Trik Membuat Bubur Ayam Express

Tinggal di perantauan, khususnya di tempat perantauan dengan selera kuliner butut (=buruk) (sorry, Canadians!) plus tidak tersedianya restoran masakan Indonesia sungguh bikin galau. Harus saya akui, menjadi orang Indonesia itu artinya juga menjadi terikat dengan makanannya.

Sejak merantau saya betul-betul belajar untuk menghargai masakan mang-mang pinggir jalan, mulai dari Nasi Goreng, Soto Ayam, everything you name it lah. Jangan pernah meremehkan keberadaan mereka! Ternyata hidup tanpa jajanan mang-mang itu sungguh menyiksa.

Dan celakanya, masakan jajanan pinggir jalan itu susah bin ribet bikinnya. Saya pun harus mencoba masak masakan Indonesia demi survival di negara orang. Satifying your tastebud is to keep your sanity!

Jajanan terfavorit saya adalah Bubur Ayam. Ngebayangin bahan-bahannya sih simple ya, cuma modal beras dan segala topping-nya. Wait, toppings? Justru ini pe-ernya. Menyiapkan segala macam topping ini beban hidup banget: sangat menghabiskan waktu, sementara hanya perlu waktu sekejap untuk menghabiskan semangkuk bubur ayam :(. Rebus ayam, goreng ayam, suwir ayam, goreng cakue, potong-potong cakue, rebus telor, goreng kerupuk, dll dll stress lah bayanginnya. Belum lagi nyiapin kaldu ayam untuk bubur nya. Nyerah boss!

Jadi saya cari cara paling cepat untuk menyiapkan bubur ayam, dan ada caranya! Yaitu dengan memanfaatkan bahan siap jadi dari supermarket. Pertimbangan kesehatan, produk tidak alami? Itu nomor dua. Buat saya yang penting bisa makan bubur ayam tanpa harus tepar 😉

Bahan siap saji yang saya pakai adalah: 1) kaldu ayam cair dalam kotak (mereknya Campbell), bawang putih halus dalam botol, cakue beli Chinatown, bumbu ayam goreng sebagai kuah bubur (merek Bamboe), bahkan untuk ayam kadang saya beli ayam panggang yang sudah jadi di supermarket, kemudian disuwir-suwir.

Jadi saya mau berbagi cara bikin bubur ayam express menggunakan bahan sudah saji dari supermarket.

Waktu persiapan: 20 menit

Waktu memasak: 30 menit

Bahan bubur:

  • 2 cup beras, cuci dan bilas
  • 4 cup kaldu ayam cair dalam kotak (Campbell)
  • 6-10 cup air matang (makin banyak bubur makin encer)
  • 2 sdm minyak sayur
  • 1 sdt bawang putih halus
  • Garam

Toppings:

  • Kecap asin
  • Kecap manis
  • Kuah bubur: bumbu ayam goreng siap pakai (merek Indofood atau Bamboe), siram air mendidih, aduk rata
  • Lada putih
  • Ayam rebus suwir-suwir (bisa juga beli ayam panggang yang sudah jadi dari supermarket tinggal disuwir-suwir)
  • Cakue, potong-potong
  • Bawang daun, iris tipis
  • Telor, rebus 12 menit
  • Kerupuk
  • Sambal

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak dalam panci besar, tumis bawang putih halus sampai harum.
  2. Masukkan beras, tumis sampai beras terasa kering.
  3. Tuang kaldu dan air matang. Aduk sampai beras tidak ada yang menempel di dasar panci. Taburkan garam secukupnya.
  4. Setelah mendidih, kecilkan api. Aduk sesekali.
  5. Setelah beras mengembang dan hancur, dan sudah terlihat seperti bubur, matikan api.

Cara menyajikan: Taruh bubur di atas mangkuk, tabur kuah bubur, kecap asin, kecap manis, dan semua toppings. Sajikan.

Masih terlihat ribet? Ini sudah cara paling cepat, dan butuh waktu sekitar 1 jam untuk memasak bubur.

Ada yang bilang masak bubur pakai nasi (daripada dari beras) lebih cepat dan mudah. Tapi saya belum coba. Saya sudah puas dengan metode yang ini.

Selamat mencoba.

Sedotan Reusable: Upaya Mengurangi Sampah Plastik

“Itu kayak tabung praktek kimia deh” komentar suami saat saya buka bungkus sedotan kaca yang saya beli dari Amazon.

