Membuat Anggaran Kondisi Darurat

Setelah 3 minggu #dirumahaja (gara-gara pandemik virus galak COVID-19 tentunya), mulai terasa rutinitas hidup pun jadi berubah. Mulai dari kebiasaan bangun, tidur, cara kerja, pola makan, sampai pola belanja. Nahh, ngomongin pola belanja atau pola konsumsi, kita bicara tentang pendapatan / penghasilan (income) dan pengularan (expense). Dalam kondisi “luar biasa” seperti saat ini, banyak dari kita yang kehilangan akses untuk bekerja, sehingga kehilangan akses terhadap penghasilan.

Kalau kamu beruntung seperti saya, saya masih terima gaji walaupun #dirumahaja, dengan pengurangan take home pay.
Perubahan ini, sedikit ataupun banyak membuat kita semua berada dalam kondisi tidak biasa, bahkan darurat (emergency), termasuk kondisi darurat keuangan pribadi karena ketidakpastian akses ke penghasilan (income). Pasti sudah sering denger dong para ahli keuangan maupun influencer di luar sana, bahwa kita harus “miliki dana untuk biaya hidup selama 6 bulan untuk jaga-jaga kalau menghadapi kondisi darurat.”

Well, behubung kondisi darurat tersebut sudah bukan di depan mata doang, tapi kita udah “nyebur” ke dalamnya, yang terpenting sekarang adalah gimana caranya supaya bisa tetap berenang, kalau gak bisa berenang, do whatever it takes supaya gak tenggelam dan selamat sampai daratan: SURVIVAL! Saya gak akan bicara tentang berapa banyak dana darurat yang se(harus)nya dimiliki, melainkan gimana caranya, berapapun penghasilan atau dana yang dimiliki saat ini, bisa mengelola pola konsumsi untuk BERTAHAN di dalam kondisi darurat ini (yang sayangnya kita gak tahu sampai kapan, seburuk itu kawan). Intinya anggaran kondisi darurat ini downsize dari anggaran pada kondisi normal. Tujuan dari downsizing adalah untuk memberikan kelonggaran bagi kamu untuk memiliki dana bertahan hidup lebih lama: berhemat untuk kehidupan di masa datang yang masih belum pasti.

Struktur Anggaran
Sebelum membuat anggaran, kita harus ngerti dulu jenis pengeluaran. Ada 2 kategori besar jenis pengeluaran, yaitu pengeluaran rutin dan non-rutin. Saya punya tulisan tentang formula dasar mengelola keuangan rumah tangga di sini. It’s a lengthy read, kalau punya waktu baca silakan, namun saya akan coba sederhanakan dan membuat lebih spesifik pada tulisan ini, dan sebagian besar adalah pengalaman pribadi.

Dalam kondisi darurat seperti saat ini, mari kota fokus di jenis pengeluaran rutin saja. Kita singkirkan dulu pengeluaran non-rutin, kecuali sangat mendesak. Toh, di saat ini yang terpenting adalah keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Pengeluaran rutin terbagi dalam 3 jenis dasar, yaitu kebutuhan primer, sekunder, dan tersier (berasa pelajaran SMP ya). Kebutuhan primer adalah yang esensial, yaitu makan, minum, listrik, transportasi. Kebutuhan sekunder adalah yang kontekstual: bisa menjadi esensial dalam suatu situasi, bisa juga menjadi non-esensial dalam situasi lainnya, yaitu pakaian, sepatu, telepon, koneksi internet (contoh: pakaian olahraga merupakan kebutuhan untuk berolahraga, namun kamu masih bisa berolahraga dengan baju lain). Kebutuhan tersier adalah non-essensial, yaitu luxury goods, benda seni, dan yang bersifat hiburan seperti langganan musik, program TV, games, atau bahkan a fancy cup of coffee!

Ilustrasi struktur anggaran

Pengelompokkan ini menjadi formula dalam memahami struktur anggaran. Struktur anggaran menjadi guideline untuk menyusun anggaran.

Menyusun Anggaran Kondisi Darurat
Sebelum membuat anggaran kondisi darurat, kita harus tau dulu apa saja pengeluaran rutin saat kondisi normal. Sudah punya? Very good. Belum punya? Well, sekarang saatnya mengingat-ingat dan menuliskan daftar pengeluaran rutin.

Setelah punya daftar pengeliaran rutin, masukkan ke dalam 3 kelompok 3 kebutuhan: primer, sekunder, atau tersier. Setelah dikategorikan, saatnya mengevaluasi kebutuhan tersebut dan mempertimbangkan ulang kebutuhan masing-masing, dimulai dari yang kelompok yang non-esensial, yaitu dari tersier, sekunder, kemudian terakhir adalah primer.

Berikut breakdown setiap komponen

1. Kebutuhan Tersier
Pada prinsipnya, dalam kondisi darurat kita bisa pangkas habis kebutuhan tersier, karena, well, it’s non-essential.

