi pelanggan setia. Tidak hanya karena harganya yang murah, tapi memang produknya berguna, berfungsi dengan baik. Saya jadi insaf menumpuk produk makeup dan mulai lebih nyaman tidak bermakeup karena kondisi kulit yang lebih baik. Intinya sih jadi lebih percaya diri.

Yang saya suka dari merek ini (dan mungkin juga yang membuat harganya murah), adalah konsep produk “modular” (kayak software aja ya modular, tapi founder nya memang eks computer engineer, so the idea matches). Modular dalam artian, satu produk serum hanya mengandung satu bahan utama untuk mengatasi satu masalah kulit tertentu. Misalnya serum Niacinamide 10% + Zinc 1%, serum ini hanya mengandung salah satu bahan untuk mengatasi blemishes. Niacinamide bukan satu-satunya bahan aktif untuk mengatasi blemishes / impurities, ada juga Salicylic Acid atau Benzoyl Peroxide, atau metode peeling seperi AHA. The Ordinary juga punya serum dengan ketiga bahan aktif tersebut, namun kita sebagai pelanggan diberikan pilihan. Saya sendiri tidak pernah cocok dengan Salicylic Acid dan Benzoyl Peroxide, dan saya takut pakai AHA, jadi dengan The Ordinary memberikan saya pilihan, yang strict hanya untuk masalah blemishes / impurities. Saya harus cari serum lain untuk mengatasi masalah kulit saya yang lain, yaitu bekas jerawat dan dehidrasi.

Nah, dari case saya kan kelihatan bahwa yang namanya masalah kulit itu oersonal dan variasinya banyak. Di sinilah kenapa saya suka konsep modular The Ordinary: saya diberikan pilihan berbagai “modul” yang tepat untuk kebutuhan spesifik saya. Kebanyakan produk di luar sana cenderung berusaha mengkombibasikan berbagai bahan bahkan gimmick dalam satu produk untuk justifikadi pasang harga tinggi. Selain kita jadi membayar mahal bahan aktif yang belum tentu sesuai dengan masalah kulit, manfaatnya juga tentu maksimal.

Tapi untuk memperoleh produk yang tepat dari The Ordinary, we have to educate ourselves first. Semua produknya hanya mencamtumkan nama bahan aktif, deskripsi singkat (satu kalimat), dan cara pakai. Kita harus cek websitenya untuk pelajari betul kegunaannya, bahkan cara mengkombinasikannya. Beberapa produk bahkan tidak boleh dikombinasikan, jadi kita harus betul-betul pelajari.

Tapi jangan patah semangat dulu. Websitenya informatif dan intuitif banget. Semua informasi tentang satu produk sangat lengkap, dan sangat mudah untuk bernavigasi dari satu halam ke halaman berikutnya. Jadi The Ordinary pengen konsumennya pintar dengan mengakses sendiri informasi tentang kegunaan produknya di website, dengan bahasa rada ilmiah. Ini jadi sumber cost-efficiency mereka juga daripada bikin narasi berbunga-bunga). Tidak hanya itu, di website kita juga bisa baca dan nulis review. Ini penting banget karena inilah marketing tools The Ordibary. Mereka mengandalkan word of mouth dan review dari konsumen-konsumen yang sudah “diedukasi” lewat websitenya, daripada bayar model mahal yang udah kincling dari sananya. Such a disruptive brilliant idea!

Cukup sekian keterangan dari saya. Kalau mau lihat gimana si founder berbagi value-nya yang sungguh menarik dan unik, lihat deh wawancaranya di sini. Dan kalau mau tahu kegunaan produknya, buka websitenya. Saya gak perlu jelasin apa kegunaan produk dan cara pakainya karena they said it better than anyone else!

PS: saya baru saja upload IG story untuk review singkat The Ordinary and why I love them, sambil mention IG mereka. Guess what? They responded ❤️

Canada 101: Kenalan Dulu Yuk!

Sekali-kali boleh ya cerita tentang negara tempat saya bermukim saat ini: Kanada!

Saya belum pernah terang-terangan berbagi cerita tentang hidup di Kanada. Setelah sekitar 2 tahun tinggal di sini, it’s safe to say I can share my views about living in this country.

