Membuat Anggaran Kondisi Darurat

Setelah 3 minggu #dirumahaja (gara-gara pandemik virus galak COVID-19 tentunya), mulai terasa rutinitas hidup pun jadi berubah. Mulai dari kebiasaan bangun, tidur, cara kerja, pola makan, sampai pola belanja. Nahh, ngomongin pola belanja atau pola konsumsi, kita bicara tentang pendapatan / penghasilan (income) dan pengularan (expense). Dalam kondisi “luar biasa” seperti saat ini, banyak dari kita yang kehilangan akses untuk bekerja, sehingga kehilangan akses terhadap penghasilan.

Kalau kamu beruntung seperti saya, saya masih terima gaji walaupun #dirumahaja, dengan pengurangan take home pay.
Perubahan ini, sedikit ataupun banyak membuat kita semua berada dalam kondisi tidak biasa, bahkan darurat (emergency), termasuk kondisi darurat keuangan pribadi karena ketidakpastian akses ke penghasilan (income). Pasti sudah sering denger dong para ahli keuangan maupun influencer di luar sana, bahwa kita harus “miliki dana untuk biaya hidup selama 6 bulan untuk jaga-jaga kalau menghadapi kondisi darurat.”

Well, behubung kondisi darurat tersebut sudah bukan di depan mata doang, tapi kita udah “nyebur” ke dalamnya, yang terpenting sekarang adalah gimana caranya supaya bisa tetap berenang, kalau gak bisa berenang, do whatever it takes supaya gak tenggelam dan selamat sampai daratan: SURVIVAL! Saya gak akan bicara tentang berapa banyak dana darurat yang se(harus)nya dimiliki, melainkan gimana caranya, berapapun penghasilan atau dana yang dimiliki saat ini, bisa mengelola pola konsumsi untuk BERTAHAN di dalam kondisi darurat ini (yang sayangnya kita gak tahu sampai kapan, seburuk itu kawan). Intinya anggaran kondisi darurat ini downsize dari anggaran pada kondisi normal. Tujuan dari downsizing adalah untuk memberikan kelonggaran bagi kamu untuk memiliki dana bertahan hidup lebih lama: berhemat untuk kehidupan di masa datang yang masih belum pasti.

Struktur Anggaran
Sebelum membuat anggaran, kita harus ngerti dulu jenis pengeluaran. Ada 2 kategori besar jenis pengeluaran, yaitu pengeluaran rutin dan non-rutin. Saya punya tulisan tentang formula dasar mengelola keuangan rumah tangga di sini. It’s a lengthy read, kalau punya waktu baca silakan, namun saya akan coba sederhanakan dan membuat lebih spesifik pada tulisan ini, dan sebagian besar adalah pengalaman pribadi.

Dalam kondisi darurat seperti saat ini, mari kota fokus di jenis pengeluaran rutin saja. Kita singkirkan dulu pengeluaran non-rutin, kecuali sangat mendesak. Toh, di saat ini yang terpenting adalah keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Pengeluaran rutin terbagi dalam 3 jenis dasar, yaitu kebutuhan primer, sekunder, dan tersier (berasa pelajaran SMP ya). Kebutuhan primer adalah yang esensial, yaitu makan, minum, listrik, transportasi. Kebutuhan sekunder adalah yang kontekstual: bisa menjadi esensial dalam suatu situasi, bisa juga menjadi non-esensial dalam situasi lainnya, yaitu pakaian, sepatu, telepon, koneksi internet (contoh: pakaian olahraga merupakan kebutuhan untuk berolahraga, namun kamu masih bisa berolahraga dengan baju lain). Kebutuhan tersier adalah non-essensial, yaitu luxury goods, benda seni, dan yang bersifat hiburan seperti langganan musik, program TV, games, atau bahkan a fancy cup of coffee!

Ilustrasi struktur anggaran

Pengelompokkan ini menjadi formula dalam memahami struktur anggaran. Struktur anggaran menjadi guideline untuk menyusun anggaran.