Kalau bisa bikin roti sendiri, ngapain beli roti dari toko yang harganya bisa 4 – 5 kali lipat dari harga bahan dasar.

Ngapain langganan Netflix? Gak ada nilai yang menambah produktivitas, yang ada bikin tambah males ngapa-ngapain.

Hari gini beli tas branded? Kapan dipakenya?

But let’s be fair. Terkurung di rumah, tidak bisa bersosialisasi, bisa bikin stress. You need to do something that can keep your sanity, walaupun tidak produktif. Jadi, kalau kebutuhan tersier bisa membantu kamu menjaga kewarasan, gak ada salahnya tetap dikonsumsi. Namun, buat skala prioritas, dan pilih yang paling. Misalnya, saya butuk tetap berlangganan Youtube premium supaya bisa mengakses berbagai konten tanpa iklan, khususnya untuk anak saya. Saya rela deh gak sering-sering take out jajan martabak manis atau Ref Velvet Cake dari restoran. Atau, bisa saja korbankan langganan hiburan elektronik (Netflix, Apple Music) supaya bisa sering jajan makanan jadi / take outs daripada stress harus mikirin masak sehari 3 kali. Make your choice.

Tapi plis, plissss banget, bukan milih menutup langganan hiburan elektronik, terus jadi beralih ke layanan ilegal ya gaessss.

Saya bikin cookies dan kopi sendiri di rumah. Harga bahan-bahan untuk membuatnya paling mahal Rp15,000 (dengan bahan premium). Kalau ke Cafe minimal Rp40,000

2. Kebutuhan Sekunder
Menjelaskan kebutuhan sekunder ini agak rumit. It really depends on your personal needs.

Saya ambil contoh langganan internet. Internet ini bisa dibilang kebutuhan sekunder, tapi bisa jadi primer, tergantung kebutuhan. Buat yang sedang Work From Home, koneksi internet ini bisa jadi kebutuhan primer, esensial untuk mendukung produktivitas, modal cari uang. Namun, kalau internet dipakai untuk mainan medsos dan hiburan doang, internet jadi kebutuhan sekunder: semi-esensial.

Langganan internet ini harganya bervariasi, makin mahal kecepatannya makin baik. Nah, kebutuhanmu yang mana? Kalau untuk aktivitas yanh tidak produktif, ngapain bayar mahal untuk langganan kecepatan tinggi? Bisa tetap langganan, tapi pilih fasilitas yang lebih terbatas selama tujuan untuk menghibur diri tetap bisa dilakukan, tanpa bayar tagihan mahal.

Penyedia jasa langganan internet punya beragam jenis paket dengan range harga beragam. (Sumber: cbn.id) – no endorse

Contoh lain: gak perlu beli baju olahraga dulu kalau kamu bisa berolahraga pakai kaos biasa yang ada di rumah.

Intinya, pengeluaran kebutuhan sekunder dalam kondisi darurat bisa saja dihapus, namun kalau sulit, dapat dikurangi dengan menurunkan kualitas konsumsi. Lagi-lagi, you choose what to keep.

3. Kebutuhan Primer
Sebetulnya kebutuhan primer alias esensial tidak ada yang bisa dipotong. You have to maintain it, and don’t cut it. Iya, sepenting itu.

Namun ada yang menarik dari pola pengeluaran kebutuhan primer di saat seperti ini. Berdasarkan pengalaman selama 3 minggu terakhir, saya menemukan pengeluaran untuk kebutuhan primer mengalami pergeseran komposisi, cenderung bertambah. Di satu sisi, saya memotong biaya transportasi secara signifikan karena tidak keluar rumah. Di sisi lain, tagihan listrik dan air meningkat karena kami sekeluarga tinggal di rumah 24/7, groceries meningkat karena kami sekeluarga makan 3 kali sehari di rumah dan tidak mengakses fasilitas publik yang tersedia kalau kami keluar rumah, seperti air minum, tisu toilet, sabun cuci tangan.

Kalau mau tahu detil besaran peningkatan pengeluaran dengan pergeseran rutinitas #dirumahaja, saya sudah tulis beberapa hari yang lalu di artikel Work From Home: Lebih Hematkah?

Intinya, kebutuhan primer bisa bergeser, namun tidak bisa dikurangi, bahkan antisipasi ditambah. Singkat kata, membuat anggaran kondisi darurat adalah mempertahankan agar kebutuhan primer terpenuhi sambil mengurangi / memangkas kebutuhan sekunder dan tersier.

Ilustrasi anggaran sebelum (pre-emergency) dan saat kondisi darurat (emergency). Ini cuma ilustrasi yah. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda dengan besaran anggaran per item yang berbeda.

Udah selesai?