Sedikit latar belakang, Kanada tuh geudueee banget, jarak ujung barat di timur sama dengan Sabang sampai Merauke. Jadi mungkin pengalaman tiap orang akan berbeda tergantung tinggal di daerah / Provinsi mana. Sama lah kayak di Indonesia.

Saya tinggal di Ottawa, ibukota Kanada. Kotanya kecil, adem ayem, tapi boleh dibilang bisa merepresentasikan Canadian experience ……. not really! Tapi setidaknya sebagai ibukota, Ottawa merepresentasikan bilingualism Kanada: English-speaking dan French-speaking.

Sejujurnya, seumur hidup gak pernah kepikiran bisa tinggal di Kanada. Ketika mengetahui kami sekeluarga akan pindah ke Kanada, saya hampir gak punya pengetahuan apapun tentang Kanada. Obsesi saya dari kecil adalah lihat Eropa (udah kesampean juga sih).

Saya yakin banyak orang Indonesia yang sama nge-blank-nya kaya saya tentang Kanada (selain sebagai tempat lahir Justin Bieber mungkin). It’s a North American country, but we mostly know North America to be the US, don’t we?

Jadi di tulisan ini saya mau memberikan sedikit gambaran tentang Kanada, berdasarkan pengalaman saya tinggal di Ottawa. Yang pasti saya gak cerita tentang hal-hal yang berat dan substansi (macam GDP kek, demografi, Kanada anggota G7 kek, atau Kanada lagi punya Perdana Menteri seganteng Disney Prince). Saya lagi malas nulis yang berat-berat, jadi saya akan mulai dengan berbagi hal-hal yang jadi stereotype dalam konteks keseharian ala Kanada.

(Kalau suka nonton sitcom Brooklyn Nine-Nine, they actually make some jokes around Ottawa and Canada and it couldn’t be funnier if you don’t know Canada.)

1. Orang Kanada suka banget ngeluh soal cuaca, and it’s real!

Kalau pernah punya kenalan orang Kanada, dijamin pasti pernah diajak ngobrol tentang cuaca! Ngomongin cuaca adalah jurus ampuh orang Kanada buat ngobrol basa-basi dan beramah tamah. Buat orang Kanada atau siapapun yang pernah merasakan tinggal di Kanada, ada segudang hal yang bisa dibahas dari topik cuaca.

Kenapa harus bahas cuaca? Karena di Kanada, ada segudang alasan untuk mengeluhkan cuaca. Dengan letak Kanada yang ada di utara deket-deket sama kutub, cuaca memang aneh alias ekstrim.

Di Ottawa, rata-rata suhu minus dan/atau turun salju dalam setahun adalah 5 bulan, dan tentu 5 bulan tersebut penuh dengan drama: badai salju, frostbite dengan suhu -20 sampai -40, black ice, salju menggunung, dan lain-lain yang tentunya bisa jadi topik ngobrol berkepanjangan.

Major’s Hill Park Ottawa
Ketika semua nampak kering dan membeku *duilehh – Major’s Hill Park, Ottawa

Tapi begitu lewat musim dingin, yaitu 7 bulan lainnya dalam setahun, juga begitu banyak hal yang yang dapat dibahas tentang indahnya pemandangan dan cuaca. Saat musim semi dan panas, banyak bunga-bunga, sejuk, mataharinya cerah, bahkan kadang kepanasan sampai 40 derajat. Di musim semi, cuaca juga sejuk dan pemandangannya super indah dengan gradasi warna daun-daun mulai dari merah, kuning, hijau, dan coklat, yang pastinya jadi topik ngobrol.

Jadi ya wajar kalau kami suka sekali membahas cuaca, karena walaupun 4 musim, variasinya rame banget.

2. “Apa Kabar?”

Masih inget pelajaran Bahasa Inggris dasar kalau pertama kali kenalan sama orang buka percakapan dengan “Hi, my name is Nadia. How do you do?”

Well, ekspresi seperti itu ternyata gak berlaku di percakapan dunia nyata para English speaker, apalagi di Kanada!

Orang Kanada demen banget nanyain kabar, ke siapapun, bahkan ke orang yang baru dikenal atau sekedar basa-basi misalnya sama kasir saat lagi bayar belanjaan. Jadi, adab membuka percakapan dengan SIAPAPUN, mau itu orang asing, kolega, penjaga toko, percakapan telepon, adalah begini:

A: “Hi. How are you?”