Menyusun Anggaran Kondisi Darurat
Sebelum membuat anggaran kondisi darurat, kita harus tau dulu apa saja pengeluaran rutin saat kondisi normal. Sudah punya? Very good. Belum punya? Well, sekarang saatnya mengingat-ingat dan menuliskan daftar pengeluaran rutin.

Setelah punya daftar pengeliaran rutin, masukkan ke dalam 3 kelompok 3 kebutuhan: primer, sekunder, atau tersier. Setelah dikategorikan, saatnya mengevaluasi kebutuhan tersebut dan mempertimbangkan ulang kebutuhan masing-masing, dimulai dari yang kelompok yang non-esensial, yaitu dari tersier, sekunder, kemudian terakhir adalah primer.

Berikut breakdown setiap komponen

1. Kebutuhan Tersier
Pada prinsipnya, dalam kondisi darurat kita bisa pangkas habis kebutuhan tersier, karena, well, it’s non-essential.

Kalau bisa bikin roti sendiri, ngapain beli roti dari toko yang harganya bisa 4 – 5 kali lipat dari harga bahan dasar.

Ngapain langganan Netflix? Gak ada nilai yang menambah produktivitas, yang ada bikin tambah males ngapa-ngapain.

Hari gini beli tas branded? Kapan dipakenya?

But let’s be fair. Terkurung di rumah, tidak bisa bersosialisasi, bisa bikin stress. You need to do something that can keep your sanity, walaupun tidak produktif. Jadi, kalau kebutuhan tersier bisa membantu kamu menjaga kewarasan, gak ada salahnya tetap dikonsumsi. Namun, buat skala prioritas, dan pilih yang paling. Misalnya, saya butuk tetap berlangganan Youtube premium supaya bisa mengakses berbagai konten tanpa iklan, khususnya untuk anak saya. Saya rela deh gak sering-sering take out jajan martabak manis atau Ref Velvet Cake dari restoran. Atau, bisa saja korbankan langganan hiburan elektronik (Netflix, Apple Music) supaya bisa sering jajan makanan jadi / take outs daripada stress harus mikirin masak sehari 3 kali. Make your choice.

Tapi plis, plissss banget, bukan milih menutup langganan hiburan elektronik, terus jadi beralih ke layanan ilegal ya gaessss.

Saya bikin cookies dan kopi sendiri di rumah. Harga bahan-bahan untuk membuatnya paling mahal Rp15,000 (dengan bahan premium). Kalau ke Cafe minimal Rp40,000

2. Kebutuhan Sekunder
Menjelaskan kebutuhan sekunder ini agak rumit. It really depends on your personal needs.

Saya ambil contoh langganan internet. Internet ini bisa dibilang kebutuhan sekunder, tapi bisa jadi primer, tergantung kebutuhan. Buat yang sedang Work From Home, koneksi internet ini bisa jadi kebutuhan primer, esensial untuk mendukung produktivitas, modal cari uang. Namun, kalau internet dipakai untuk mainan medsos dan hiburan doang, internet jadi kebutuhan sekunder: semi-esensial.

Langganan internet ini harganya bervariasi, makin mahal kecepatannya makin baik. Nah, kebutuhanmu yang mana? Kalau untuk aktivitas yanh tidak produktif, ngapain bayar mahal untuk langganan kecepatan tinggi? Bisa tetap langganan, tapi pilih fasilitas yang lebih terbatas selama tujuan untuk menghibur diri tetap bisa dilakukan, tanpa bayar tagihan mahal.

Penyedia jasa langganan internet punya beragam jenis paket dengan range harga beragam. (Sumber: cbn.id) – no endorse

Contoh lain: gak perlu beli baju olahraga dulu kalau kamu bisa berolahraga pakai kaos biasa yang ada di rumah.

Intinya, pengeluaran kebutuhan sekunder dalam kondisi darurat bisa saja dihapus, namun kalau sulit, dapat dikurangi dengan menurunkan kualitas konsumsi. Lagi-lagi, you choose what to keep.

