Muslin Cloth sebagai Alternatif Kapas Wajah

Gak tau kenapa ya, peradaban pengeruk kapas ini punya kualitas kapas yang juelek!

Tahun pertama tinggal di Kanada, saya harus ke counter Shiseido yang merek Jepang itu untuk beli kapas dengan kualitas standar buat pake produk wajah lah. Harganya? Murahhh, untuk 165 lembar saya bayar CAD11 (eq 120 ribu). Ada yang lebih murah? Adaaaaaa. Tapi rasanya kayak nempel amplas di muka 😭😭😭

Tahun kedua, saya mulai eungap bolak balik beli kapas ratusan ribu yang cuman bertahan kurang dari 2 bulan. Sayapun mulai bertanya-tanya: Orang sini pake apa sih buat bersihin muka?

Jawabannya: ya kapas berasa amplas!

Sayapun mengahbiskan waktu berjam-jam browsing situs Sephora online, dan nemulah yang namanya muslin cloth. Katanya sih bisa jadi alternatif kapas untuk memakai produk pembersih wajah.

Karena demi mengumpulkan poin di Sephora dan sedang promo diskon, sayapun gagayaan beli muslin cloth branded seharga CAD20 (eq 210 ribu). Lumayan dapet 3 lembar.

Fast forward 3 bulan kemudian, saya bilas susu pembersih pakai setengah bagian muslin cloth, dan gunakan setengahnya lagi untuk pakai toner. Habis pakai saya bilas muslin cloth dengan air hangat dan sabun bayi, lalu air dry. Setiap hari. Kulit saya kinclongan. Mungkin karena ada unsur gentle exfoliating-nya dari tektur kain yang agak kasar. Komedo berkurang drastis, jerawat tetep sih kalau lagi hormon. Tapi overall kondisi kulit membaik. Dan 2 lembar muslin cloth masih terlipat manis di dalam wadah dan belum dipakai sama sekali.

Tapi yang bikin saya gak kalah happy adalah berkurangnya penggunaan kapas (mahal) secara signifikan. Penggunaan muslin cloth tidak sepenuhnya menggantikan peran kapas. Saya masih pakai kapas untuk hal lain, seperti membersihkan eye makeup, membersihkan luka dengan alkohol, pakai betadine, dan apapun yang kapas yang bisa lakukan. Yang pasti, saya tidak lagi sering bolak-balik ke counter Shiseido untuk bersedih beli kapas ratusan ribu. Penggunaan kapas saya berkurang hingga lebih dari 50 persen, sehingga saya cukup bayar CAD 11 untuk kapas 4-5 bulan sekali.

Semoga, setidaknya saya bisa mengurangi jejak sampah saya.

Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit

Saya mau berbagi tentang cara mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari kartu kredit. Tips dan trik ini sudah saya lakukan sejak saya pertama kali punya kartu kredit tahun 2011, dan juga sudah dilakukan oleh orang tua saya sejak zaman jebot (dan sampai sekarang mereka hidup makmir gaess).

Saya mendengar banyak komentar pro dan kontra tentang menggunakan kartu kredit, berikut di antaranya:

“Kartu kredit itu bahaya, bisa bikin kita terjerat hutang denga bunga”

“Punya kartu kredit itu makin banyak makin bagus, bisa dapat semakin banyak peluang promo dan diskon”

Saya setuju dan tidak setuju. Kartu kredit bisa menguntungkan, bisa juga merugikan. Tapi kalau buat saya: kartu kredit itu bikin untung BANGET! Saya akan bahas kenapa dan gimana caranya untuk mengeruk keuntungan pakai kartu kredit sebesar-besarnya. Saya berasumsi kamu sudah mengetahui cara membuat kartu kredit jadi saya langsung masuk ke poin-poin tips dan trik yaaa.

1. Usahakan Tidak Bayar Annual Fee (Biaya Tahunan)

Ini saya bukannya ngajak sesat untuk nunggak ya, tapi maksud saya adalah cari kartu kredit yang tidak ada annual fee-nya.