B: “I’m good /doing well. Thanks. How are you?”

A: “I’m good /doing well. Thanks. … (lanjut dengan topik percakapan)”

Dan pembuka inilah yang membawa kamu ngobrolin cuaca, basa-basi, sampai yang serius.

3. Jangan kaget kalau ada orang nimbrung ngajak ngobrol di tempat umum

Orang Kanada secara umum pengguna fasilitas umum yang baik. Mereka sopan di jalanan. Apalagi buat saya yang punya anak kecil. Kalau naik bis, sudah pasti lah mereka akan mengosongkan tempat duduk paling depan untuk orang-orang kategori khusus, termasuk ibu yang bawa anak kecil, karena memang ada aturan demikian. Tapi dalam keseharian pun tanpa ada aturan they know how to put others first. Tidak jarang saya dibantu oleh orang lewat ketika saya lagi riweuh bawa barang sambil megang anak.

Tapi yang lucu dan menarik adalah, mereka juga seringkali tidak sungkan untuk nimbrung dalam percakapan atau bahkan bertanya hal-hal random. Kalau saya dan suami lagi tampak bingung cari jalan, tidak jarang akan ada yang nyamperin dan kasih tahu harus kemana, padahal kita gak nanya. Tidak jarang juga saya diajak ngobrol di bis cuma gara-gara anak saya pakai mitten (sarung tangan) berbentuk penguin. Mereka tidak sungkan komentar “itu mitten-nya lucu banget, pantesan anak kamu suka” atau “itu mitten beli di mana, saya mau beli yang kayak gitu buat ponakan saya.”

Bahkan pernah satu ketika saat saya mau keluar dari tempat makan siang di restoran, satu waitress ngejar-ngejar saya, kirain ada barang ketinggalan, eh ternyata cuma mau tanya “suka banget sama coat kamu, boleh tau itu mereknya apa?”

Yaa gitu deh.

4. Punya warung kopi kebanggaan namanya Tim Hortons

Warung Kopi Tim Hortons (photo credit: Ottawa Citizen)

Kalau Amerika punya jaringan warung kopi Starbucks, Kanada punya Tim Hortons! Tim Hortons ini mulanya warung kopi buat para supir bis lintas provinsi yang lagi transit (ya macam warung kopi di pantura gitu gaes), terus sekarang jadi gede bangat ada hampir di setiap sudut kota. Harga per cangkir kopinya jauh lebih murah dibandingkan dengan Starbucks: untuk kopi hitam dihargai sekitar $1.5 dibandingkan dengan Starbucks yang hampir $4 per cangkir.

Tapiiii, saya sih beli kopi di Tim Hortons hanya kalau bener-bener kepepet: kalau gak ada opsi warung kopi lain di sekitar. Kenapa? Jujur kopinya rasa abal-abal. It’s practically a regular drip coffee. Terus udah gitu disiram pake gula sebanyak-banyaknya. Not my type of cup of coffee definitely. Walaupun saya gak suka Starbucks, saya masih lebih milih Starbucks yang jualan espresso-based coffee.

I think they just have a bad taste for coffee.

5. Punya makanan khas kebanggaan namanya Poutine

Classic Poutine (photo credit OttawaTourism)

Poutine (dibaca /po͞oˈtēn/) adalah semacam jajanan pinggir jalan kesukaan (mungkin) semua Canadians. Mungkin kalau di Indonesia seperti jajanan gorengan abang-abang kebanggaan kita semua gitu dehh. Poutine adalah kentang goreng tabur cheese curd dan saos gravy (saya gak tau saos gravy terbuat dari apa, sama kayak gak tau saos oranye abang-abang mie ayam terbuat dari apa). Rasanya seperti apa? Ya kayak kentang goreng tabur cheese curd dan saos gravy *minta digaplok

Enak? Lumayan. Jajanan rakyat lah. Beberapa tempat jualan poutine take it to next level dengan ngasih toppings tambahan macam daging, ayam, jamur, dan lain-lain.

Tapi poutine akan selalu terbuat dari kentang goreng tabur cheese curd dan saos gravy.