3. Kebutuhan Primer
Sebetulnya kebutuhan primer alias esensial tidak ada yang bisa dipotong. You have to maintain it, and don’t cut it. Iya, sepenting itu.

Namun ada yang menarik dari pola pengeluaran kebutuhan primer di saat seperti ini. Berdasarkan pengalaman selama 3 minggu terakhir, saya menemukan pengeluaran untuk kebutuhan primer mengalami pergeseran komposisi, cenderung bertambah. Di satu sisi, saya memotong biaya transportasi secara signifikan karena tidak keluar rumah. Di sisi lain, tagihan listrik dan air meningkat karena kami sekeluarga tinggal di rumah 24/7, groceries meningkat karena kami sekeluarga makan 3 kali sehari di rumah dan tidak mengakses fasilitas publik yang tersedia kalau kami keluar rumah, seperti air minum, tisu toilet, sabun cuci tangan.

Kalau mau tahu detil besaran peningkatan pengeluaran dengan pergeseran rutinitas #dirumahaja, saya sudah tulis beberapa hari yang lalu di artikel Work From Home: Lebih Hematkah?

Intinya, kebutuhan primer bisa bergeser, namun tidak bisa dikurangi, bahkan antisipasi ditambah. Singkat kata, membuat anggaran kondisi darurat adalah mempertahankan agar kebutuhan primer terpenuhi sambil mengurangi / memangkas kebutuhan sekunder dan tersier.

Ilustrasi anggaran sebelum (pre-emergency) dan saat kondisi darurat (emergency). Ini cuma ilustrasi yah. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda dengan besaran anggaran per item yang berbeda.

Udah selesai?

Not quite. Ada 2 hal lagi yang belum masuk ke dalam anggaran di atas, yaitu (1) hutang / cicilan dan (2) sedekah.

Hutang / cicilan, entah itu kartu kredit, KPR, upayakan agar tetap dipenuhi. Plis jangan ngemplang, selama masih punya uang tunai. Kalau sampai tidak sanggup bayar atau kehabisan uang tunai, hubungi pemberi hutang dan jelaskan duduk persoalannya. Who knows mereka punya solusi.

Kalau kamu seberuntung saya yang masih memiliki gaji (dan sudah mengamankan dana darurat), tidak ada salahnya juga bersedekah kepada lingkungan sekitar kita. Kondisi darurat ini adalah masa sulit secara ekonomi bagi banyak orang. We have a social responsibility to protect our neighbourhood, baik itu untuk para pedagang kecil, abang ojol / taksi, atau mendukung bisnis lokal / UMKM yang terkena imbas kondisi darurat. Masukkan ke dalam anggaran rutin, sehingga kamu punya kendali atas besaran dana yang dapat dihabiskan untuk bersedekah. Jangan sampai kamu punya empati segede langit, bagi-bagi sedekah, tau-tau dana tunaimu habis dan kamu jadi gak bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kalau gak punya anggaran untuk sedekah, tidak apa-apa. Yang terpenting dari bersedekah adalah, help yourself before you help others.

Semoga penjelasan di atas bisa kasih sedikit panduan umum cara membuat dan mengelola anggaran kondisi darurat, and hopefully, ketika kondisi sudah normal suatu hari nanti, panduan ini bisa jadi pegangan untuk semakin disiplin dalam mengelola keuangan.

Jakarta, 11 April 2020

Work From Home: Lebih Hematkah?

Disclaimer:

If you can relate to this article a little or so well, please be grateful. You are luckier than 80% of the population.

If you can’t, let’s talk.

Sudah hampir 3 minggu semenjak warga pekerja kantoran ramai-ramai disuruh tinggal di rumah alias Work From Home (WFH) untuk menekan penyebaran virus galak COVID-19. Sebagai anak rumahan, sebetulnya sih saya betah-betah saja tinggal di rumah, paling jadi gak betah kalau anak kecil lagi berisik minta makan.

