Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Memasuki tahun baru 2019, dan untuk membuka topik Personal Finance, saya mau bahas tentang formula dasar mengelola keuangan.

Nothing fancy, saya ingin berbagi pengalaman mengelola keuangan agak serius selama 8 tahun terakhir. Serius karena saya catat semua pengeluaran dengan rapih, and it’s safe to say that 8 annual personal financial records have statistical and analytical value (duileh).

Tentang Pengeluaran

Hal pertama yang mau saya bahas adalah: expenses. Lupakan dulu punya gaji/pemasukan berapa, memahami expenses itu penting banget, karena ini justru sumber masalah utama keuangan (admit it, we all have issues with the way we spend :p), baru kemudian bahas penghasilan.

1. Pahami struktur pengeluaran tahunan

Kalau mau lihat sebetapa boros dan hemat kita, lihat pengeluaran dalam setahun, bukan bulanan, apalagi harian. Pengeluaran itu ada 2 jenis: rutin dan non-rutin.

  • Rutin: pengeluaran yang udah pasti ada setiap bulannya dan kurleb per bulan sama, seperti groceries, transport, tagihan listrik, air, pulsa, dan jajan-jajan (nongkrong di resto, kafe)
  • Non-Rutin: pengeluaran every once in a while, seperti beli baju, beli makeup, nyalon (ini relatif sih, bisa juga jd rutin kalo emang wajib tiap bulan), bayar pajak mobil, servis mobil, PBB, ngecat rumah, travelling)

Setelah menentukan pengeluaran rutin dan non-rutin, pahami ratio-nya. Berapa ratio yang ideal antara pengeluaran rutin dan non-rutin? Berdasarkan catatan saya, pengeluaran non-rutin yang cucok mencakup max 30% persen dari seluruh pengeluaran. Kalau jebol, you’d better have good reason for that :p .

What does it entail? Dari struktur pengeluaran, kamu harus bisa tentukan ratio pengeluaran rutin dan non-rutin, and my ideal number is 70 : 30.

Trus gimana cara menentukannya dan nilai uangnya? Gampang! Buat daftar seluruh perkiraan pengeluaran rutin (pasti udah tahu apa aja dan berapa angkanya), jumlahkan, terus dikali 12. That would be your 70, trus tinggal dihitung aja yang 30 nya. I give you the simple math:

Misal: setelah pengeluaran rutin dijumlah adalah 100 juta, cara menentukan anggaran untuk pengeluaran non-rutin:

100 juta x 100/70 x 30/100 = 42.9 juta maksimal

Jadi pengeluaran dalam setahun: 100 + 42.9 juta = 142.9 juta

Penetapan ratio ini bisa disesuaikan tergantung penghasilan. Yang pasti, persetase pengeluaran rutin boleh > 70%, namun pengeluaran non-rutin kalau < 30% lebih baik.

2. Pahami struktur pengeluaran non-rutin

Karena pengeluaran non-rutin ini sudah dipatok batas maksimalnya, kita dalami lagi struktur pengeluaran non-rutin, yaitu essensial dan non-essensial.

Pengeluaran essensial terdiri dari yang dibutuhkan dan wajib, misalnya beli baju ketika baju udah belel, sepatu olahraga ketika udah rusak, bayar pajak mobil, PBB, servis barang yang rusak.

Non-essensial terdiri dari beli blush on warna peach shimmer karena baru punya yang warna pink, beli sepatu warna merah karena cuma punya yang hitam, dan apapun yang sifatnya keinginan.

Terus berapa ratio yang ideal untuk membagi yang essensial dan non-essensial? Jawabannya: tidak ada. Tidak ada karena pengeluaran non-rutin tidak sepenunhnya bisa diprediksi. Siapa yang bisa prediksi sepatu tiba-tiba jebol, atau ada saudara yang butuh bantuan. Artinya, sebisa mungkin kendalikan pengeluaran non-essensial.

Gak menjawab ya? Well, karena mengendalikan keinginan itu adalah attitude, bukan science :p.

3. Strategi berhemat

Dengan berpegang bahwa pengeluaran rutin dan non-rutin adalah 70 : 30, di mana yang dipatok batas maksimalnya adalah yang non-rutin, kalau ingin berhemat, berhematlah di komponen non-rutin. Kenapa? Bayangkan, non-rutin tidak terjadi tiap bulan tapi menguasai 1/3 sumber pengeluaran!

Di dalam pengeluaran rutin, semuanya adalah essensial, namun di dalam pengeluaran non-rutin, ada aspek essensial dan non-essensial. Jadi, ya kendalikan dulu pengeluiaran non-rutin.