Not quite. Ada 2 hal lagi yang belum masuk ke dalam anggaran di atas, yaitu (1) hutang / cicilan dan (2) sedekah.

Hutang / cicilan, entah itu kartu kredit, KPR, upayakan agar tetap dipenuhi. Plis jangan ngemplang, selama masih punya uang tunai. Kalau sampai tidak sanggup bayar atau kehabisan uang tunai, hubungi pemberi hutang dan jelaskan duduk persoalannya. Who knows mereka punya solusi.

Kalau kamu seberuntung saya yang masih memiliki gaji (dan sudah mengamankan dana darurat), tidak ada salahnya juga bersedekah kepada lingkungan sekitar kita. Kondisi darurat ini adalah masa sulit secara ekonomi bagi banyak orang. We have a social responsibility to protect our neighbourhood, baik itu untuk para pedagang kecil, abang ojol / taksi, atau mendukung bisnis lokal / UMKM yang terkena imbas kondisi darurat. Masukkan ke dalam anggaran rutin, sehingga kamu punya kendali atas besaran dana yang dapat dihabiskan untuk bersedekah. Jangan sampai kamu punya empati segede langit, bagi-bagi sedekah, tau-tau dana tunaimu habis dan kamu jadi gak bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kalau gak punya anggaran untuk sedekah, tidak apa-apa. Yang terpenting dari bersedekah adalah, help yourself before you help others.

Semoga penjelasan di atas bisa kasih sedikit panduan umum cara membuat dan mengelola anggaran kondisi darurat, and hopefully, ketika kondisi sudah normal suatu hari nanti, panduan ini bisa jadi pegangan untuk semakin disiplin dalam mengelola keuangan.

Jakarta, 11 April 2020

Work From Home: Lebih Hematkah?

Disclaimer:

If you can relate to this article a little or so well, please be grateful. You are luckier than 80% of the population.

If you can’t, let’s talk.

Sudah hampir 3 minggu semenjak warga pekerja kantoran ramai-ramai disuruh tinggal di rumah alias Work From Home (WFH) untuk menekan penyebaran virus galak COVID-19. Sebagai anak rumahan, sebetulnya sih saya betah-betah saja tinggal di rumah, paling jadi gak betah kalau anak kecil lagi berisik minta makan.

Yaiya betah lah, karena alhamdulillah masih terima gaji, gak takut kelamaan WFH jadi “dirumahkan.” I’m a lucky b****, dan tentunya kamu juga yang masih terus terima gaji (penuh ataupun dipotong) walau produktifitas kerja berkurang. Let’s take a moment to be grateful…

Berkurangnya aktifitas di luar adalah berkurangnya juga biaya yang dikeluarkan dari aktifitas di luar. Apa sajakah itu? Ada biaya transportasi, jajan makan siang (yang gak bawa bekel), ngopi pagi/sore, dan nongkrong after hour. Kesemuanya itu adalah pengeluaran harian yang sifatnya RUTIN.

Kalau kita sekarang tidak ada pengeluaran untuk beraktifitas di luar, apakah itu artinya pengeluaran rutin bulanan secara keseluruhan akan berkurang, alias jadi berhemat? In my experience, jawabannya adalah BELUM TENTU.

Kenapa? Karena dengan tinggal di rumah, pola rutinitas kita berubah, dan akibatnya adalah adanya pergeseran biaya rutin yang dikeluarkan karena tinggal di rumah.

How? Setiap orang pasti punya pola pengeluaran rutin untuk beraktifitas di luar rumah yang berbeda-beda, seperti berapa besaran biaya transportasi (tergantung moda, jarak), biaya makan siang (warteg, restoran, jasa antar makanan, atau bahkan bekel dari rumah), jajan (di cafe, warung). Pergeseran pengeluaran rutin untuk tinggal di rumah pun pasti tiap orang berbeda.

Nah, jadi saya nulis di sini mau berbagi pengalaman saya selama 2 minggu terakhir tentang kenapa tinggal di rumah tidak menyebabkan penghematan atau pengurangan pengeluaran rutin bulanan secara drastis. Tentu pola pengeluaran rutin saya bisa berbeda dengan kamu, namun setidaknya tulisan ini bisa kasih insight dan memberikan pemahaman tentang struktur keuangan personal kamu di situasi seperti sekarang ini.

Dan tentunya tulisan ini tidak akan membahas aspek pendapatan, karena saya cuma fokus di struktur pengeluaran.

Pengeluaran 1: Utilities

Dengan tinggal di rumah, sadar gak sadar kita menggunakan lebih banyak listrik, air ledeng, gas, dan air minum. Kalau beraktifitas di luar, konsumsi utilities kita “disubsidi” oleh fasilitas bersama, seperti di kantor atau di area publik lainnya.