6. Obsesi hockey bisa bikin gontok-gontokan

Hockey: sport game kesukaan Kanada

Untuk yang satu ini, saya gak terlalu ngerti, dan jujur saya belum punya ketertarikan nonton hockey. Tapi saya rasa saya perlu tulis di sini karena hockey is very imporant for Canadians. The moment they get into hockey stuff, tiba-tiba semua keramahan mereka bisa hilang dan berganti dengan kompetisi sampai cela-celaan bahkan gontok-gontokan. Mungkin kayak fans fanatik Persib hehehe.

7. Taking punctuality to the next level

Satu hal yang paling saya suka dari warga Kanada adalah punctuality. On time banget bahkan dalam beberapa kesempatan, mereka bisa memulai sebuah kegiatan / pertemuan 5 menit SEBELUM jadwal yang ditentukan.

Mereka cukup berhati-hati dalam membuat janji. Dalam banyak kesempatan, ketika dimintai deadline, misalnya saya pesan suatu barang, mereka akan bilang barang akan siap dalam 5 hari, namun pada prakteknya barang sudah siap 3 hari kemudian.

Semoga tulisan ini bisa membuka perkenalan dengan negeri nun jauh di sini. It’s time to put Canada on your map. Kenapa? Kalau bicara yang lebih substantif, sebetulnya Kanada ini terdepan dalam banyak hal, khususnya dalam menciptakan inovasi teknologi bagi kemajuam dunia dan keterbukaan terhadap multikulturalisme. Semoga suatu hari nanti kalau saya gak malas saya akan tulis tentang hal tersebut *grin*

UnPackaging: Shampoo and Soap Bar

Hidup di Kanada membuat saya empet sama yang namanya sampah. 
Lho, bukannya Kanada itu negara yang bersih ya?
Iya. Iya. Tapi percayalah, negara maju macam Kanada ini justru menyumbang sampah yang gedeeee banget buat bumi. Saya tidak punya angka pastinya. Saya cuma merasakan dalam keseharian beraktifitas, khususnya berkaitan dengan belanja rumah tangga.
Mereka sangat suka dengan kemasan sekali pakai. Seperti kalau lagi acara kumpul-kumpul, pasti akan lebih memilih alat makan plastik dan sterefoam. Packaging bahan groceries seperti buah dan sayur pre-cut dan pre-washed juga bikin banyak sampah. 
Masih mending orang Indonesia yang punya pilihan packaging makanan daun pisang atau kertas daur ulang yang tidak menghabiskan ruang tempat sampah.
Karena itu saya jadi mulai memikirkan pola berbelanja yang less garbage: tidak banyak menghasilkan sampah. Jujur saja, saya masih ketergantungan dengan produk groceries pre-cut dan pre-washed yang menyumbang sampah packaging, jadi saya coba mulai dengan produk perawatan wajah dan tubuh.
Sejak 2 tahun terakhir, saya menggunakan sabun mandi batangan. Selain harganya yang super murah, saya tidak dibebani dengan sampah botol. Saya ingat, untuk kebutuhan sekeluarga, saya bisa beli sabun cair 1 botol dalam sebulan (sekitar 200 ml). Saya coba leboh hemat dengan beli ukuran 400 ml untuk 2 bulan. Dari sisi harga lebih murah, namun saya menyumbang sampah 1 botol besar tiap 2 bulan sekali.
Semenjak saya ganti sabun batangan, selain harganya jauh lebih murah ($7 untuk 8 batang), saya hanya membuang 1 lembar kertas setiap bulannya. Setidaknya itu membuat saya tidak terlalu merasa bersalah karena ukuran sampah (dan materialnya) tidak seberat botol sabun cair.
Atas dasar itulah saya mencoba produk shampoo batangan. Sayang, produk ini belum banyak pemain pasarnya, sehingga harga di pasaran mahal (saya pakai Lush, $13 per batang, untuk 2 bulan). Walaupun demikian, saya senang tidak lagi menyumbang sampah botol shampoo (dan conditioner) setiap 2 bulan sekali. Bahkan karena Lush menjual tanpa packaging, saya tidak membuang sampah sama sekali (kecuali struk belanjanya mungkin lol).
Saya berharap akan lebih banyak pemain pasar untuk produk shampoo batangan supaya harganya bisa lebih bersaing. Kenapa produk ramah lingkungan justru lebih banyak merogoh isi kocek?
Di satu satu sisi, packaging membantu dalam mengorganisir barang dan belanjaan. Di sisi lain, packaging ini seringkali berakhir ke tempat sampah, jadi sampah, dan bikin empet.