Jadi gimana cara berhemat dari pengeluaran non-rutin?

Buat skala prioritas. Alokasikan untuk pengeluaran wajib yang sudah pasti ketahuan akan ada dan bisa diperkirakan jumlahnya, seperti pajak mobil, PBB, travelling (kalau memang direncanakan di tahun tersebut), bayar iuran kartu kredit. Lalu yang sifatnya insidentil, seperti servis mobil / rumah. Apakah rumah bener-bener sudah harus dicat, atau kursi mobil yang udah butek harus diganti, atau bisa ditunda sampai tahun depan? Kalau bisa, ya anggarkan di tahun berikutnya sebagai pengeluaran wajib. Terakhir yang sifatnya impulsif: apakah yang masih ada sisa setelah dialokasikan untuk yang wajib dan insidentil?

“Duh tapi tahun ini aku butuh beli tas LV yang mahal banget, ada gak pengeluaran rutin yang bisa dikorbanin juga?”

Jawabannya: Bisa saja. Di atas saya sebut bahwa jajan-jajan masuk dalam pengeluaran rutin. Yes, you deserve to get leisure every month, but it’s you who decide how much. In my case sih idealnya 10- 20% dari seluruh pengeluaran rutin, tergantung selera (dan penghasilan tentunya). Kalau kamu merasa punya kebutuhan untuk berimpulsif ria, ya jajan-jajan cukup dialokasikan 10% aja untuk kompensasi.

Tapiiii, jangan pernah berpikir untuk berhemat di makan! Makan sehari 3 kali dengan gizi seimbang itu fardhu ain: wajib hukumnya. Makan adalah taking care of your health, so please jangan dikorting-korting! Sebetulnya kamu akan terkejut kalau melihat datanya bahwa komponen makan itu sangat kecil di antara pengeluaran lainnya, jadi berhemat di komponen ini percuma karena GAK NGARUH, namun too many people focus on saving on this component.

Misalnya nih, sekali makan ongkosnya 15 ribu, artinya makan 3 kali sehari 45 ribu. Terus kamu pengen hemat dengan makan sehari 2 kali ajah, jadi potong 15 ribu pengeluaran makan sehari. Sebulan kamu hemat 15 ribu x 30 = 450 ribu. Setahun x 12 bulan = 5,4 juta sajahh!! Buat nalangin beli iphone baru juga gak bisa gaes, tapi kamu ngorbanin kesehatan, no way!

5,4 juta bisa kamu dapatkan dari penghematan di pengeluaran non-rutin, misal dengan menahan diri gak liburan Singapura pas long weekend dan menggantinya dengan liburan ke Bandung (kalo kamu tinggal di Jakarta)

Hubungan dengan penghasilan

Udah cerita panjang lebar tentang pengeluaran, belum ngomongin penghasilan nih. Gimana mau nentuin bisa mengeluarkan berapa kalau gak tau penghasilannya berapa.

Gak juga. Makanya di atas kita selalu bicara ratio dan persentasi kan, supaya bisa disesuaikan berapapun penghasilannya.

Intinya gini, semakin besar penghasilan, ratio pengeluaran rutin akan cenderung semakin mengecil dengan pengeluaran non-rutin. Kenapa? Semakin meningkatnya kesejahteraan (=penghasilan) pasti kita pengen dong menikmati belanja keinginan. Keinginan adanya kan di kategori non-rutin, artinya pengeluaran non-rutin akan meningkat. Tapi yang penting jaga rationya: 70 : 30 is a fair ratio untuk kelas menengah, pengeluaran rutin bisa aja naik, tapi non-rutin jangan deh. Tapi kalau kamu masuk dalam kategori horang kaya, abaikan semua tulisan ini :p

Berapa penghasilan yang bisa dikeluarkan, berapa yang harus ditabung? Saya sih gak mau mendikte berapa banyak, it’s personal. Yang penting, pengeluaran gak boleh lebih besar dari penghasilan, alias gak boleh ngutang untuk pengeluaran konsumsi.

Kalau ngutang beli rumah gimana? Boleh, tapi ceritanya bisa satu artikel lagi buat topik yang ini 🙂

Yang pasti, usahakan bisa nabung, batas ideal saya sih minimal 10% dari penghasilan dalam setahun. Lebih dari itu lebih baik, kalau gak mampu 10%, berapapun deh, yang penting hidup harus punya cadangan :).