In my case, dengan mondok di rumah, AC jadi lebih sering nyala (karena suami anti keringetan), cuci piring (dan cuci tangan) lebih sering, gak dapet air minum gratisan dari kantor, dan lebih sering nyalain kompor untuk masak. Tagihan listrik dan air saya di bulan Maret setelah menjalani hampir 2 minggu WFH bengkak dengan besaran 80% dari biaya transportasi yang tidak terpakai karena tidak ke kantor. Konsumsi air galon juga meningkat 50%.

Pengeluaran 2: Makan

Urusan makan ini agak tricky sebetulnya. Ini sangat tergantung pilihan makan selama ini.

Sebagai latar belakang, di hari-hari normal, saya sarapan dan makan malam di rumah, dan makan siang jajan di luar dan sekali-kali (1-2 kali seminggu) bawa bekal. Semenjak WFH, saya full masak terus. Namun karena memiliki lebih banyak waktu untuk memasak, saya cenderung membuat masakan yang lebih time-consuming dan menggunakan bahan makanan tanpa melihat harga karena dengan masak rasanya lebih murah daripada beli makanan.

Nah, ini jadi sumber atas 2 masalah: (1) harga hasil masakan per porsi jadi lebih mahal dan (2) masak terus-terusan bikin jenuh. Masakan per porsi sejak WFH bisa 20-50% lebih tinggi dari biasanya. Sementara itu, kalau saya jenuh masak, saya akan pilih jasa antar makanan siap saji (gofood, gojek) yang harganya mahal dan saya punya kewajiban sosial untuk membelikan abang ojek dan petugas keamanan apartemen. Overall, pengeluaran makan saya tidak berkurang karena biaya untuk makan di luar saat bekerja dialihkan untuk masak mewah dan kewajiban sosial.

Pengeluaran 3: Ngemil

Ini mirip dengan persoalan makan. Tinggal di rumah bikin kecenderungan ingin ngemil terus. Akhirnya jadi banyak pengeluaran untuk beli cemilan.

Pengeluaran 4: Alat Pelindung Diri dan Hygene

Dengan adanya himbauan untuk memperhatikan perlindungan diri dan hygene, saya yang biasanya gak pernah nyetok masker jadi nyetok. Cuci tangan juga jadi lebih sering sehingga sabun cuci tangan lebih cepat habis (plus selama ini cuci tangan di kantor pakai fasilitas kantor). Tisu toilet juga lebih banyak terpakai. Sejak WFH, penggunaan sarana hygene di rumah meningkat sekitar 50%. Semua ini walaupun murah, ada biaya ekstra yang dikeluarkan.

Jenis pengeluaran di atas adalah yang saya rasakan pergeserannya semenjak WFH. Terdapat juga pengeluaran lainnya seperti kuota internet, belanja untuk penyaluran hobi untuk mengatasi kebosanan, dll tergantung fasilitas yang tersedia di rumah. Kesemuanya memiliki konsekuensi biaya yang harus kita sadari.

Kesimpulannya, kita cuma mengalihkan pengeluaran dari biaya beraktifitas di luar ke biaya beraktifitas di rumah. Namun dengan memahami pergeseran ini, sebetulnya kita bisa saja memikirkan bagaimana cara berhemat di tengah situasi seperti ini, yaitu dengan mengedalikan jenis-jenis pengeluaran di atas. Misalnya, dengan tidak ngemil berlebihan, atau mengganti penggunaan AC dengan kipas angin. Sebetulnya asal mau pasti bisa.

Jakarta, 8 April 2020

Menghitung Biaya Memulai Karir Make-up Artist

Saya bukan makeup artist.

Lalu apa credential saya untuk menulis artikel ini?

Palugada.

Di suatu masa dalam karir (palugada) saya, saya dihadapkan pada satu situasi di mana terdapat 20 orang penari, usia anak dan remaja, tidak tahu cara merias dirinya sendiri, dan hanya bisa mengandalkan sumber daya manusia (Indonesia) yang sangat terbatas di luar negeri. Salah satu bentuk “bargain” saya dalam membujuk sumber daya manusia tersebut adalah dengan menjanjikan bahwa seluruh peralatan berias harus disediakan oleh saya (kami) sebagai pihak penyelenggara acara.

So I started off with a list. Sebagai perempuan banyak gaya hobi belanja makeup yang entah kapan mau dipake, saya gak bego-bego amat lah. Saya paham bahwa makeup itu kategorinya macam-macam, mulai dari foundation, hightlighter, lipstick, you name it. Saya juga tahu cara mengurutkannya.

Tapi yang paling penting, saya tahu betul bahwa makeup ada kelasnya: from e.l.f. to MAC, from Revlon to Tom Ford. Sebuah lipstick berwarna merah harganya bisa mulai dari $3 sampai $50, tergantung mereknya apa. Apakah harga menentukan kualitas? Bisa iya, bisa engga. It’s a matter of save or splurge!

