Membuat Anggaran Kondisi Darurat

Setelah 3 minggu #dirumahaja (gara-gara pandemik virus galak COVID-19 tentunya), mulai terasa rutinitas hidup pun jadi berubah. Mulai dari kebiasaan bangun, tidur, cara kerja, pola makan, sampai pola belanja. Nahh, ngomongin pola belanja atau pola konsumsi, kita bicara tentang pendapatan / penghasilan (income) dan pengularan (expense). Dalam kondisi “luar biasa” seperti saat ini, banyak dari kita yang kehilangan akses untuk bekerja, sehingga kehilangan akses terhadap penghasilan.

Kalau kamu beruntung seperti saya, saya masih terima gaji walaupun #dirumahaja, dengan pengurangan take home pay.
Perubahan ini, sedikit ataupun banyak membuat kita semua berada dalam kondisi tidak biasa, bahkan darurat (emergency), termasuk kondisi darurat keuangan pribadi karena ketidakpastian akses ke penghasilan (income). Pasti sudah sering denger dong para ahli keuangan maupun influencer di luar sana, bahwa kita harus “miliki dana untuk biaya hidup selama 6 bulan untuk jaga-jaga kalau menghadapi kondisi darurat.”

Well, behubung kondisi darurat tersebut sudah bukan di depan mata doang, tapi kita udah “nyebur” ke dalamnya, yang terpenting sekarang adalah gimana caranya supaya bisa tetap berenang, kalau gak bisa berenang, do whatever it takes supaya gak tenggelam dan selamat sampai daratan: SURVIVAL! Saya gak akan bicara tentang berapa banyak dana darurat yang se(harus)nya dimiliki, melainkan gimana caranya, berapapun penghasilan atau dana yang dimiliki saat ini, bisa mengelola pola konsumsi untuk BERTAHAN di dalam kondisi darurat ini (yang sayangnya kita gak tahu sampai kapan, seburuk itu kawan). Intinya anggaran kondisi darurat ini downsize dari anggaran pada kondisi normal. Tujuan dari downsizing adalah untuk memberikan kelonggaran bagi kamu untuk memiliki dana bertahan hidup lebih lama: berhemat untuk kehidupan di masa datang yang masih belum pasti.

Struktur Anggaran
Sebelum membuat anggaran, kita harus ngerti dulu jenis pengeluaran. Ada 2 kategori besar jenis pengeluaran, yaitu pengeluaran rutin dan non-rutin. Saya punya tulisan tentang formula dasar mengelola keuangan rumah tangga di sini. It’s a lengthy read, kalau punya waktu baca silakan, namun saya akan coba sederhanakan dan membuat lebih spesifik pada tulisan ini, dan sebagian besar adalah pengalaman pribadi.

Dalam kondisi darurat seperti saat ini, mari kota fokus di jenis pengeluaran rutin saja. Kita singkirkan dulu pengeluaran non-rutin, kecuali sangat mendesak. Toh, di saat ini yang terpenting adalah keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Pengeluaran rutin terbagi dalam 3 jenis dasar, yaitu kebutuhan primer, sekunder, dan tersier (berasa pelajaran SMP ya). Kebutuhan primer adalah yang esensial, yaitu makan, minum, listrik, transportasi. Kebutuhan sekunder adalah yang kontekstual: bisa menjadi esensial dalam suatu situasi, bisa juga menjadi non-esensial dalam situasi lainnya, yaitu pakaian, sepatu, telepon, koneksi internet (contoh: pakaian olahraga merupakan kebutuhan untuk berolahraga, namun kamu masih bisa berolahraga dengan baju lain). Kebutuhan tersier adalah non-essensial, yaitu luxury goods, benda seni, dan yang bersifat hiburan seperti langganan musik, program TV, games, atau bahkan a fancy cup of coffee!

Ilustrasi struktur anggaran

Pengelompokkan ini menjadi formula dalam memahami struktur anggaran. Struktur anggaran menjadi guideline untuk menyusun anggaran.

Menyusun Anggaran Kondisi Darurat
Sebelum membuat anggaran kondisi darurat, kita harus tau dulu apa saja pengeluaran rutin saat kondisi normal. Sudah punya? Very good. Belum punya? Well, sekarang saatnya mengingat-ingat dan menuliskan daftar pengeluaran rutin.