Mungkin saya salah pilih produk sedotan, padahal ada juga sedotan yang terbuat dari stainless steel yang bentuknya terlihat lebih manis dan ramping.

Tapi yang mau saya bahas di sini bukan sedotan kaca vs. stainless steel, melainkan pilihan untuk mengganti sedotan sekali pakai dengan sedotan yang dapat digunakan kembali (reuseable).

Saya paling suka minum smoothies atau minuman dingin pakai sedotan. Selama ini saya suka beli sedotan plastik dalam jumlah besar. Satu kantong isi 50 buah, harganya cuma C$5 (eq Rp 50.000). Warna-warni, lumayan bisa bikin anak jadi ikut semangat minum smoothies.

Tapi ternyata mengajari anak suka smoothies gak cukup: saya juga ingin mengajari dia untuk gak banyak buang sampah (dia suka banget buang sampah ke tempat sampah). Dari situlah saya terinspirasi beli sedotan kaca. Saya beli di Amazon.ca seharga sekitar C$20 (eq Rp 200 ribu) dapat 5 buah sedotan kaca plus sikat pembersihnya. Saya sodorin deh smoothies pakai sedotan kaca (udah dicuci dulu pastinya) ke anak kecil, dan tetap doyan.

Kesimpulan: warna sedotan gak berpengaruh terhadap minat anak minum smoothies. Tapi mengganti sedotan plastik ke sedotan kaca ngaruh banget buat kami sekeluarga. Saya tidak lagi “memproduksi” sampah sedotan. Habis pakai, tinggal cuci pakat sikat pembersih, gak sampai semenit, voila! siap dipakai lagi.

Kalau dihitung-hitung dari harganya, mungkin kelihatannya mahal ya. Dengan modal C$20, sebetulnya ssaya bisa dapat 4 x 50 sedotan plastik, atau untuk 200 kali nyeruput. Sementara saya agak “taruhan” beli 5 sedotan kaca bisa pecah kapan aja kalau saya selebor (Ya makanya jangan selebor!) tapi saya juga ambil peluang pemakaian tidak terbatas.

200 kali vs. tidak terbatas

Pilih mana?

Tapi terlepas dari itung-itungan harga, yang terpenting saya mengurangi jejak sampah yang keluar dari rumah tangga saya. Saya tidak pernah tahu sampah yang saya “produksi” akan bermuara di mana, yang pasti sampah plastik akan eksis memenuhi lahan di bumi.

So far saya menikmati memakai sedotan kaca reusable and I think you should try it, too!

ASLI Batagor Bandung, bikinnya sekejap!

Buat orang Bandung atau orang yang pernah hidup dan besar di Bandung, pasti tau banget bahwa Batagor otentik itu adalah yang diJual pinggir jalan. Batagor Kingsley dan Riri emang top markotop, tapi Batagor yang beneran ngasih pengalaman “orang Bandung” justru Batagor murmer di depan sekolah atau deket pasar, atau di depan kantor, atau di pusat orang lagi lapar dimanapun lah.

Sebagai penghuni dan besar di Bandung selama 20 tahun, saya kangen bukan main sama Batagor pinggir jalan. Dulu bisa tiap hari jajan, tiba-tiba 2 tahun gak merasakan Batagor sedih banget. Saya pun coba DIY, coba mengolah bahan utamanya, ikan tenggiri.

Ribet banget! Buang durinya ribet, ngehalusinnya juga repot, plus bikin bau amis satu dapur. Hasilnya enak sih, tapi habis dalam sekejapnya itu bikin sakit hati. Not worth my time and effort.

Sampai minggu ini, ketika lagi belanja di supermarket favorit, saya mampir ke counter produk olahan ikan, saya lihat ada “anchovy paste”. Google bentar, ini katanya sih terbuat dari anchovy alias ikan teri, biasa buat campuran berbagai makanan, (lengkapnya tentang anchovy paste bisa baca di Wikipedia). Saya pun nekat beli dengan bayangan “mungkin bisa dicampurin ke adonan tepung terus dijadiin batagor.”

Anchovy Paste yang saya dapatkan di supermarket. Anchovy Paste dibungkus dalam tube seperti pasta gigi

Malam itu juga saya langsung coba. Saya buat Batagor dan Siomay. Hasilnya? 100% Batagor Bandung!! Gak pake repot gak pake capek. Masak sekejap, menghabiskannya pun sekejap. Yang gak bisa masak juga dijamin bisa bikin ini saking gampangnya. Saya pikir saya sudah bisa jadi pedagang Batagor!