Kalau untuk keperluan sendiri, saya suka dengan luxury brand, splurge, nurut lah sama beauty guru Youtuber favorit saya, Lisa Eldridge, yang punya pelanggan tetap artis A-list macam Kate Winslet. Siapa tahu kalau pakai makeup yang sama bisa secantik artis Hollywood.

Tapi sekarang tugas saya adalah menyediakan perlengkapan makeup untuk merias orang lain. Ini semacam saya harus membelanjakan uang untuk barang modal merias. Pertanyaannya menjadi: selain menyediakan semua kategori makeup yang dibutuhkan, makeup brand mana yang harus saya beli?

Berapa modal yang harus saya keluarkan untuk memiliki aset peralatan untuk merias orang lain?

Mari kita hitung biaya modal memulai karir sebagai makeup artist, berdasarkan pengalaman saya di atas.

1. Beyond single shade

Ada 20 penari, dengan warna kulit yang berbeda-beda. Artinya saya butuh menyediakan lebih dari satu shade foundation, concealer, blush on, dan lipstick juga.

2. Hygene and Care

Ada 20 penari, artinya ada 20 pasang bulu mata yang diberi mascara. Saya butuh 1 aplikator untuk satu orang untuk menjamin mascara tetap higenis. Tidak hanya mascara, tetapi juga 1 aplikator lipstick, aplikator foundation, eyeshadow, blush on, dan liquid liner per orang.

Di sampinh itu, tidak semua kulit wajah dalam kondisi siap diaplikasikan makeup. Artinya saya harus sediakan produk perawatan kulit. Minimal pelembab wajah dan pelembab bibir.

3. Save or splurge?

Ada ribuan brand di luar sana. Satu kategori produk bisa memiliki range harga hingga 10 kali lipat. Apa bedanya? Kualitas, katanya. Apakah yang murah memiliki kualitas lebih rendah? Tidak selalu. Produk mahal katanya terasa lebih nyaman. Yang saya tahu pasti, murah atau mahal, save or splurge, kesemuanya berfungsi. Itu pilihan.

So how much did I spend?

Untuk mengakomodir berbagai jenis warna kulit para penari yang bermacam-macam, saya tidak mau rugi bandar membeli berbotol-botol foundation ataupun berbagai warna blush on. Saya fokus mencari produk dalam format palette: satu produk yang memiliki berbagai macam opsi shade. Saya membeli foundation, concealer, blush on, eyeshadow, lipstick dalam bentuk palette. Harga sedikit lebih mahal daripada harga satuan, dengan kuantitas untuk masing-masing shade lebih sedikit. Tapi yang namanya makeup tidak bisa disimpan terlalu lama, jadi saya justru butuh produk yang cepat habis supaya tidak terbuang jika terlanjur kadaluarsa.

Untuk hygene dan care, saya fokuskan menyediakan produk untuk kulit sensitif. Tentunya jenis kuliat setiap penari berbeda, tapi pilihan produk kulit sensitif setidaknya dapat menghindarkan resiko reaksi kulit (apalagi in my case yang dirias adalah anak-anak dan remaja).

Terakhir, saya berbelanja di dua jenis toko kosmetik: brand kelas menengah dan brand kelas bawah. Mengapa? Saya menyediakan makeup bagi penari yang kebutuhannya hanya untuk tampil paling lama 10 menit di atas panggung, saya hanya butuh makeup yang berfungsi dalam waktu tersebut. Brand kelas menengah maupun bawah bisa memberikan jaminan makeup bertahan untuk kebutuhan tersebut.

Sebagian besar palette saya beli di toko kosmetik NYX (kelas menengah), sebagian lagi saya beli di dollar shop (kelas bawah), termasuk juga perlengkapannya di dollar shop. Untuk kesemuanya, saya menghabiskan $350. Lumayan mahal kan? Atau lumayan murah? You decide.

Kalau saya adalah seorang makeup artist yang mau mulai modal perlengkapan makeup dengan merek kelas atas, misalnya, MAC Cosmetics, saya menaksir bisa menghabiskan 3 kali lipat dari modal yang saya keluarkan di atas. Mahal? Murah? Tergantung sesering apa bisa dapet orderan dan seberapa pandai saya merias orang untuk percaya diri menetapkan tarif. Yang pasti harus dipikirkan berapa lama saya mengharapkan balik modal.

Balik modal. Break even. Itu kuncinya. Bagi yang ngerti dunia per makeup an, pasti gatel banget pengen beli merek makeup yang terbaik dengan harapan dapat hasil karya riasan terbaik. Tapi yang paling penting adalah jangan tekor hanya karena memilih produk yang tidak fit for purpose. Semuanya kembali kepada tujuan dan fungsi berias. Kalau dalam ilmu ekonomi namanya utilitas.