Setelah punya daftar pengeliaran rutin, masukkan ke dalam 3 kelompok 3 kebutuhan: primer, sekunder, atau tersier. Setelah dikategorikan, saatnya mengevaluasi kebutuhan tersebut dan mempertimbangkan ulang kebutuhan masing-masing, dimulai dari yang kelompok yang non-esensial, yaitu dari tersier, sekunder, kemudian terakhir adalah primer.

Berikut breakdown setiap komponen

1. Kebutuhan Tersier
Pada prinsipnya, dalam kondisi darurat kita bisa pangkas habis kebutuhan tersier, karena, well, it’s non-essential.

Kalau bisa bikin roti sendiri, ngapain beli roti dari toko yang harganya bisa 4 – 5 kali lipat dari harga bahan dasar.

Ngapain langganan Netflix? Gak ada nilai yang menambah produktivitas, yang ada bikin tambah males ngapa-ngapain.

Hari gini beli tas branded? Kapan dipakenya?

But let’s be fair. Terkurung di rumah, tidak bisa bersosialisasi, bisa bikin stress. You need to do something that can keep your sanity, walaupun tidak produktif. Jadi, kalau kebutuhan tersier bisa membantu kamu menjaga kewarasan, gak ada salahnya tetap dikonsumsi. Namun, buat skala prioritas, dan pilih yang paling. Misalnya, saya butuk tetap berlangganan Youtube premium supaya bisa mengakses berbagai konten tanpa iklan, khususnya untuk anak saya. Saya rela deh gak sering-sering take out jajan martabak manis atau Ref Velvet Cake dari restoran. Atau, bisa saja korbankan langganan hiburan elektronik (Netflix, Apple Music) supaya bisa sering jajan makanan jadi / take outs daripada stress harus mikirin masak sehari 3 kali. Make your choice.

Tapi plis, plissss banget, bukan milih menutup langganan hiburan elektronik, terus jadi beralih ke layanan ilegal ya gaessss.

Saya bikin cookies dan kopi sendiri di rumah. Harga bahan-bahan untuk membuatnya paling mahal Rp15,000 (dengan bahan premium). Kalau ke Cafe minimal Rp40,000

2. Kebutuhan Sekunder
Menjelaskan kebutuhan sekunder ini agak rumit. It really depends on your personal needs.

Saya ambil contoh langganan internet. Internet ini bisa dibilang kebutuhan sekunder, tapi bisa jadi primer, tergantung kebutuhan. Buat yang sedang Work From Home, koneksi internet ini bisa jadi kebutuhan primer, esensial untuk mendukung produktivitas, modal cari uang. Namun, kalau internet dipakai untuk mainan medsos dan hiburan doang, internet jadi kebutuhan sekunder: semi-esensial.

Langganan internet ini harganya bervariasi, makin mahal kecepatannya makin baik. Nah, kebutuhanmu yang mana? Kalau untuk aktivitas yanh tidak produktif, ngapain bayar mahal untuk langganan kecepatan tinggi? Bisa tetap langganan, tapi pilih fasilitas yang lebih terbatas selama tujuan untuk menghibur diri tetap bisa dilakukan, tanpa bayar tagihan mahal.

Penyedia jasa langganan internet punya beragam jenis paket dengan range harga beragam. (Sumber: cbn.id) – no endorse

Contoh lain: gak perlu beli baju olahraga dulu kalau kamu bisa berolahraga pakai kaos biasa yang ada di rumah.

Intinya, pengeluaran kebutuhan sekunder dalam kondisi darurat bisa saja dihapus, namun kalau sulit, dapat dikurangi dengan menurunkan kualitas konsumsi. Lagi-lagi, you choose what to keep.

3. Kebutuhan Primer
Sebetulnya kebutuhan primer alias esensial tidak ada yang bisa dipotong. You have to maintain it, and don’t cut it. Iya, sepenting itu.

Namun ada yang menarik dari pola pengeluaran kebutuhan primer di saat seperti ini. Berdasarkan pengalaman selama 3 minggu terakhir, saya menemukan pengeluaran untuk kebutuhan primer mengalami pergeseran komposisi, cenderung bertambah. Di satu sisi, saya memotong biaya transportasi secara signifikan karena tidak keluar rumah. Di sisi lain, tagihan listrik dan air meningkat karena kami sekeluarga tinggal di rumah 24/7, groceries meningkat karena kami sekeluarga makan 3 kali sehari di rumah dan tidak mengakses fasilitas publik yang tersedia kalau kami keluar rumah, seperti air minum, tisu toilet, sabun cuci tangan.