Annual fee ini mungkin gak seberapa dibandingkan dengan biaya hidup kita selama setahun. Setahu saya, annual fee punya range beragam, mulai dari Rp. 50 ribu, sampai Rp. 1 juta, tergantung jenis dan batas pemakaian.

Mungkin kalau punya 1 kartu kredit, bayar annual fee gak terlalu terasa, tapi kalau punya 3 bahkan 5, 10.. Ya lumayan kan jadi terkena biaya memegang kartu kredit.

Gimana caranya supaya gak bayar annual fee kartu kredit? Cari, kalau gak ada, tanya. Pasti ada.

Kalau gak ada gimana? Jangan sedih, cari opsi annual fee yang bisa dibayar dengan poin kartu kredit. Saya akan bicara tentang poin di poin nomor 2.

2. Manfaatkan Poin Kartu Kredit

Fasilitas kartu kredit biasanya punya promo poin, yang mana tiap kita belanja dengan kartu kredit, kita akan peroleh poin sesuai dengan jumlah yang dibelanjakan. Misalnya, kartu kredit yang sekarang saya gunakan punya promo 3 poin untuk setiap 1 dolar yang saya belanjakan. Kalau poinnya sudah terkumpul banyak, bisa ditukar untuk berbagai macam fasilitas, seperti voucher belanja, barang elektronik, tiket pesawat, hotel, dan macem-macem.

Nahh, manfaatkanlah poin ini untuk dapat keuntungan sebesar-besarnya. Kalau harus bayar annual fee, make sure poin bisa dipakai untuk itu. Kalau masih ada sisa atau bebas annual fee, gunakan untuk apapun yang bermanfaat untuk kebutuhan.

Karena itu, memilih jenis promo kartu kredit juga harus disesuaikan dengan kebutuhan kita, yang akan saya jelaskan di poin nomor 3.

3. Pilih kartu kredit dengan promo yang sesuai dengan kebutuhan

Di poin 2 saya bicara poin, sekarang bagaimana cara memanfaatkannya.

Kartu kredit punya berbagai macam jenis promo, yang tujuannya untuk membidik pasar dengan gaya hidup tertentu. Ada jenis kartu kredit yang bisa kasih cashback belanja di supermarket, ini mungkin ditujukan bagi keluarga yang doyan belanja groceries dalam jumlah besar. Ada juga yang bisa kasih diskon makan di restoran / cafe buat yang hobi nongkrong. Ada juga yang bisa kasih poin khusus untuk fasilitas travelling.

Saya sendiri sekarang pakai kartu kredit yang kasih fasilitas tukar double poin untuk merchant travelling, seperti hotel, tiket pesawat, sewa mobil, plus ada asuransi perjalanan domestik (Kanada) dan Amerika Serikat. Ini saya pilih karena intensitas travelling saya dalam setahun lumayan (termasuk business travelling). Fasilitas kartu kredit ini kerasa banget manfaatnya. Dengan pola spending saya dalam setahun, jumlah poin yang saya peroleh bisa ditukar untuk menginap di hotel bintang 4 selama 3-4 hari! Ini judulnya “kartu kredit bikin hemat” gaess. Catatan sombong: saya juga dikasih fasilitas tidak bayar annual fee selamanya ✌🏻

4. Kartu kredit untuk menunda pembayaran, bukan uang tambahan

Ide bahwa kartu kredit adalah uang tambahan adalah salah kaprah kebanyakan orang yang akhirnya terjerat bunga kartu kredit.

Kartu kredit itu tidak akan berbunga selama kita bayar tepat waktu dan tidak dicicil. Otherwise, kena bunga kartu kredit itu bunga-nya flat: persentase bunga dihitung dari jumlah tagihan, bukan jumlah yang sudah kamu cicil sebelumnya. Bayangin, kalau bunga kartu kredit per tagihan adalah 3%, dan kamu punya tagihan Rp. 1,000,000, maka bunga di bulan pertama kalau tidak bayar penuh:

Rp. 1,000,000 x 3% = Rp. 30.000

Terus kamu bayar Rp. 200,000, maka bulan berikutnya:

Rp. 1,000,000 x 3% = Rp. 30.000

Bukan

(Rp. 1,000,000 – Rp. 200,000) x 3% = Rp. 24,000

Gak peduli kamu bayar cicilan berapa, pokoknya selama belum lunas kamu akan dikenakan bunga dari tagihan awal, yaitu Rp. 30,000. Ngehek kan?