Misal, pasti udah tau kan gaji per bulan berapa dan dapet berapa kali dalam setahun. Jumlahkan kemudian kali 10% atau berapapun yang kamu mau, baru sisanya kamu sebar ke perkiraan pengeluaran rutin dan non-rutin, dan bisa dibagi HABIS tanpa merasa bersalah.

Terus gimana kalau penghasilannya gak rutin kayak pengusaha, pedagang, atau PNS yang ngarep uang jaldis dan honor ? Saya gak punya jawaban buat pengusaha dan pedagang (gak punya pengalaman, walao kata emak yang pedagang, bisa diprediksi rata-rata tahunannya). Tapi buat PNS yang punya aspek jaldis dan honor, hitung penghasilan yang sudah pasti ajah, yaitu gaji dan tunjangan, dalam memproyeksikan pengeluaran tahunan. Anggapkan uang jaldis dan honor itu durian runtuh, atau bahkan pos tabungan.

Mengelola penghasilan: investasi

Buat saya mengelola pengeluaran adalah yang paling penting dalam pengelolaan keuangan secara keseluruhan. You have to understand your spending in order to manage your finance (sebetulnya ini teori kelas menengah, kalau kamu horang kaya / konglomerat udah pasti teori ini kamu ketawain).

Sementara mengelola penghasilan adalah a way forward: setelah kamu mampu memahami dan mengelola pengeluaran dengan benar dan bijak (inget ya it’s an attitude).

Buat salary men and women (populasi terbesar) penghasilan itu udah saklek, udah pasti, gaji tiap bulan sama,.

Semua orang bilang kita harus investasi, but it’s easier said than done kan. Gimana caranya hayo? Gimana cara mulainya?

Terus terang saya belum bisa bicara banyak tentang topik mengelola penghasilan: I still on my journey to find out the best practice of managing my asset portofolio. Tapi setidaknya saya mau berbagi cara termudah untuk memulai (disclaimer: berhubung mudah, jangan harap return-nya bisa fantastis ya, namanya juga mulai)

Setelah bisa nabung, tabungannya diapain? Langkah pertama, lindungi nilainya. Katanya Indonesia mengalami inflasi 10 persen tiap tahun, artinya duit 100 ribu tahun ini nilainya lebih kecil dari nilai tahun lalu. Nominal boleh sama, nilai takkan pernah sama (duileh). Lindungi nilainya, setidaknya supaya tabunganmu gak aus dimakan zaman. Misal, beli emas jelas gak akan kasih keuntungan, tapi bisa menjaga nilai uangmu supaya gak erosi kayak batu yang disamber ombak. Gak ngapai-ngapain tau-tau kena korting, apa salahkuu? Dan bisa dicairkan jadi duit kapanpun butuh. Atau deposito, cuman bisa ngasih 8 persen setahun sih, tapi daripada di rekening bank coba, dapet 3 persen buat bayar biaya admin juga wkwkwkwkwk.

Kalo mau yg lebih canggih, beli properti produktif, bukan sekedar properti/tanah yg setelah dibeli merem berharap harganya naik terus: itu bokis! Properti/tanah itu gak liquid, gak bisa disulap jd duit ketika lagi butuh, jadi harus yang produktif, yang bisa kasih cashflow tiap bulan. Mau yg lebih canggih lagi? Main di pasar uang. Kalau ngerti yang beginian (saya enggak) bisa ngasih penghasilan besar, lebih dari sekedar lindung nilai (dan ngasih penghasilan tambahan) tapi ada resiko dan tentunya harus do your market research, yang tentunya mengambil waktu produktif kamu juga (jam kerja tambahan).

Intinya sih 2 hal, mengelola penghasilan itu yang penting lindung nilai, kemudian bisa diekspansi jadi keuntungan / tambahan penghasilan. But the more you want to gain, the more you have to work on it. Gak ada tuh ceritanya ngelola aset sambil merem tiba-tiba bikin kaya. Semua pake usaha, warisan aja ngelolanya butuh usaha (ngerawat banyak harta emangnya gampang?).

Kesimpulan

Understanding your finance takes 4 steps. Pertama adalah memahami dulu struktur pengeluaran, kemudian memahami kebutuhan dan keinginan, sesuaikan pengeluaran dengan penghasilan, dan terakhir going forward dengan mengelola aset ketika tiga langkah utama sudah bisa dijalani. Membuat proyeksi keuangan tahunan sangat penting, yang di dalamnya melibatkan kendali. Kendali lewat disiplin mencatat, mengawasi, dan kendalikan keinginan.

Mengelola keuangan itu sikap, bukan hanya ilmu pengetahuan.