Kalau Lisa Eldridge merias Kate Winslet yang akan difoto oleh ribuan fotografer dan muncul di ribuan berita online dan cetak, masuk akal jika semua produk yang digunakan adalah produk kelas atas. Bayaran dan orderan pun tidak usah ditanya.

Kalau kamu, klien kamu siapa?

Biaya Menjadi Sobat Misqueen

Sebagai lulusan Development Studies, sebetulnya saya agak miris bikin artikel bertema seputaran menjadi miskin. Miskin (poverty) itu lebih dari sekedar tidak punya uang, tetapi merupakan sebuah siklus yang melibatkan keterbatasan kesempatan (opportunity), akses (access), dan tertanam menjadi pola pikir (mindset) yang memengaruhi pilihan (choices).

Ah cukup sudah romantisme bikin essay kuliah. Tulisan saya ini tidak akan berkaitan dengan ilmu Development Studies dengan kemiskinan (comot teorinya dikit-dikit bolelah), tapi mau cerita tentang sesama kelas menengah. Saya dan populasi di sekitaran saya adalah kalangan menengah: belum kaya, tapi jauh lebih sejahtera dari miskin.

… belum kaya … lebih sejahtera …

Nahh, di sinilah persoalan yang mau saya tulis. Menjadi kelas menengah sebetulnya punya kesempatan, punya akses lebih baik, namun masih rentan untuk terjebak dalam mindset dan choices miskin (kembali lagi, karena belum kaya). Yang begini nih namanya kategori kelas menengah tapi sobat misqueen.

Terus apa masalahnya dari menjadi kelas menengah yang sobat misqueen? Here’s the theory: it’s expensive to be poor. Menjadi miskin itu tidak efisien. Pola pikir dan pilihan miskin menjadikan kita harus mengeluarkan resources (tenaga, uang) lebih besar untuk memperoleh kesempatan dan akses.

Kok bisa? Saya coba buktikan teori ini dalam poin-poin berikut ini, tentunya dengan konteks my fellow kelas menengah.

1. Demi belanja gadget baru atau liburan, rela memotong anggaran makan

Duh akhir bulan bokek nih jadi sehari-hari makan Indomie aja ampe gajian

Sering banget kan denger keluhan seperti ini? Kedengerannya lucu sih, sekaligus problematik. Jadi kalau anggaran kebutuhan pokok (makan) sampai harus diirit-irit, uangnya habis dipakai untuk apa saja?

Pernahkah berhitung, berapa sih rasio pengeluaran makan dengan total pengeluaran dalam setahun? My magic number is 20. Ya, 20 persen dari total pengeluaran (penjelasan lengkap tentang berbagai rasio pengeluaran / pendapatan, baca: Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga). Ada 80 persen lagi yang bisa dipakai untuk kebutuhan lain, maka sebetulnya 20 persen itu bukan angka yang besar.

Jadi, kalau kamu berpikir untuk berhemat dengan mengurangi anggaran makan, please think again, karena gak ngaruh! Mau dikurangin sampai setengah pun, cuma menyumbang penghematan 10 persen dari total pengeluaran. Lagian yang bener aja memangkas anggaran makanan sampai setengah. Makan adalah kebutuhan pokok dan merupakan sumber life support, jadi gak boleh dikorting. Pertama, hidupmu jadi gak mutu, kedua gak bisa bikin kamu punya extra uang.

Jadi kalau kamu masih berpikir bisa berhemat dari mengurangi anggaran makan, coba pikirkan lagi apakah kamu sudah layak untuk spending on luxuries. Makan aja susah.

Note: Kalau hasil hitunganmu pengeluaran makan > 20 persen, artinya kamu belum kaya, karena pengeluaran paling pokok yaitu urusan perut menghabiskan porsi yang besar. Kalau = atau < 20, selamat! Kamu sudah makmur.

2. Belanja macem-macem pakai kartu kredit, kemudian tiap bulan bayar tagihan minimum

Sebagai kelas menengah yang agak “mampu”, sudah pasti jadi incaran sales kartu kredit. Lagian, hari gini masak gak punyakartu kredit? Kartu kredit memberikan banyak kemudahan transaksi, ngasih reward point, dan tinggal gesek kalau sedang tidak bawa uang tunai. Saking wuenaknya gesek, gak kerasa sudah pada batas pemakaian per bulan.

Kalau saatnya ditagih, sudah pasti harus bayar. Nah ini bagian ini paling tidak enak. Selama belanja gak kebablasan sih, gak ada masalah, penghasilan setelah dikurangi tagihan pokok masih mencukupi untuk bayar tagihan kartu kredit, tinggal bayar penuh. Selesai. Tidak ada biaya tambahan.

Gimana kalau ternyata sisa penghasilan tidak mencukupi? Bisa saja bayar cicilan minimum, tapi artinya kamu harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar apa yang sudah kamu beli sebelumnya menggunakan kartu kredit, karena kamu harus bayar bunga. Bayangkan, betapa mahalnya hidup kamu kalau memilih jalan ini. Pilihan buruk jadi pilihan mahal, sobat misqueen harus menanggung biaya lebih besar.