Jadi kalau menggunakan kartu kredit, pastikan saat tagihan dibayar semua supaya tidak kena bunga.

Terus ngapain pakai kartu kredit kalau ujung-ujungnya dibayar penuh?

Buat saya, kartu kredit membantu menunda pembayaran dan mengelola cashflow. Dengan kartu kredit, saya bisa belanja tanpa harus mengeluarkan uang, dan membayarkannya sekaligus saat tagihan datang (dan baru gajian). Manfaatnya, saya jadi pegang tunai dalam jumlah besar yang memberikan saya rasa aman. Cashflow saya dapat diukur dan diatur melalui pembayaran seluruh pengeluaran saya melalui satu pintu tagihan kartu kredit (dan dapat poin gaess).

Akhir kata, saya cuma mau ulang lagi, bahwa kartu kredit itu memberikan banyak keuntungan bagi penggunanya selama kita menguasai trik untuk “mengeksploitasi”nya. Tidak ada yang dirugikan.

Satu pesan saya: gunakan kartu kredit secara bijak, dan jangan pernah kredit macet.

Catatan: kalau ada yang punya trik selain yang disebut di atas, feel free untuk berbagi di komentar. Thanks!

Trik Membuat Bubur Ayam Express

Tinggal di perantauan, khususnya di tempat perantauan dengan selera kuliner butut (=buruk) (sorry, Canadians!) plus tidak tersedianya restoran masakan Indonesia sungguh bikin galau. Harus saya akui, menjadi orang Indonesia itu artinya juga menjadi terikat dengan makanannya.

Sejak merantau saya betul-betul belajar untuk menghargai masakan mang-mang pinggir jalan, mulai dari Nasi Goreng, Soto Ayam, everything you name it lah. Jangan pernah meremehkan keberadaan mereka! Ternyata hidup tanpa jajanan mang-mang itu sungguh menyiksa.

Dan celakanya, masakan jajanan pinggir jalan itu susah bin ribet bikinnya. Saya pun harus mencoba masak masakan Indonesia demi survival di negara orang. Satifying your tastebud is to keep your sanity!

Jajanan terfavorit saya adalah Bubur Ayam. Ngebayangin bahan-bahannya sih simple ya, cuma modal beras dan segala topping-nya. Wait, toppings? Justru ini pe-ernya. Menyiapkan segala macam topping ini beban hidup banget: sangat menghabiskan waktu, sementara hanya perlu waktu sekejap untuk menghabiskan semangkuk bubur ayam :(. Rebus ayam, goreng ayam, suwir ayam, goreng cakue, potong-potong cakue, rebus telor, goreng kerupuk, dll dll stress lah bayanginnya. Belum lagi nyiapin kaldu ayam untuk bubur nya. Nyerah boss!

Jadi saya cari cara paling cepat untuk menyiapkan bubur ayam, dan ada caranya! Yaitu dengan memanfaatkan bahan siap jadi dari supermarket. Pertimbangan kesehatan, produk tidak alami? Itu nomor dua. Buat saya yang penting bisa makan bubur ayam tanpa harus tepar 😉

Bahan siap saji yang saya pakai adalah: 1) kaldu ayam cair dalam kotak (mereknya Campbell), bawang putih halus dalam botol, cakue beli Chinatown, bumbu ayam goreng sebagai kuah bubur (merek Bamboe), bahkan untuk ayam kadang saya beli ayam panggang yang sudah jadi di supermarket, kemudian disuwir-suwir.

Jadi saya mau berbagi cara bikin bubur ayam express menggunakan bahan sudah saji dari supermarket.