Declutter: Obsesi Produk Skincare dan Makeup Multifungsi

Semakin berumur semakin saya menyadari saya gak suka ribet. Dulu punya obsesi kalau sudah punya uang pengen borong produk makeup dan perawatan kulit apapun yang ada di luar sana.

Biar cantik terus, katanya begitu.

Nyatanya saya jengah sendiri dengan bejibunnya produk yang tersedia. Pertama, saya harus investasi waktu untuk melakukan keseluruhan rezimnya. Capek dan malas, saya lebih suka bengong selonjoran di kasur. Kedua, rasanya kok saya jadi cluttering, numpuk / menjejerkan banyak banget kemasan. Bikin sumpek meja rias.

Dari situlah saya mulai investasi waktu untuk mencari produk multifungsi: 1 kemasan, 1 pemakaian, bisa memberikan beberapa fungsi sekaligus.

Long story short, dengan beberapa hit and miss, saya menemukan produk multifungsi yang cocok dan akan saya gunakan terus selama produk tersebut bisa diakses.

Ngapain sih saya berbagi cerita beginian? Mungkin saja ada yang seperti saya sudah kesal dengan produk makeup dan skincare yang bejibun dan sedang mencari cara untuk mengatasi kekesalan tersebut. Kalau solusi saya ya beralih ke produk multifungsi.

Disclaimer: banyak di antara produk ini masuk kategori high end brand dengan harga lumayan bikin sedih. Tapi saya akan coba kasih alternatif produk sejenis dengan fungsi yang mirip.

1. Leonor Greyl Huile Secret de Beaute

Awal kenalan saya beauty oil adalah saat dapet free trial Josie Maran Argan Oil dari Sephora, yang klaimnya bisa dipakai untuk wajah, badan, dan rambut. Lumayan trial 2 minggu, saya pakai untuk wajah tiap pagi dan malam sebagai pengganti pelembab wajah, sambil sekalian digosok ke tangan/kuku dan rambut. Tokcer banget mengatasi kulit kekeringan akibat musim dingin Kanada yang ganas, plus bikin rambut lebih lembut.

Tapi begitu mau upgrade beli full size lihat harganya, duh mau nangis. Mahalnya gak ketulungan, 120ml seharga C$124. Bagus sih, tapi saya cari yang lain aja deh.

Surfing di google, sampailah saya pada Leonor Greyl Huile Secret de Beaute ini. Katanya sih produk perawatan rambut, tapi klaimnya bisa dipakai untuk badan dan wajah juga. Katanya juga, go-to must-haves nya Parisien. Harga mendingan daripada Josie Maran, yaitu C$85 dapet 100ml. Jadi saya putuskan untuk coba.

It works like magic. Satu produk, saya dapat manfaat pelembab wajah, krim tangan / badan, dan perawatan rambut. Plus, wanginya enak banget bikin merasa cantik.

Memang harganya masih agak tinggi. Untuk alternatif, The Body Shop punya Beauty Oil dengan klaim serupa dan harga lebih murah. Ada juga Marula Oil keluaran The Ordinary yang saya juga sudah coba dan beneran bagus buat wajah maupun kulit dan rambut.

The Ordinary Marula Oil
The Ordinary Cold-Pressed Virgin Marula Oil

2. Laura Mercier Tinted Moisturizer

Mungkin Laura Mercier Tinted Moisturizer ini adalah produk multifungsi pertama yang saya pakai. Berawal dari rasa jengah harus melapis-lapis produk wajah, mulai dari pelembab, foundation, bedak tabur. Selain menghabiskan waktu, wajah juga jadi terasa lengket karena terlalu banyak yang dioles.

Saya lebih suka dengan produk yang terasa ringan di wajah, walaupun tidak bisa nutupin jerawat dan bekas jerawat saya yang bejibun. Yang terpenting buat saya adalah fungsi melembabkan dan meratakan warna kulit.