Yaiya betah lah, karena alhamdulillah masih terima gaji, gak takut kelamaan WFH jadi “dirumahkan.” I’m a lucky b****, dan tentunya kamu juga yang masih terus terima gaji (penuh ataupun dipotong) walau produktifitas kerja berkurang. Let’s take a moment to be grateful…

Berkurangnya aktifitas di luar adalah berkurangnya juga biaya yang dikeluarkan dari aktifitas di luar. Apa sajakah itu? Ada biaya transportasi, jajan makan siang (yang gak bawa bekel), ngopi pagi/sore, dan nongkrong after hour. Kesemuanya itu adalah pengeluaran harian yang sifatnya RUTIN.

Kalau kita sekarang tidak ada pengeluaran untuk beraktifitas di luar, apakah itu artinya pengeluaran rutin bulanan secara keseluruhan akan berkurang, alias jadi berhemat? In my experience, jawabannya adalah BELUM TENTU.

Kenapa? Karena dengan tinggal di rumah, pola rutinitas kita berubah, dan akibatnya adalah adanya pergeseran biaya rutin yang dikeluarkan karena tinggal di rumah.

How? Setiap orang pasti punya pola pengeluaran rutin untuk beraktifitas di luar rumah yang berbeda-beda, seperti berapa besaran biaya transportasi (tergantung moda, jarak), biaya makan siang (warteg, restoran, jasa antar makanan, atau bahkan bekel dari rumah), jajan (di cafe, warung). Pergeseran pengeluaran rutin untuk tinggal di rumah pun pasti tiap orang berbeda.

Nah, jadi saya nulis di sini mau berbagi pengalaman saya selama 2 minggu terakhir tentang kenapa tinggal di rumah tidak menyebabkan penghematan atau pengurangan pengeluaran rutin bulanan secara drastis. Tentu pola pengeluaran rutin saya bisa berbeda dengan kamu, namun setidaknya tulisan ini bisa kasih insight dan memberikan pemahaman tentang struktur keuangan personal kamu di situasi seperti sekarang ini.

Dan tentunya tulisan ini tidak akan membahas aspek pendapatan, karena saya cuma fokus di struktur pengeluaran.

Pengeluaran 1: Utilities

Dengan tinggal di rumah, sadar gak sadar kita menggunakan lebih banyak listrik, air ledeng, gas, dan air minum. Kalau beraktifitas di luar, konsumsi utilities kita “disubsidi” oleh fasilitas bersama, seperti di kantor atau di area publik lainnya.

In my case, dengan mondok di rumah, AC jadi lebih sering nyala (karena suami anti keringetan), cuci piring (dan cuci tangan) lebih sering, gak dapet air minum gratisan dari kantor, dan lebih sering nyalain kompor untuk masak. Tagihan listrik dan air saya di bulan Maret setelah menjalani hampir 2 minggu WFH bengkak dengan besaran 80% dari biaya transportasi yang tidak terpakai karena tidak ke kantor. Konsumsi air galon juga meningkat 50%.

Pengeluaran 2: Makan

Urusan makan ini agak tricky sebetulnya. Ini sangat tergantung pilihan makan selama ini.

Sebagai latar belakang, di hari-hari normal, saya sarapan dan makan malam di rumah, dan makan siang jajan di luar dan sekali-kali (1-2 kali seminggu) bawa bekal. Semenjak WFH, saya full masak terus. Namun karena memiliki lebih banyak waktu untuk memasak, saya cenderung membuat masakan yang lebih time-consuming dan menggunakan bahan makanan tanpa melihat harga karena dengan masak rasanya lebih murah daripada beli makanan.