Kalau mau tips lengkap memakai kartu kredit, baca tulisan saya tentang Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit

3. Punya rekening tabungan premium, kemudian harus bayar biaya admin bank karena jumlah tabungan di bawah syarat minimal

Kelas menengah kece sudah pasti punya rekening tabungan. Tapi masak iya punya jenis tabungan biasa-biasa saja, fasilitas minim, jatah transaksi terbatas, gak kelas dong. Rekening tabungan kalau perlu yang batas transaksinya setinggi harga tas luxury brand, karena siapa tahu butuh beli LV tunai.

Rekening tabungan premium bisa memberikan kenikmatan seperti itu. Sebagai contoh, rekening tabungan saya dan suami ada di bank yang sama, tapi yang saya jenis silver, dia gold. Jelas beda fasilitasnya. Saya cuma bisa narik uang di ATM Rp5 juta per hari, dia bisa sampai Rp25 juta.

Tapi yang namanya rekening tabungan premium, bukan tanpa “harga” loh ya. Ada batas minimal jumlah tabungan yang disyaratkan untuk bebas biaya admin bulanan. Sehari saja dalam sebulan jumlah tabungan di bawah syarat, langsung deh kena biaya admin.

Artinya, kalau mau punya rekening tabungan premium, kamu harus punya banyak tabungan, harus tajir. Kalau uang cuman numpang lewat, selamat Anda adalah sobat misqueen yang harus ngebayarin bank tiap bulan untuk menikmati rekening tabungan premium.

4. Melihat expenses dan income bulanan, bukan tahunan

Kalau mau menghitung besaran kapasitas finansial, wajib hukumnya memahami expenses dan income dengan melihat agregat tahunan. Karena yang namanya pengeluaran (kadang penghasilan juga) tidak bisa disamarataksn setiap bulannya. Ada pengeluaran non rutin, penghasilan bonus, yang kesemuanya harus dicatat dan dipetakan untuk menyusun strategi tata kelolanya.

Kalau kamu masih bicara penghasilan bulan ini untuk pengeluaran bulan ini, dan bulan depan dipikir belakangan, apa bedanya pola pikir ini dengan rekan-rekan kita di kalangan bawah yang masih memikirkan besok makan apa?

So, are you one of the examples above?

PS: please comment kalau ada poin lain yang menurut kamu merupakan ciri kelas menengah sobat misqueen.

Biaya Kepemilikan Tas Designer Brand

Sebelumnya saya minta maaf kalau tulisan ini dianggap kurang sensitif karena mengekspos perilaku belanja saya yang terkesan berlebihan. Saya sadar ini berlebihan. Percayalah, bukan maksud saya mau riya, tapi saya pengen kasih edukasi tentang konsekuensi dari memiliki perilaku belanja tas mahal. It’s ugly, baca deh.

Mungkin buat beberapa orang, judul di atas agak bombastis, jadi sebelum mikir terlalu jauh apa itu “tas designer brand” dalam tulisan ini, saya batasi definisinya dengan tas merek desainer yang harga belinya di kisaran 2-10 juta perak. Kisaran harga ini sangat bergantung pada material dan ukuran tas.

Mahal? Murah? Relatif, tergantung disposable income kamu. Buat saya sih, mengeluarkan uang segitu untuk beli tas udah mahal.

Tulisan ini saya tujukan bagi kamu yang sudah pernah punya 1 atau lebih tas merek desainer, atau yang sedang naksir untuk melakukan pembelian pertama. Saya sendiri sudah punya “beberapa”.

Sebelum masuk ke penghitungan biaya kepemilikan, saya mau cerita dulu tentang ide memiliki tas mahal. Memiliki tas merek desainer ini butuh “komitmen.”

Jadi tas merek desainer pertama adalah “Coach” yang saya beli tahun 2013 atau sekitar 6 tahun yang lalu. Belinya pake drama semenjak 2 tahun sebelumnya. Hampir tiap ke mall kerjaannya nongkrong depat gerai, duit udah punya tapi kok ya gak tega untuk beli. Sampai akhirnya suatu hari suami udah empet denger saya ngoceh tentang punya tas baru, lalu menyeret saya masuk ke gerai “Coach” dan melarang saya keluar sampai saya ambil 1 tas. Alhasil saya pun beli tas merek desainer pertama saya: tas kantor ukuran besar yang apapun bisa masuk ke situ. Multifunction.

It’s a good investment, they say. Punya tas mahal bikin percaya diri, dan dijamin awet karena menggunakan material premium. Ok. Saya setuju bikin percaya dirinya karena desainnya memang keren sampai kok rasanya saya jadi lebih cantik dan keren, dan saya juga setuju materialnya jauh lebih bagus daripada tas biasa.