Kalau mau tahu detil besaran peningkatan pengeluaran dengan pergeseran rutinitas #dirumahaja, saya sudah tulis beberapa hari yang lalu di artikel Work From Home: Lebih Hematkah?

Intinya, kebutuhan primer bisa bergeser, namun tidak bisa dikurangi, bahkan antisipasi ditambah. Singkat kata, membuat anggaran kondisi darurat adalah mempertahankan agar kebutuhan primer terpenuhi sambil mengurangi / memangkas kebutuhan sekunder dan tersier.

Ilustrasi anggaran sebelum (pre-emergency) dan saat kondisi darurat (emergency). Ini cuma ilustrasi yah. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda dengan besaran anggaran per item yang berbeda.

Udah selesai?

Not quite. Ada 2 hal lagi yang belum masuk ke dalam anggaran di atas, yaitu (1) hutang / cicilan dan (2) sedekah.

Hutang / cicilan, entah itu kartu kredit, KPR, upayakan agar tetap dipenuhi. Plis jangan ngemplang, selama masih punya uang tunai. Kalau sampai tidak sanggup bayar atau kehabisan uang tunai, hubungi pemberi hutang dan jelaskan duduk persoalannya. Who knows mereka punya solusi.

Kalau kamu seberuntung saya yang masih memiliki gaji (dan sudah mengamankan dana darurat), tidak ada salahnya juga bersedekah kepada lingkungan sekitar kita. Kondisi darurat ini adalah masa sulit secara ekonomi bagi banyak orang. We have a social responsibility to protect our neighbourhood, baik itu untuk para pedagang kecil, abang ojol / taksi, atau mendukung bisnis lokal / UMKM yang terkena imbas kondisi darurat. Masukkan ke dalam anggaran rutin, sehingga kamu punya kendali atas besaran dana yang dapat dihabiskan untuk bersedekah. Jangan sampai kamu punya empati segede langit, bagi-bagi sedekah, tau-tau dana tunaimu habis dan kamu jadi gak bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kalau gak punya anggaran untuk sedekah, tidak apa-apa. Yang terpenting dari bersedekah adalah, help yourself before you help others.

Semoga penjelasan di atas bisa kasih sedikit panduan umum cara membuat dan mengelola anggaran kondisi darurat, and hopefully, ketika kondisi sudah normal suatu hari nanti, panduan ini bisa jadi pegangan untuk semakin disiplin dalam mengelola keuangan.

Jakarta, 11 April 2020

Work From Home: Lebih Hematkah?

Disclaimer:

If you can relate to this article a little or so well, please be grateful. You are luckier than 80% of the population.

If you can’t, let’s talk.

Sudah hampir 3 minggu semenjak warga pekerja kantoran ramai-ramai disuruh tinggal di rumah alias Work From Home (WFH) untuk menekan penyebaran virus galak COVID-19. Sebagai anak rumahan, sebetulnya sih saya betah-betah saja tinggal di rumah, paling jadi gak betah kalau anak kecil lagi berisik minta makan.

Yaiya betah lah, karena alhamdulillah masih terima gaji, gak takut kelamaan WFH jadi “dirumahkan.” I’m a lucky b****, dan tentunya kamu juga yang masih terus terima gaji (penuh ataupun dipotong) walau produktifitas kerja berkurang. Let’s take a moment to be grateful…

Berkurangnya aktifitas di luar adalah berkurangnya juga biaya yang dikeluarkan dari aktifitas di luar. Apa sajakah itu? Ada biaya transportasi, jajan makan siang (yang gak bawa bekel), ngopi pagi/sore, dan nongkrong after hour. Kesemuanya itu adalah pengeluaran harian yang sifatnya RUTIN.

Kalau kita sekarang tidak ada pengeluaran untuk beraktifitas di luar, apakah itu artinya pengeluaran rutin bulanan secara keseluruhan akan berkurang, alias jadi berhemat? In my experience, jawabannya adalah BELUM TENTU.

Kenapa? Karena dengan tinggal di rumah, pola rutinitas kita berubah, dan akibatnya adalah adanya pergeseran biaya rutin yang dikeluarkan karena tinggal di rumah.

How? Setiap orang pasti punya pola pengeluaran rutin untuk beraktifitas di luar rumah yang berbeda-beda, seperti berapa besaran biaya transportasi (tergantung moda, jarak), biaya makan siang (warteg, restoran, jasa antar makanan, atau bahkan bekel dari rumah), jajan (di cafe, warung). Pergeseran pengeluaran rutin untuk tinggal di rumah pun pasti tiap orang berbeda.

