Menghitung Biaya Kepemilikan Gadget

Minggu lalu ketika lagi jalan-jalan di mall, saya melewati gerai Apple (siapa sih yang gak tau Apple). Saya pun berhenti sejenak untuk melihat poster yang terpasang di depan pintu masuk. Poster tersebut memuat promosi Apple tentang “trade-ins”: tukar tambah produk Apple. Yang lebih menarik lagi, trade-ins tersebut tidak berlaku hanya untuk tukar tambah produk, tapi juga gift card bahkan uang tunai!

Gadget yang saya miliki semuanya memang merek Apple, bahkan smartphone yang saya pegang saat ini merupakan smartphone Apple kedua saya (yang pertama adalah iPhone 4S yang sudah tidak layak pakai tapi masih berfungsi jadi mainan anak saya). Beberapa gadget Apple saya sudah outdated alias jadul banget, jadi saya pikir boleh juga trade-ins dengan seri terbaru, atau paling tidak saya numpang “membuang” gadget Apple yang lama sambil ngarep dapat sedikit uang untuk modal beli baru.

Saya langsung semangat untuk mempelajari promo tersebut. Karena anak sudah ngantuk minta pulang, saya tidak berkesempatan untuk masuk gerai untuk bertanya. Tapi tidak masalah, saya bisa cek website.

Sampai di rumah saya langsung buka website Apple. Rupanya informasi sudah ada lengkap ada di sana, bahkan tersedia aplikasi kalkulator untuk menghitung nilai gadget saya!

Sayapun langsung coba ikuti petunjuk kalkulator tersebut, dengan memasukkan informasi tentang salah satu gadget tertua saya, yaitu Macbook Air edisi akhir 2010. Kemudian saya diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan berkisar tentang kondisi fisik dan performance gadget saya. Alhamdulillah MacBook Air saya masih dalam kondisi baik sehingga semua jawaban saya tidak mengindikasikan ada kerusakan.

Setelah menjawab semua pertanyaan, muncul nilai estimasi MacBook saya dalam nilai Canadian Dolar, yaitu $126 atau sekitar Rp1,4 juta.

Jujur agak nyesek. Saya beli laptop tersebut pada awal 2011 dengan harga Rp13,5 juta, hanya untuk mendapati nilainya sekarang tinggal 10% dari harga beli. Tapi ya laptop saya tersebut sangat awet, bertahan selama 8 tahun dan kondisinya masih baik!

Saya jadi berpikir, sebenarnya berapa sih biaya memiliki sebuah, bahkan beberapa, gadget? Hari gini siapa sih yang gak punya gadget. Generasi modern macam kita pasti setidaknya punya satu smartphone dan satu laptop. Kalau tajiran dikit, punya Tab dan smart watch juga untuk melengkapi gaya hidup hightech. Tapi pernahkah kita menghitung biaya memilikinya?

Kita hitung yuk. Long story short, saya iseng hitung semua harga gadget Apple saya melalui kalkulator tersebut. iPhone 4S yang saya beli pada pertengahan tahun 2013 dihargai $0 dari harga beli sekitar Rp7 juta, iPad mini 2 yang saya beli di awal tahun 2014 dihargai $0 (juga) dari harga beli sekitar Rp5 juta karena layarnya sudah pecah. iPhone 7 dibeli pada awal 2017 dihargai $226 dari harga retail mungkin sekitar $1,200.

Saya coba menghitung biaya kepemilikan per tahun.

Laptop MacBook Air:

Pemakaian 2011 – 2019: 8 tahun

Harga jual: $126 / Rp1,4 juta

Harga beli: Rp13,5 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp13,5 juta – Rp1,4juta) / 8 tahun = Rp1,51 juta

Smartphone iPhone 4s

Pemakaian 2013 – 2017: 4 tahun

Harga jual: $0

Harga beli: Rp7 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp7juta – Rp0) / 4 tahun = Rp1,71 juta

Tab iPad mini 2

Pemakaian 2014 – 2019: 5 tahun

Harga jual: $0

Harga beli: Rp5 juta

Nilai kepemilikan per tahun:

(Rp5juta – Rp0) / 5 tahun = Rp1 juta

Smartphone iPhone 7

Pemakaian 2017 – 2019: 2 tahun

Harga jual: $226

Harga beli: $1,200

Nilai kepemilikan per tahun:

($1,200 – Rp226) / 2 tahun = $487 atau sekitar Rp5,2 juta

Dari perhitungan di atas, rata-rata biaya kepemilikan per unit gadget adalah di kisaran Rp1,5 jutaan (kecuali iPhone 7 yang tembus Rp5 jutaan). Artinya, saya mengeluarkan biaya sekitar Rp1,5 juta per tahun untuk memiliki sebuah gadget. Semakin banyak gadget yang dimiliki, maka biaya yang dikeluarkan pun makin besar. Pada kasus saya, dengan rata-rata 3 gadget yang saya miliki bersamaan, saya menghabiskan Rp4,5 juta per tahunnya hanya untuk memiliki!

Tapi gadget itu kan untuk produktivitas dan utilitas.

Betul! Jika gadget digunakan untuk menunjang pekerjaan, memperluas jejaring, mengakses ilmu pengetahuan, dan kegiatan produktif lainnya, ada nilai dari mengeluarkan biaya Rp1,5 juta per tahun per unit.

Lha kalau punya 2? 3? 4? Ya silakan jumlahkan sendiri.

Bisya rata-rata Rp1,5 juta itu dalam kondisi kepemilikan gadget selama kurun waktu 4 tahun ke atas ya. Lha kalau sering gonta-ganti? Berdasarkan hasil hitung-hitungan di atas, satu gadget yaitu iPhone 7 memiliki usia paling muda (2 tahun) dan memiliki biaya kepemilikan tahunan yang paling tinggi (Rp 5,4 juta). Artinya, kalau saya jual sekarang, saya menanggung biaya kepemilikan hanya dengan faktor pembagi yang kecil, yaitu 2, sehingga menghasilkan nilai rupiah tahunan besar. Artinya, semakin usianya muda, nilai rata-rata tahunannya makin besar. Artinya lagi, semakin sering gonta-ganti gadget, biaya kepemilikan akan semakin tinggi.

Jadi apa yang bisa dipetik dari ilustrasi ini?

Memiliki gadget itu ada biayanya. Di sisi lain, memiliki gadget ada utilitas alias manfaatnya bagi produktivitas. Untuk itu, sebelum memutuskan untuk memiliki suatu gadget, setidaknya ada 3 hal yang harus dipertimbangkan, yaitu (1) berapa lama kamu berencana mau miliki gadget ini (2) berapa biaya tahunan yang mau ditanggung, mengingat nilainya untuk produktivitas kamu? (3) gadget apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang produktivitas? Semoga dengan menjawab pertanyaan ini kamu bisa membuat keputusan yang paling optimal bagi rasio antara biaya dan manfaat kepemilikan sebuah gadget.