Nah, ini jadi sumber atas 2 masalah: (1) harga hasil masakan per porsi jadi lebih mahal dan (2) masak terus-terusan bikin jenuh. Masakan per porsi sejak WFH bisa 20-50% lebih tinggi dari biasanya. Sementara itu, kalau saya jenuh masak, saya akan pilih jasa antar makanan siap saji (gofood, gojek) yang harganya mahal dan saya punya kewajiban sosial untuk membelikan abang ojek dan petugas keamanan apartemen. Overall, pengeluaran makan saya tidak berkurang karena biaya untuk makan di luar saat bekerja dialihkan untuk masak mewah dan kewajiban sosial.

Pengeluaran 3: Ngemil

Ini mirip dengan persoalan makan. Tinggal di rumah bikin kecenderungan ingin ngemil terus. Akhirnya jadi banyak pengeluaran untuk beli cemilan.

Pengeluaran 4: Alat Pelindung Diri dan Hygene

Dengan adanya himbauan untuk memperhatikan perlindungan diri dan hygene, saya yang biasanya gak pernah nyetok masker jadi nyetok. Cuci tangan juga jadi lebih sering sehingga sabun cuci tangan lebih cepat habis (plus selama ini cuci tangan di kantor pakai fasilitas kantor). Tisu toilet juga lebih banyak terpakai. Sejak WFH, penggunaan sarana hygene di rumah meningkat sekitar 50%. Semua ini walaupun murah, ada biaya ekstra yang dikeluarkan.

Jenis pengeluaran di atas adalah yang saya rasakan pergeserannya semenjak WFH. Terdapat juga pengeluaran lainnya seperti kuota internet, belanja untuk penyaluran hobi untuk mengatasi kebosanan, dll tergantung fasilitas yang tersedia di rumah. Kesemuanya memiliki konsekuensi biaya yang harus kita sadari.

Kesimpulannya, kita cuma mengalihkan pengeluaran dari biaya beraktifitas di luar ke biaya beraktifitas di rumah. Namun dengan memahami pergeseran ini, sebetulnya kita bisa saja memikirkan bagaimana cara berhemat di tengah situasi seperti ini, yaitu dengan mengedalikan jenis-jenis pengeluaran di atas. Misalnya, dengan tidak ngemil berlebihan, atau mengganti penggunaan AC dengan kipas angin. Sebetulnya asal mau pasti bisa.

Jakarta, 8 April 2020

Biaya Menjadi Sobat Misqueen

Sebagai lulusan Development Studies, sebetulnya saya agak miris bikin artikel bertema seputaran menjadi miskin. Miskin (poverty) itu lebih dari sekedar tidak punya uang, tetapi merupakan sebuah siklus yang melibatkan keterbatasan kesempatan (opportunity), akses (access), dan tertanam menjadi pola pikir (mindset) yang memengaruhi pilihan (choices).

Ah cukup sudah romantisme bikin essay kuliah. Tulisan saya ini tidak akan berkaitan dengan ilmu Development Studies dengan kemiskinan (comot teorinya dikit-dikit bolelah), tapi mau cerita tentang sesama kelas menengah. Saya dan populasi di sekitaran saya adalah kalangan menengah: belum kaya, tapi jauh lebih sejahtera dari miskin.

… belum kaya … lebih sejahtera …

Nahh, di sinilah persoalan yang mau saya tulis. Menjadi kelas menengah sebetulnya punya kesempatan, punya akses lebih baik, namun masih rentan untuk terjebak dalam mindset dan choices miskin (kembali lagi, karena belum kaya). Yang begini nih namanya kategori kelas menengah tapi sobat misqueen.

Terus apa masalahnya dari menjadi kelas menengah yang sobat misqueen? Here’s the theory: it’s expensive to be poor. Menjadi miskin itu tidak efisien. Pola pikir dan pilihan miskin menjadikan kita harus mengeluarkan resources (tenaga, uang) lebih besar untuk memperoleh kesempatan dan akses.

Kok bisa? Saya coba buktikan teori ini dalam poin-poin berikut ini, tentunya dengan konteks my fellow kelas menengah.