Siomay Bandung maknyuss

Jadi saya akan bagi di sini resepnya, buat siapapun orang Bandung di perantauan: Jakarta kek, Sumatera kek, Papua kek, atau di luar negeri manapun. Karena percayalah, tiada Batagor yang lebih nikmat daripada Batagor pinggir jalan Bandung, dan percayalah bahwa lidah Bandung saya gak bohong.

Resep Batagor – Siomay Bandung Ekspres

Untuk 2 porsi

Waktu persiapan: 10 menit

Waktu memasak: 10 menit

Bahan-bahan:

  • 2 sdm tepung terigu
  • 2 sdm tepung tapioka
  • 1 batang bawang daun, iris tipis
  • 1 siung bawang putih, cincang halus (atau bisa diganti dengan 1 sdt bubuk bawang putih kalau gak mau ribet)
  • 1 sdt anchovy paste
  • 50 ml air matang
  • 125 gr Firm Tofu, potong segitiga (ukuran sesuai selera)
  • 8 lembar kulit pangsit
  • Minyak untuk menggoreng
  • Bumbu kacang siap pakai
  • Kecap manis

Cara membuat:

  • Campur tepung terigu, tepung tapioka, bawang daun, dan bawang putih. Tambahkan air sambil aduk perlahan hingga adonan padat seperti pasta.
  • Masukkan anchovy paste, aduk rata.
  • Balut tahu dengan adonan, isi kulit pangsit dengan adonan kemudian goreng di minyak panas hingga kecoklatan. Angkat.
  • Sajikan dengan bumbu kacang dan kecap manis.

Decluttering Itu Gampang Kalau Kamu Punya Mindset Ini!

Sejak satu bulan terakhir, timeline Facebook dan Youtube saya dipenuhi dengan senyuman Marie Kondo, mbak-mbak asal Jepang yang mejadi pahlawan bagi kebiasaan buruk bule-bule Barat yang doyan numpuk barang. Mulai dari video dan artikel pendek tentang tips dan trik decluttering mbak Kondo, sampai pro dan kontra tentang konsepnya.

Pertama saya “kenal” mbak ini dan tayangan Netflix-nya yang bergaya ala-ala savior from other planet, jujur saya sih geli. Geli karena setelah merasakan hidup di negara Barat, saya setuju memang betul manusianya doyan banget nyampah.

Sampah bikin bangsa maju.

Ya karena sampah itu ekonomi. You buy things, you move the economy. Dan yang namanya “things” itu mulai dari packaging, unused items, out of trends items, occasional / celebration items, broken items, ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah.

Bagi saya, decluttering itu butuh mindset. Bukan berarti ditolong mbak Marie Kondo bebersih terus masalah selesai. Ada pola pikir yang harus ditanamkan, khususnya dalam melihat fungsi barang (kalau kata Kondo harus spark joy), dan tentunya memahami kebutuhan dan keinginan. As I always recall, harus punya kendali atas diri kita sendiri.

Jadi saya mau berbagi di tulisan ini, 3 mindset yang perlu dimiliki untuk sukses decluttering. Saya berasumsi semua yang membaca ini pasti punya tempat tinggal, entah itu di kos-kosan, apartemen, rumah, sewa maupun milik.

1. Volume barang bertambah di rumah itu sudah pasti, jadi kendalikan lajunya!

Dengan berjalannya waktu, pasti deh volume barang yang kita simpan di tempat tinggal bertambah. Penyebahnya ada 2, pertama karena mentang-mentang punya tempat menyimpan (tempat tinggal), kita bisa meletakkan barang apapun. “Ah lacinya masih muat,” atau “Lumayan nih beli piring cantik siapa tau kapan-kapan ada tamu bisa buat ngejamu.” Kedua adalah simply godaan konsumerisme. “Duh ada lipstik buy one get one, kapan lagi ada deal kayak begini” (padahal sudah punya 5 lipstik di rumah).

Nah yang kayak begini nih jadi sumber cluttering: numpuk stok barang di rumah. Sementara barang lama masih disimpan (dan terpakai), kita sudah menambah stok barang baru.

Sebetulnya tidak ada masalah sih, selama kita tahu semuanya tepat guna, tapi masalah seringkali tidak demikian.

