Review Menstrual Cup: Nyesel.. Nyesel Gak Dari Dulu!

Saya tidak akan cerita apa itu menstrual cup. Asumsi saya siapapun yang baca artikel ini pasti sudah tahu dan sedang mencari review tentang produk ini. So here it is… pengalaman saya dengan Menstrual Cup.

Saya sudah kepingin banget mencoba pakai menstrual cup sejak 4 tahun lalu waktu masih tinggal di Kanada. Diva cup, produk pertama menstrual cup, adalah buatan Kanada.

Tanya kanan kiri, belum ada yang punya pengalaman. Mungkin saya saja yang kurang gaul, karena di internet sudah marak banget.

Saya nanya ke suami, suami spontan discourage. “Dengernya aja ngilu” gitu katanya. “Yang ‘aman’ saja pakai pembalut.”
Well, kata siapa pembalut paling aman?

Fast forward pulang ke Indonesia, ternyata menstrual cup sudah ada made in local-nya, G Menstrual Cup. Belakangan IG profile-nya sering banget nongol di timeline.

Akhirnya saya pun termakan targeted ads nya Instagram. Admin G Menstrual Cup bisa kasih konsultasi gratis, ya udah saya WA admin.

Saya menanyakan ukuran yang paling pas untuk saya: first timer namun sudah pernah melahirkan. Saya disarankan untuk memakai ukuran S (mereka punya 3 ukuran: XS, S, dan L). Langsung detik itu juga saya pesan. Harganya 150 ribu, gak jauh beda dengan modal coba-coba skincare.

(Untuk cara pakai dan informasi2 detail lainnya cek di IG mereka saja di sini.)

Sudah baca petunjuk, nonton tutorial, baca tips and tricks, cobain di perioed pertama gagal total. It didn’t work, at first try.

Namun memang menurut petunjuk, memakai menstrual cup adalah learning curve, perlu latihan 2-3 period untuk kita bisa “menemukan” cara yang paling pas untuk kita. It’s individual experience you cannot compare, so they say.

Jadi kuncinya: coba terus sampai berhasil.

Di periode kedua akhirnya saya berhasil pakai. Saya gak bisa jelaskan, pokoknya I have “that” spot dan sejak itu pemakaian lancar terus.

It feels so good I wish I knew it before, and here’s why…

1. Pakai menstrual cup bikin lupa sedang period
Menstrual cup setelah terpasang dengan benar, tidak terasa apapun. Tidak ada rasa mengganjal sedang menggunakan sesuatu, bahkan aliran period pun tidak terasa sama sekali!

2. Tidak kuatir bocor
Gimana mau kuatir bocor, period saja lupa! Apabila dipakai dengan benar dan cup tidak penuh, dijamin tidak akan ada kebocoran.

3. Tidak ada oksidasi
Darah yang ditampung oleh cup tidak terkespos udara dan langsung dibuang, sehingga tidak teroksidasi. Saya jadi merasa lebih “bersih” dan nyaman di selama masa period.

4. Lepas pasang cukup 2-3 kali sehari
Menstrual cup diklaim bisa menampung darah hingga 12 jam, bahkan tidak perlu dilepas saat buang air kecil. Tapi kalau saya sih lebih suka cek 6-8 jam sekali, just to be sure cup tidak kepenuhan.

5. investasi jangka panjang modal 150 ribu
Kalau pakai pembalut, harus modal 30-50 ribu setiap bulan. Menggunakan menstrual cup cukup modal 150 ribu, bisa dipakai sampai beberapa tahun ke depan! Hemat dan baik untuk lingkungan.

Satu hal penting yang saya temukan dari menggunakan menstrual cup adalah, it has changed my perspective about period and menstrual blood. Untuk pertama kalinya saya merasa nyaman dan percaya diri di masa period

… ada prekondisi yang harus dipenuhi dalam menggunakan menstrual cup, yaitu akses ke air bersih dan produk hygene.

Di sisi lain, semua produk punya pros dan cons. Menstrual cup is super highly recommended dibandingkan dengan pembalut. Namun menurut pengalaman saya, ada prekondisi yang harus dipenuhi dalam menggunakan menstrual cup, yaitu akses ke air bersih dan produk hygene.

Ada alasan kenapa pembalut biasa begitu populer, bukan hanya karena praktis sekali pakai buang, namun higenis bagi yang tidak punya akses air bersih dan produk hygene. Namun ya memang sayangnya jadi masalah baru, yaitu masalah lingkungan.

Setiap kali saatnya lepas pasang, menstrual cup harus dibersihkan dengan air bersih dan sabun. Setelah periode menstruasi selesai, menstrual cup juga harus direbus supaya steril sebelum disimpan untuk periode berikutnya.

Aspek hygene sangat penting dalam penggunaan menstrual cup, karena it’s something we put inside our reproductive organ. Sayangnya, sanitasi masih merupakan barang mewah khusunya di Indonesia.

So memang kalau mau mengatasi masalah lingkungan, kuncinya adalah manusia yang sejahtera dulu (loh kok jadi SJW)

Eniwei that’s my two cents!

Muslin Cloth sebagai Alternatif Kapas Wajah

Gak tau kenapa ya, peradaban pengeruk kapas ini punya kualitas kapas yang juelek!