Waktu persiapan: 20 menit

Waktu memasak: 30 menit

Bahan bubur:

  • 2 cup beras, cuci dan bilas
  • 4 cup kaldu ayam cair dalam kotak (Campbell)
  • 6-10 cup air matang (makin banyak bubur makin encer)
  • 2 sdm minyak sayur
  • 1 sdt bawang putih halus
  • Garam

Toppings:

  • Kecap asin
  • Kecap manis
  • Kuah bubur: bumbu ayam goreng siap pakai (merek Indofood atau Bamboe), siram air mendidih, aduk rata
  • Lada putih
  • Ayam rebus suwir-suwir (bisa juga beli ayam panggang yang sudah jadi dari supermarket tinggal disuwir-suwir)
  • Cakue, potong-potong
  • Bawang daun, iris tipis
  • Telor, rebus 12 menit
  • Kerupuk
  • Sambal

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak dalam panci besar, tumis bawang putih halus sampai harum.
  2. Masukkan beras, tumis sampai beras terasa kering.
  3. Tuang kaldu dan air matang. Aduk sampai beras tidak ada yang menempel di dasar panci. Taburkan garam secukupnya.
  4. Setelah mendidih, kecilkan api. Aduk sesekali.
  5. Setelah beras mengembang dan hancur, dan sudah terlihat seperti bubur, matikan api.

Cara menyajikan: Taruh bubur di atas mangkuk, tabur kuah bubur, kecap asin, kecap manis, dan semua toppings. Sajikan.

Masih terlihat ribet? Ini sudah cara paling cepat, dan butuh waktu sekitar 1 jam untuk memasak bubur.

Ada yang bilang masak bubur pakai nasi (daripada dari beras) lebih cepat dan mudah. Tapi saya belum coba. Saya sudah puas dengan metode yang ini.

Selamat mencoba.

Sedotan Reusable: Upaya Mengurangi Sampah Plastik

“Itu kayak tabung praktek kimia deh” komentar suami saat saya buka bungkus sedotan kaca yang saya beli dari Amazon.

Mungkin saya salah pilih produk sedotan, padahal ada juga sedotan yang terbuat dari stainless steel yang bentuknya terlihat lebih manis dan ramping.

Tapi yang mau saya bahas di sini bukan sedotan kaca vs. stainless steel, melainkan pilihan untuk mengganti sedotan sekali pakai dengan sedotan yang dapat digunakan kembali (reuseable).

Saya paling suka minum smoothies atau minuman dingin pakai sedotan. Selama ini saya suka beli sedotan plastik dalam jumlah besar. Satu kantong isi 50 buah, harganya cuma C$5 (eq Rp 50.000). Warna-warni, lumayan bisa bikin anak jadi ikut semangat minum smoothies.

Tapi ternyata mengajari anak suka smoothies gak cukup: saya juga ingin mengajari dia untuk gak banyak buang sampah (dia suka banget buang sampah ke tempat sampah). Dari situlah saya terinspirasi beli sedotan kaca. Saya beli di Amazon.ca seharga sekitar C$20 (eq Rp 200 ribu) dapat 5 buah sedotan kaca plus sikat pembersihnya. Saya sodorin deh smoothies pakai sedotan kaca (udah dicuci dulu pastinya) ke anak kecil, dan tetap doyan.

Kesimpulan: warna sedotan gak berpengaruh terhadap minat anak minum smoothies. Tapi mengganti sedotan plastik ke sedotan kaca ngaruh banget buat kami sekeluarga. Saya tidak lagi “memproduksi” sampah sedotan. Habis pakai, tinggal cuci pakat sikat pembersih, gak sampai semenit, voila! siap dipakai lagi.

Kalau dihitung-hitung dari harganya, mungkin kelihatannya mahal ya. Dengan modal C$20, sebetulnya ssaya bisa dapat 4 x 50 sedotan plastik, atau untuk 200 kali nyeruput. Sementara saya agak “taruhan” beli 5 sedotan kaca bisa pecah kapan aja kalau saya selebor (Ya makanya jangan selebor!) tapi saya juga ambil peluang pemakaian tidak terbatas.