1. Demi belanja gadget baru atau liburan, rela memotong anggaran makan

Duh akhir bulan bokek nih jadi sehari-hari makan Indomie aja ampe gajian

Sering banget kan denger keluhan seperti ini? Kedengerannya lucu sih, sekaligus problematik. Jadi kalau anggaran kebutuhan pokok (makan) sampai harus diirit-irit, uangnya habis dipakai untuk apa saja?

Pernahkah berhitung, berapa sih rasio pengeluaran makan dengan total pengeluaran dalam setahun? My magic number is 20. Ya, 20 persen dari total pengeluaran (penjelasan lengkap tentang berbagai rasio pengeluaran / pendapatan, baca: Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga). Ada 80 persen lagi yang bisa dipakai untuk kebutuhan lain, maka sebetulnya 20 persen itu bukan angka yang besar.

Jadi, kalau kamu berpikir untuk berhemat dengan mengurangi anggaran makan, please think again, karena gak ngaruh! Mau dikurangin sampai setengah pun, cuma menyumbang penghematan 10 persen dari total pengeluaran. Lagian yang bener aja memangkas anggaran makanan sampai setengah. Makan adalah kebutuhan pokok dan merupakan sumber life support, jadi gak boleh dikorting. Pertama, hidupmu jadi gak mutu, kedua gak bisa bikin kamu punya extra uang.

Jadi kalau kamu masih berpikir bisa berhemat dari mengurangi anggaran makan, coba pikirkan lagi apakah kamu sudah layak untuk spending on luxuries. Makan aja susah.

Note: Kalau hasil hitunganmu pengeluaran makan > 20 persen, artinya kamu belum kaya, karena pengeluaran paling pokok yaitu urusan perut menghabiskan porsi yang besar. Kalau = atau < 20, selamat! Kamu sudah makmur.

2. Belanja macem-macem pakai kartu kredit, kemudian tiap bulan bayar tagihan minimum

Sebagai kelas menengah yang agak “mampu”, sudah pasti jadi incaran sales kartu kredit. Lagian, hari gini masak gak punyakartu kredit? Kartu kredit memberikan banyak kemudahan transaksi, ngasih reward point, dan tinggal gesek kalau sedang tidak bawa uang tunai. Saking wuenaknya gesek, gak kerasa sudah pada batas pemakaian per bulan.

Kalau saatnya ditagih, sudah pasti harus bayar. Nah ini bagian ini paling tidak enak. Selama belanja gak kebablasan sih, gak ada masalah, penghasilan setelah dikurangi tagihan pokok masih mencukupi untuk bayar tagihan kartu kredit, tinggal bayar penuh. Selesai. Tidak ada biaya tambahan.

Gimana kalau ternyata sisa penghasilan tidak mencukupi? Bisa saja bayar cicilan minimum, tapi artinya kamu harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar apa yang sudah kamu beli sebelumnya menggunakan kartu kredit, karena kamu harus bayar bunga. Bayangkan, betapa mahalnya hidup kamu kalau memilih jalan ini. Pilihan buruk jadi pilihan mahal, sobat misqueen harus menanggung biaya lebih besar.

Kalau mau tips lengkap memakai kartu kredit, baca tulisan saya tentang Mengambil Keuntungan Sebesar-Besarnya dari Kartu Kredit

3. Punya rekening tabungan premium, kemudian harus bayar biaya admin bank karena jumlah tabungan di bawah syarat minimal

Kelas menengah kece sudah pasti punya rekening tabungan. Tapi masak iya punya jenis tabungan biasa-biasa saja, fasilitas minim, jatah transaksi terbatas, gak kelas dong. Rekening tabungan kalau perlu yang batas transaksinya setinggi harga tas luxury brand, karena siapa tahu butuh beli LV tunai.

Rekening tabungan premium bisa memberikan kenikmatan seperti itu. Sebagai contoh, rekening tabungan saya dan suami ada di bank yang sama, tapi yang saya jenis silver, dia gold. Jelas beda fasilitasnya. Saya cuma bisa narik uang di ATM Rp5 juta per hari, dia bisa sampai Rp25 juta.