Tahun pertama tinggal di Kanada, saya harus ke counter Shiseido yang merek Jepang itu untuk beli kapas dengan kualitas standar buat pake produk wajah lah. Harganya? Murahhh, untuk 165 lembar saya bayar CAD11 (eq 120 ribu). Ada yang lebih murah? Adaaaaaa. Tapi rasanya kayak nempel amplas di muka 😭😭😭

Tahun kedua, saya mulai eungap bolak balik beli kapas ratusan ribu yang cuman bertahan kurang dari 2 bulan. Sayapun mulai bertanya-tanya: Orang sini pake apa sih buat bersihin muka?

Jawabannya: ya kapas berasa amplas!

Sayapun mengahbiskan waktu berjam-jam browsing situs Sephora online, dan nemulah yang namanya muslin cloth. Katanya sih bisa jadi alternatif kapas untuk memakai produk pembersih wajah.

Karena demi mengumpulkan poin di Sephora dan sedang promo diskon, sayapun gagayaan beli muslin cloth branded seharga CAD20 (eq 210 ribu). Lumayan dapet 3 lembar.

Fast forward 3 bulan kemudian, saya bilas susu pembersih pakai setengah bagian muslin cloth, dan gunakan setengahnya lagi untuk pakai toner. Habis pakai saya bilas muslin cloth dengan air hangat dan sabun bayi, lalu air dry. Setiap hari. Kulit saya kinclongan. Mungkin karena ada unsur gentle exfoliating-nya dari tektur kain yang agak kasar. Komedo berkurang drastis, jerawat tetep sih kalau lagi hormon. Tapi overall kondisi kulit membaik. Dan 2 lembar muslin cloth masih terlipat manis di dalam wadah dan belum dipakai sama sekali.

Tapi yang bikin saya gak kalah happy adalah berkurangnya penggunaan kapas (mahal) secara signifikan. Penggunaan muslin cloth tidak sepenuhnya menggantikan peran kapas. Saya masih pakai kapas untuk hal lain, seperti membersihkan eye makeup, membersihkan luka dengan alkohol, pakai betadine, dan apapun yang kapas yang bisa lakukan. Yang pasti, saya tidak lagi sering bolak-balik ke counter Shiseido untuk bersedih beli kapas ratusan ribu. Penggunaan kapas saya berkurang hingga lebih dari 50 persen, sehingga saya cukup bayar CAD 11 untuk kapas 4-5 bulan sekali.

Semoga, setidaknya saya bisa mengurangi jejak sampah saya.

Sedotan Reusable: Upaya Mengurangi Sampah Plastik

“Itu kayak tabung praktek kimia deh” komentar suami saat saya buka bungkus sedotan kaca yang saya beli dari Amazon.

Mungkin saya salah pilih produk sedotan, padahal ada juga sedotan yang terbuat dari stainless steel yang bentuknya terlihat lebih manis dan ramping.

Tapi yang mau saya bahas di sini bukan sedotan kaca vs. stainless steel, melainkan pilihan untuk mengganti sedotan sekali pakai dengan sedotan yang dapat digunakan kembali (reuseable).

Saya paling suka minum smoothies atau minuman dingin pakai sedotan. Selama ini saya suka beli sedotan plastik dalam jumlah besar. Satu kantong isi 50 buah, harganya cuma C$5 (eq Rp 50.000). Warna-warni, lumayan bisa bikin anak jadi ikut semangat minum smoothies.

Tapi ternyata mengajari anak suka smoothies gak cukup: saya juga ingin mengajari dia untuk gak banyak buang sampah (dia suka banget buang sampah ke tempat sampah). Dari situlah saya terinspirasi beli sedotan kaca. Saya beli di Amazon.ca seharga sekitar C$20 (eq Rp 200 ribu) dapat 5 buah sedotan kaca plus sikat pembersihnya. Saya sodorin deh smoothies pakai sedotan kaca (udah dicuci dulu pastinya) ke anak kecil, dan tetap doyan.

Kesimpulan: warna sedotan gak berpengaruh terhadap minat anak minum smoothies. Tapi mengganti sedotan plastik ke sedotan kaca ngaruh banget buat kami sekeluarga. Saya tidak lagi “memproduksi” sampah sedotan. Habis pakai, tinggal cuci pakat sikat pembersih, gak sampai semenit, voila! siap dipakai lagi.

Kalau dihitung-hitung dari harganya, mungkin kelihatannya mahal ya. Dengan modal C$20, sebetulnya ssaya bisa dapat 4 x 50 sedotan plastik, atau untuk 200 kali nyeruput. Sementara saya agak “taruhan” beli 5 sedotan kaca bisa pecah kapan aja kalau saya selebor (Ya makanya jangan selebor!) tapi saya juga ambil peluang pemakaian tidak terbatas.

200 kali vs. tidak terbatas

Pilih mana?

Tapi terlepas dari itung-itungan harga, yang terpenting saya mengurangi jejak sampah yang keluar dari rumah tangga saya. Saya tidak pernah tahu sampah yang saya “produksi” akan bermuara di mana, yang pasti sampah plastik akan eksis memenuhi lahan di bumi.

So far saya menikmati memakai sedotan kaca reusable and I think you should try it, too!