200 kali vs. tidak terbatas

Pilih mana?

Tapi terlepas dari itung-itungan harga, yang terpenting saya mengurangi jejak sampah yang keluar dari rumah tangga saya. Saya tidak pernah tahu sampah yang saya “produksi” akan bermuara di mana, yang pasti sampah plastik akan eksis memenuhi lahan di bumi.

So far saya menikmati memakai sedotan kaca reusable and I think you should try it, too!

ASLI Batagor Bandung, bikinnya sekejap!

Buat orang Bandung atau orang yang pernah hidup dan besar di Bandung, pasti tau banget bahwa Batagor otentik itu adalah yang diJual pinggir jalan. Batagor Kingsley dan Riri emang top markotop, tapi Batagor yang beneran ngasih pengalaman “orang Bandung” justru Batagor murmer di depan sekolah atau deket pasar, atau di depan kantor, atau di pusat orang lagi lapar dimanapun lah.

Sebagai penghuni dan besar di Bandung selama 20 tahun, saya kangen bukan main sama Batagor pinggir jalan. Dulu bisa tiap hari jajan, tiba-tiba 2 tahun gak merasakan Batagor sedih banget. Saya pun coba DIY, coba mengolah bahan utamanya, ikan tenggiri.

Ribet banget! Buang durinya ribet, ngehalusinnya juga repot, plus bikin bau amis satu dapur. Hasilnya enak sih, tapi habis dalam sekejapnya itu bikin sakit hati. Not worth my time and effort.

Sampai minggu ini, ketika lagi belanja di supermarket favorit, saya mampir ke counter produk olahan ikan, saya lihat ada “anchovy paste”. Google bentar, ini katanya sih terbuat dari anchovy alias ikan teri, biasa buat campuran berbagai makanan, (lengkapnya tentang anchovy paste bisa baca di Wikipedia). Saya pun nekat beli dengan bayangan “mungkin bisa dicampurin ke adonan tepung terus dijadiin batagor.”

Anchovy Paste yang saya dapatkan di supermarket. Anchovy Paste dibungkus dalam tube seperti pasta gigi

Malam itu juga saya langsung coba. Saya buat Batagor dan Siomay. Hasilnya? 100% Batagor Bandung!! Gak pake repot gak pake capek. Masak sekejap, menghabiskannya pun sekejap. Yang gak bisa masak juga dijamin bisa bikin ini saking gampangnya. Saya pikir saya sudah bisa jadi pedagang Batagor!

Siomay Bandung maknyuss

Jadi saya akan bagi di sini resepnya, buat siapapun orang Bandung di perantauan: Jakarta kek, Sumatera kek, Papua kek, atau di luar negeri manapun. Karena percayalah, tiada Batagor yang lebih nikmat daripada Batagor pinggir jalan Bandung, dan percayalah bahwa lidah Bandung saya gak bohong.

Resep Batagor – Siomay Bandung Ekspres

Untuk 2 porsi

Waktu persiapan: 10 menit

Waktu memasak: 10 menit

Bahan-bahan:

  • 2 sdm tepung terigu
  • 3 sdm tepung tapioka
  • 1 batang bawang daun, iris tipis
  • 1 siung bawang putih, cincang halus (atau bisa diganti dengan 1 sdt bubuk bawang putih kalau gak mau ribet)
  • 1 sdt anchovy paste
  • 50 ml air matang
  • 125 gr Firm Tofu, potong segitiga (ukuran sesuai selera)
  • 8 lembar kulit pangsit
  • Minyak untuk menggoreng
  • Bumbu kacang siap pakai
  • Kecap manis

Cara membuat:

  • Campur tepung terigu, tepung tapioka, bawang daun, dan bawang putih. Tambahkan air sambil aduk perlahan hingga adonan padat seperti pasta.
  • Masukkan anchovy paste, aduk rata.
  • Balut tahu dengan adonan, isi kulit pangsit dengan adonan kemudian goreng di minyak panas hingga kecoklatan. Angkat.
  • Sajikan dengan bumbu kacang dan kecap manis.