Tapi yang namanya rekening tabungan premium, bukan tanpa “harga” loh ya. Ada batas minimal jumlah tabungan yang disyaratkan untuk bebas biaya admin bulanan. Sehari saja dalam sebulan jumlah tabungan di bawah syarat, langsung deh kena biaya admin.

Artinya, kalau mau punya rekening tabungan premium, kamu harus punya banyak tabungan, harus tajir. Kalau uang cuman numpang lewat, selamat Anda adalah sobat misqueen yang harus ngebayarin bank tiap bulan untuk menikmati rekening tabungan premium.

4. Melihat expenses dan income bulanan, bukan tahunan

Kalau mau menghitung besaran kapasitas finansial, wajib hukumnya memahami expenses dan income dengan melihat agregat tahunan. Karena yang namanya pengeluaran (kadang penghasilan juga) tidak bisa disamarataksn setiap bulannya. Ada pengeluaran non rutin, penghasilan bonus, yang kesemuanya harus dicatat dan dipetakan untuk menyusun strategi tata kelolanya.

Kalau kamu masih bicara penghasilan bulan ini untuk pengeluaran bulan ini, dan bulan depan dipikir belakangan, apa bedanya pola pikir ini dengan rekan-rekan kita di kalangan bawah yang masih memikirkan besok makan apa?

So, are you one of the examples above?

PS: please comment kalau ada poin lain yang menurut kamu merupakan ciri kelas menengah sobat misqueen.

Declutter: Obsesi Produk Skincare dan Makeup Multifungsi

Semakin berumur semakin saya menyadari saya gak suka ribet. Dulu punya obsesi kalau sudah punya uang pengen borong produk makeup dan perawatan kulit apapun yang ada di luar sana.

Biar cantik terus, katanya begitu.

Nyatanya saya jengah sendiri dengan bejibunnya produk yang tersedia. Pertama, saya harus investasi waktu untuk melakukan keseluruhan rezimnya. Capek dan malas, saya lebih suka bengong selonjoran di kasur. Kedua, rasanya kok saya jadi cluttering, numpuk / menjejerkan banyak banget kemasan. Bikin sumpek meja rias.

Dari situlah saya mulai investasi waktu untuk mencari produk multifungsi: 1 kemasan, 1 pemakaian, bisa memberikan beberapa fungsi sekaligus.

Long story short, dengan beberapa hit and miss, saya menemukan produk multifungsi yang cocok dan akan saya gunakan terus selama produk tersebut bisa diakses.

Ngapain sih saya berbagi cerita beginian? Mungkin saja ada yang seperti saya sudah kesal dengan produk makeup dan skincare yang bejibun dan sedang mencari cara untuk mengatasi kekesalan tersebut. Kalau solusi saya ya beralih ke produk multifungsi.

Disclaimer: banyak di antara produk ini masuk kategori high end brand dengan harga lumayan bikin sedih. Tapi saya akan coba kasih alternatif produk sejenis dengan fungsi yang mirip.

1. Leonor Greyl Huile Secret de Beaute

Awal kenalan saya beauty oil adalah saat dapet free trial Josie Maran Argan Oil dari Sephora, yang klaimnya bisa dipakai untuk wajah, badan, dan rambut. Lumayan trial 2 minggu, saya pakai untuk wajah tiap pagi dan malam sebagai pengganti pelembab wajah, sambil sekalian digosok ke tangan/kuku dan rambut. Tokcer banget mengatasi kulit kekeringan akibat musim dingin Kanada yang ganas, plus bikin rambut lebih lembut.

Tapi begitu mau upgrade beli full size lihat harganya, duh mau nangis. Mahalnya gak ketulungan, 120ml seharga C$124. Bagus sih, tapi saya cari yang lain aja deh.

Surfing di google, sampailah saya pada Leonor Greyl Huile Secret de Beaute ini. Katanya sih produk perawatan rambut, tapi klaimnya bisa dipakai untuk badan dan wajah juga. Katanya juga, go-to must-haves nya Parisien. Harga mendingan daripada Josie Maran, yaitu C$85 dapet 100ml. Jadi saya putuskan untuk coba.