Nah, jadi saya nulis di sini mau berbagi pengalaman saya selama 2 minggu terakhir tentang kenapa tinggal di rumah tidak menyebabkan penghematan atau pengurangan pengeluaran rutin bulanan secara drastis. Tentu pola pengeluaran rutin saya bisa berbeda dengan kamu, namun setidaknya tulisan ini bisa kasih insight dan memberikan pemahaman tentang struktur keuangan personal kamu di situasi seperti sekarang ini.

Dan tentunya tulisan ini tidak akan membahas aspek pendapatan, karena saya cuma fokus di struktur pengeluaran.

Pengeluaran 1: Utilities

Dengan tinggal di rumah, sadar gak sadar kita menggunakan lebih banyak listrik, air ledeng, gas, dan air minum. Kalau beraktifitas di luar, konsumsi utilities kita “disubsidi” oleh fasilitas bersama, seperti di kantor atau di area publik lainnya.

In my case, dengan mondok di rumah, AC jadi lebih sering nyala (karena suami anti keringetan), cuci piring (dan cuci tangan) lebih sering, gak dapet air minum gratisan dari kantor, dan lebih sering nyalain kompor untuk masak. Tagihan listrik dan air saya di bulan Maret setelah menjalani hampir 2 minggu WFH bengkak dengan besaran 80% dari biaya transportasi yang tidak terpakai karena tidak ke kantor. Konsumsi air galon juga meningkat 50%.

Pengeluaran 2: Makan

Urusan makan ini agak tricky sebetulnya. Ini sangat tergantung pilihan makan selama ini.

Sebagai latar belakang, di hari-hari normal, saya sarapan dan makan malam di rumah, dan makan siang jajan di luar dan sekali-kali (1-2 kali seminggu) bawa bekal. Semenjak WFH, saya full masak terus. Namun karena memiliki lebih banyak waktu untuk memasak, saya cenderung membuat masakan yang lebih time-consuming dan menggunakan bahan makanan tanpa melihat harga karena dengan masak rasanya lebih murah daripada beli makanan.

Nah, ini jadi sumber atas 2 masalah: (1) harga hasil masakan per porsi jadi lebih mahal dan (2) masak terus-terusan bikin jenuh. Masakan per porsi sejak WFH bisa 20-50% lebih tinggi dari biasanya. Sementara itu, kalau saya jenuh masak, saya akan pilih jasa antar makanan siap saji (gofood, gojek) yang harganya mahal dan saya punya kewajiban sosial untuk membelikan abang ojek dan petugas keamanan apartemen. Overall, pengeluaran makan saya tidak berkurang karena biaya untuk makan di luar saat bekerja dialihkan untuk masak mewah dan kewajiban sosial.

Pengeluaran 3: Ngemil

Ini mirip dengan persoalan makan. Tinggal di rumah bikin kecenderungan ingin ngemil terus. Akhirnya jadi banyak pengeluaran untuk beli cemilan.

Pengeluaran 4: Alat Pelindung Diri dan Hygene

Dengan adanya himbauan untuk memperhatikan perlindungan diri dan hygene, saya yang biasanya gak pernah nyetok masker jadi nyetok. Cuci tangan juga jadi lebih sering sehingga sabun cuci tangan lebih cepat habis (plus selama ini cuci tangan di kantor pakai fasilitas kantor). Tisu toilet juga lebih banyak terpakai. Sejak WFH, penggunaan sarana hygene di rumah meningkat sekitar 50%. Semua ini walaupun murah, ada biaya ekstra yang dikeluarkan.

Jenis pengeluaran di atas adalah yang saya rasakan pergeserannya semenjak WFH. Terdapat juga pengeluaran lainnya seperti kuota internet, belanja untuk penyaluran hobi untuk mengatasi kebosanan, dll tergantung fasilitas yang tersedia di rumah. Kesemuanya memiliki konsekuensi biaya yang harus kita sadari.

Kesimpulannya, kita cuma mengalihkan pengeluaran dari biaya beraktifitas di luar ke biaya beraktifitas di rumah. Namun dengan memahami pergeseran ini, sebetulnya kita bisa saja memikirkan bagaimana cara berhemat di tengah situasi seperti ini, yaitu dengan mengedalikan jenis-jenis pengeluaran di atas. Misalnya, dengan tidak ngemil berlebihan, atau mengganti penggunaan AC dengan kipas angin. Sebetulnya asal mau pasti bisa.

Jakarta, 8 April 2020