Awet? Nah ini relatif. Untuk menjamin bisa dipake lama, tas mahal butuh komitmen merawat: kalau bahan kulit ya rajin-rajin dibersihkan pakai pembersih khusus kulit, kalau bahan kain, ya rajin-rajin disikat/dilap. Udah komitmen merawat aja? Enggak. Kamu juga butuh komitmen untuk membeli tas mahal lagi.

Lho apa gunanya punya tas mahal kalau harus bikin komitmen beli lagi?

Buat yang sudah punya beberapa, mungkin udah ngerti kenapa. Buat yang belum pernah punya, this is the little dirty secret you need to know. Kowe ora bakal iso mudun, ndhuk! (Kamu gak akan bisa turun kelas, sis!). Kalau udah punya satu, most likely kepengen punya lagi. Tas non merek desainer jadi kelihatan bapuk semua, dan kamu akan gak punya kepercayaan diri kalau gak pake tas mahal. Masa yang dipake satu itu doang? Masa cuma punya tas kantor? Butuh juga dong tas maen, tas kondangan, dan tas-tas lainnya yang ada dehhhh pokoknya.

Nah, setelah 2 jenis komitmen ini bisa kamu pahami, baru kita bisa mulai hitung biaya kepemilikannya.

Oh wait belum selesai. Kalau tas mahal itu awet, umurnya berapa lama? Ini relatif. Saya coba pakai pengalaman saya. To begin with, saya gak selebor sama barang, artinya I use them well, tapi bisa dibilang saya juga gak apik-apik amat: saya bukan tipe yang rajin ngelap, bersihin dan doing the care stuff juga. Saya lakukan sih, tapi gak sering. Misalkan, saya bersihin tas saya mungkin 6 bulan sekali. Sering atau jarang? Saya gak tau, you judge.

Jadi untuk menghitung biaya kepemilikan tas mahal, saya pakai contoh tas Coach kulit pertama saya. Beli di tahun 2013 dengan harga sekitar Rp5 juta, tas tersebut sekarang sudah berusia 6 tahun. Gimana kondisinya sekarang?

Kulitnya masih bagus, bentuk masih ok, model masih cukup up-to-date. Ada beberapa sudut yang terkelupas, tapi tidak mengganggu. Overall, masih layak pakai.

Bagus dong?

Tapi saya udah malas untuk memakainya. Kenapa? Warnanya agak memudar, tidak sekinclong saat pertama kali beli. Sebetulnya tidak masalah. Tapi kalau dibandingkan dengan tas kulit Coach yang dibeli di tahun 2017, jelas terlihat perbedaannya. Saya lebih pede memakai yang baru karena tas baru masih terlihat kinclong.

So I have an attitude problem here. Saya gak mau pakai tas tahun 2013 karena walaupun dari sisi fungsional masih baik (sesuai janji tas mahal yang memiliki kualitas baik), namun SELERA saya atas tas tersebut ada umurnya. Selera saya dan kamu berbeda, tapi rupanya selera saya bertahan hanya sampai 6 tahun.

Jadi mari hitung biaya kepemilikan tas Coach pertama saya:

Rp5 juta : 6 tahun = Rp830 ribu per tahun

Jadi saya menghabiskan Rp830 ribu per tahun untuk menunjang rasa percaya diri dan cantik melalui 1 tas mahal saya ini. Asumsikan kalau Rp830 ribu sebagai baseline, kalau saya punya 5 – 10 tas, kalikan saja dengan jumlah yang dimiliki. Jadi berapa hayoo?

Asumsimya kurang valid? Ok saya ambil satu sampel lagi, yaitu tas Longchamp Le Pliage sejuta umat. Saya beli di tahun 2018 dengan harga eq Rp1,8 juta, dan melihat kondisinya sekarang, saya proyeksikan tahun depan sudah harus dihibahkan, jadi umurnya maksimal 2 tahun.

Rp1,8 juta : 2 tahun = Rp900 ribu

Sama kan?

Is it even a good investment?

Mahal. Sungguh mahal.

Saya sudah masuk dalam perangkap kepercayaan diri yang diukur salah satunya dari tas bermerek. Alhamdulillah saya masih punya disposable income yang memungkinkan saya untuk “berinvestasi” pada tas yang bikin percaya diri. Tapi ini mahal, mahal banget. Kalau tidak mampu, plis jangan dipaksakan.

Moral of the story: Sebelum membeli tas bermerek, selalu ingat bahwa kepemilikan jenis barang ini butuh 2 jenis komitmen: perawatan untuk menjadikannya terpakai dalam jangka waktu panjang dan bersiap diri untuk pembelian tas bermerek berikutnya karena wis ora iso mudun (gak bisa turun kelas).

Masih tertarik?