Saya menemukan yang paling cocok adalah Laura Mercier Tinted Moisturizer. Produk ini memberikan 2 manfaat, yaitu pelembab wajah dan foundation, namun serasa tidak memakai apapun di wajah. Harganya lumayan, C$56 untuk 50ml, satu botol bertahan 5 bulan.

BB dan CC cream sebetulnya dapat memberikan fungsi serupa. Saya juga pernah pakai, dan sama multifungsi, namun saya merasa tidak ada yang seringan ini. Beberapa produk alternatif dengan harga lebih murah, bisa coba produk BB atau CC cream dari brand lower end, seperti Bourjois (my fave), L’oreal, atau Maybelline.

3. Laura Mercier Secret Camouflage

Laura Mercier Secret Camouflage
Laura Mercier Secret Camouflage in SC-2

Laura Mercier Secret Camouflage sebetulnya sepaket sama produk poin 2 di atas. Intinya produk ini fungsinya memberikan pigment di bagian tertentu pada wajah. Sehari-hari saya pakai untuk nutup blemishes alias jerawat atau bekas jerawat atau redness yang gak ketutup oleh tinted moisturizer. Jadi warna kulit lebih merata. Pakenya gampang banget, tinggal colek (jari harus bersih pastinya), tap-tap di area yang mau ditutup, and it will blend smeamlessly with complexion!

Terus multifungsi apanya? Kalo lagi super malas pakai makeup, saya bisa pakai produk ini sebagai untuk meratakan warna kulit: undereye concealer sekaligus blemishes concealer sekaligus foundation. Jadi tinggal tap-tap di bagian manapun yang perlu warnanya disamakan dengan warna kulit, wajah pun udah terlihat kayak gak bermake-up tapi flawless (no-makeup makeup gitu dehh).

Harganya lumayan, C$42, tapi karena cuma butuh sedikit banget untuk kasih pigment, selama pemakaian higenis bisa awet sampai 2 tahun. Not bad lahh.

Sayangnya, produk ini gak ada alternatifnya. Bahkan katanya sih, makeup artist kelas dunia pasti pake produk ini saking bagusnya.

4. Lucas Papaw Ointment

Kenal Lucas Papaw Ointment saat lagi merantau di Australia. Di sana dijual di mana-mana, udah kayak barang grosiran. Dan kayaknya semua orang punya dan pakai. Berfungsi sebagai lipbalm, dan lain-lain, klaimnya. Harganya juga murah, sekitar C$10 untuk tube 10 ml, sama seperti harga lipbalm.

Awalnya saya pikir ini semacam Vaseline petroleum jelly. Setelah mendalami profil produk ini, ternyata ada fungsi antiseptiknya juga karena terbuat dari ekstrak pepaya. Setelah saya coba, menurut saya produk ini jauh lebih tokcer daripada Vaseline!

Satu produk bisa saya gunakan sebagai pelembab bibir, pelembab tangan, mengeringkan luka, menyembuhkan alergi / gigitan serangga, dan paling top adalah sebagai diaper rash bayi!

Bahkan di Kanada saya pun bela-belain cari produk ini di Amazon walaupun ada bejibun produk di toko dengan klaim serupa.

I just can’t live without this!

5. Burt’s Bees Liptint Balm

Saya suka lipstick, tapi saya gak suka teksturnya yang cenderung bikin kering setelah beberapa jam. Bibir saya termasuk yang gampang banget kering sehingga saya harus selalu pakai pelembab bibir sebelum memakai lipstick. Masalahnya, saya malas harus memakai 2 produk, yaitu lipbalm kemudian lipstick.

Jadi saya pun mulai beralih memakai produk lipbalm yang memberikan warna. Awalnya saya coba merek high end, mulai dari Dior Lip Glow, Fresh Sugar Lip Treatment, namun akhirnya saya mendarat di Burt’s Bees Liptint Balm yang harganya cuma C$5.

Yang paling saya suka dari liptint balm ini adalah, warnanya tidak mencolok sehingga saya bisa aplikasikan kapan saja, bahkan tanpa harus melihat ke cermin!