Saya juga punya masalah seperti ini. Tiap belanja di Sephora, saya selalu minta sample produk gratisan, karena ya mental “kapan lagi dapet deal begini.” Tiap belanja dapet 3 sample. Tapi karena produk tersebut bukan yang saya butuhkan, melainkan just because I feel good about getting free stuff, akhirnya jadi cluttering. Dipake males, dibuang sayang. Terus aku kudu piye? 😫

Clutter: ngumpulin sample product sebanyak ini, enggak kepake tapi dibuang sayang

Solusinya adalah kendalikan laju pertambahan barang. Barang bertambah itu pasti, tapi mau bertambah berapa kita yah kendalikan.

Caranya gimana?

Setiap kali berbelanja dan butuh / ingin membeli sesuatu (saya tidak akan judge kebutuhan dan keinginan), selalu ingat-ingat barang sejenis yang tersimpan di rumah, dan jawab pertanyaan ini:

“Ada yang bisa dibuang?”

Membuang barang itu tidak mesti karena masih terpakai atau tidak. Kalau kamu merasa sudah tidak “ingin” gunakan dan “ingin” mengganti dengan yang baru, maka barang tersebut bisa dibuang (dibuang bisa ke tempat sampah, atau didonasikan, atau dijual). Apa gunanya menyimpan barang yang kita sudah tidak inginkan?

Jadi prinsipnya upayakan “one (item) in, one (item) out” atau kalau terlalu sulit bisa juga “five in, three out.” : Harus ada barang yang keluar dari rumah.

Dengan demikian, laju pertambahan barang bisa lebih pelan. Kalau tidak ada yang “out,” sudah pastilah menumpuk.

2. Investasi pada barang basic, berkualitas baik, dan multifungsi

Godaan industri konsumsi memang luar biasa ya. Yang namanya trend fashion misalnya, bisa ganti setidaknya 2 kali dalam setahun. Baru pakai dress trendy 6 bulan, tiba-tiba rasanya jadi outdated ketika muncul koleksi baru. Terus jadi pengen beli lagi. Selain bikin boros, bikin numpuk juga.

“Tapi kan murah ini.”

Nah ini masalahnya. Barang murah itu justru sumber cluttering. Karena murah, kita merasa dapat insentif untuk terus berbelanja. Padahal ujung-ujungnya boros juga.

Karena itu, kita perlu punya mindset investasi. Sekarang saya lebih suka mengeluarkan uang lebih banyak untuk satu barang yang berkualitas baik dan basic, dan kalau perlu multifungsi. Barang seperti ini bikin puas karena berkualitas baik, bisa terpakai untuk berbagai macam keperluan. Kalau istilah ekonominya: maximum utility.

Saya ambil contoh high heels. Saya suka ke kantor pakai high heels. Supaya nyaman, saya beli yang berkualitas tinggi dengan harga tinggi. Karena harga tinggi, saya ingin juga bisa dipakai dengan setelan apapun, jadi saya pilih warna hitam dan desain polos (basic). Karena basic, saya juga jadi bisa gunakan selain untuk ke kantor, seperti untuk ke undangan / pesta (multifungsi). Karena berkualitas tinggi, sepatu ini terpakai hingga lebih dari 2 tahun, artinya selama kurun waktu tersebut saya tidak beli sepatu. Selain hemat, saya tidak menambah volume barang di rumah.

3. Kenangan itu disimpan di hati dan pikiran, bukan barang

Mungkin ini yang paling sulit, apalagi kalau melibatkan orang tersayang. Saya sering merasa sedih ketika melakukan sortir barang anak. Sepatu baru terpakai 6 bulan tiba-tiba sudah sempit, sehingga sudah tidak bisa dipakai. Seyogiyanya karena sudah tidak terpakai, ya dibuang atau didonasikan. Namun ada saja pikiran “Duh sayang, dia kan pakai sepatu ini waktu pertama kali bisa jalan,” atau “Ini kan kado dari mantan bos dulu.”

Yang begini nih jadi sumber cluttering. Bayangkan kalau semua barang yang kita miliki dikaitkan dengan kenangan masa lalu. Simpanlah kenangan di hati pikiran, bukan barang. Gimana caranya? Be present in every moment of your life. Ketika anak baru bisa jalan, ya nikmati momen tersebut, jangan malah inget sepatunya.

Jadi itulah kira-kira apa yang saya rasa sebagai mindset for decluttering. Yang terpenting adalah, decluttering harus menjadi sikap melalui membentuk pola pikir, bukan sekedar rutinitas, apalagi dianggap sebagai kewajiban.

Karena Decluttering adalah menghargai diri sendiri.

P.S.: kalau ada yang punya tambahan atau pandangan lain, feel free untuk tulis di kolom komentar. 😊