Sebetulnya masih ada beberapa produk multifungsi yang saya pakai, tapi saya merasa manfaat multifungsinya tidak sesignifikan 5 produk di atas. Ada Stila Convertible Color atau Benefit Benetint yang bisa jadi perona pipi sekaligus pewarna bibir. Tapi saya merasa kedua produk tersebut hanya optimal sebagai perona pipi, sedangkan sebagai pewarna bibir kurang bagus.

Stila Convertible Color
Stila Convertible Color in Lilium

Ada juga produk murah Cetaphil Gentle Skin Cleanser yang bisa dipakai untuk sabun badan dan pembersih wajah. Bagus banget buat kulit sensitif. Walaupun produk ini bagus banget sebagai sabun badan dan membersihkan wajah, namun saya merasa produk ini kurang bisa mengangkat bekas makeup. Mungkin produk ini cocok buat yang kesehariannya gak bermakeup.

Intinya sih, produk makeup dan skincare multifungsi sudah membantu saya “memotong” waktu dan usaha dalam rutinitas di pagi hari maupun malam hari. Selain itu, saya tidak lagi rusuh buka-tutup sebareg produk untuk rezim perawatan tubuh dan bermakeup. Sebagai emak dengan seabreg tanggung jawab, saya gampang lupa dan kalau sudah lupa dengan salah satu rezim, rasanya kesel dan ujung-ujungnya badmood, jadi dengan produk multifungsi, rezim saya lebih singkat dan tidak ada yang terlewat. Yang tak kalah penting juga, counter saya jadi lebih lapang dengan jumlah botol yang lebih sedikit alias decluttering!

Muslin Cloth sebagai Alternatif Kapas Wajah

Gak tau kenapa ya, peradaban pengeruk kapas ini punya kualitas kapas yang juelek!

Tahun pertama tinggal di Kanada, saya harus ke counter Shiseido yang merek Jepang itu untuk beli kapas dengan kualitas standar buat pake produk wajah lah. Harganya? Murahhh, untuk 165 lembar saya bayar CAD11 (eq 120 ribu). Ada yang lebih murah? Adaaaaaa. Tapi rasanya kayak nempel amplas di muka 😭😭😭

Tahun kedua, saya mulai eungap bolak balik beli kapas ratusan ribu yang cuman bertahan kurang dari 2 bulan. Sayapun mulai bertanya-tanya: Orang sini pake apa sih buat bersihin muka?

Jawabannya: ya kapas berasa amplas!

Sayapun mengahbiskan waktu berjam-jam browsing situs Sephora online, dan nemulah yang namanya muslin cloth. Katanya sih bisa jadi alternatif kapas untuk memakai produk pembersih wajah.

Karena demi mengumpulkan poin di Sephora dan sedang promo diskon, sayapun gagayaan beli muslin cloth branded seharga CAD20 (eq 210 ribu). Lumayan dapet 3 lembar.

Fast forward 3 bulan kemudian, saya bilas susu pembersih pakai setengah bagian muslin cloth, dan gunakan setengahnya lagi untuk pakai toner. Habis pakai saya bilas muslin cloth dengan air hangat dan sabun bayi, lalu air dry. Setiap hari. Kulit saya kinclongan. Mungkin karena ada unsur gentle exfoliating-nya dari tektur kain yang agak kasar. Komedo berkurang drastis, jerawat tetep sih kalau lagi hormon. Tapi overall kondisi kulit membaik. Dan 2 lembar muslin cloth masih terlipat manis di dalam wadah dan belum dipakai sama sekali.

Tapi yang bikin saya gak kalah happy adalah berkurangnya penggunaan kapas (mahal) secara signifikan. Penggunaan muslin cloth tidak sepenuhnya menggantikan peran kapas. Saya masih pakai kapas untuk hal lain, seperti membersihkan eye makeup, membersihkan luka dengan alkohol, pakai betadine, dan apapun yang kapas yang bisa lakukan. Yang pasti, saya tidak lagi sering bolak-balik ke counter Shiseido untuk bersedih beli kapas ratusan ribu. Penggunaan kapas saya berkurang hingga lebih dari 50 persen, sehingga saya cukup bayar CAD 11 untuk kapas 4-5 bulan sekali.

Semoga, setidaknya saya bisa mengurangi jejak sampah saya.