It works like magic. Satu produk, saya dapat manfaat pelembab wajah, krim tangan / badan, dan perawatan rambut. Plus, wanginya enak banget bikin merasa cantik.

Memang harganya masih agak tinggi. Untuk alternatif, The Body Shop punya Beauty Oil dengan klaim serupa dan harga lebih murah. Ada juga Marula Oil keluaran The Ordinary yang saya juga sudah coba dan beneran bagus buat wajah maupun kulit dan rambut.

The Ordinary Marula Oil
The Ordinary Cold-Pressed Virgin Marula Oil

2. Laura Mercier Tinted Moisturizer

Mungkin Laura Mercier Tinted Moisturizer ini adalah produk multifungsi pertama yang saya pakai. Berawal dari rasa jengah harus melapis-lapis produk wajah, mulai dari pelembab, foundation, bedak tabur. Selain menghabiskan waktu, wajah juga jadi terasa lengket karena terlalu banyak yang dioles.

Saya lebih suka dengan produk yang terasa ringan di wajah, walaupun tidak bisa nutupin jerawat dan bekas jerawat saya yang bejibun. Yang terpenting buat saya adalah fungsi melembabkan dan meratakan warna kulit.

Saya menemukan yang paling cocok adalah Laura Mercier Tinted Moisturizer. Produk ini memberikan 2 manfaat, yaitu pelembab wajah dan foundation, namun serasa tidak memakai apapun di wajah. Harganya lumayan, C$56 untuk 50ml, satu botol bertahan 5 bulan.

BB dan CC cream sebetulnya dapat memberikan fungsi serupa. Saya juga pernah pakai, dan sama multifungsi, namun saya merasa tidak ada yang seringan ini. Beberapa produk alternatif dengan harga lebih murah, bisa coba produk BB atau CC cream dari brand lower end, seperti Bourjois (my fave), L’oreal, atau Maybelline.

3. Laura Mercier Secret Camouflage

Laura Mercier Secret Camouflage
Laura Mercier Secret Camouflage in SC-2

Laura Mercier Secret Camouflage sebetulnya sepaket sama produk poin 2 di atas. Intinya produk ini fungsinya memberikan pigment di bagian tertentu pada wajah. Sehari-hari saya pakai untuk nutup blemishes alias jerawat atau bekas jerawat atau redness yang gak ketutup oleh tinted moisturizer. Jadi warna kulit lebih merata. Pakenya gampang banget, tinggal colek (jari harus bersih pastinya), tap-tap di area yang mau ditutup, and it will blend smeamlessly with complexion!

Terus multifungsi apanya? Kalo lagi super malas pakai makeup, saya bisa pakai produk ini sebagai untuk meratakan warna kulit: undereye concealer sekaligus blemishes concealer sekaligus foundation. Jadi tinggal tap-tap di bagian manapun yang perlu warnanya disamakan dengan warna kulit, wajah pun udah terlihat kayak gak bermake-up tapi flawless (no-makeup makeup gitu dehh).

Harganya lumayan, C$42, tapi karena cuma butuh sedikit banget untuk kasih pigment, selama pemakaian higenis bisa awet sampai 2 tahun. Not bad lahh.

Sayangnya, produk ini gak ada alternatifnya. Bahkan katanya sih, makeup artist kelas dunia pasti pake produk ini saking bagusnya.

4. Lucas Papaw Ointment

Kenal Lucas Papaw Ointment saat lagi merantau di Australia. Di sana dijual di mana-mana, udah kayak barang grosiran. Dan kayaknya semua orang punya dan pakai. Berfungsi sebagai lipbalm, dan lain-lain, klaimnya. Harganya juga murah, sekitar C$10 untuk tube 10 ml, sama seperti harga lipbalm.

Awalnya saya pikir ini semacam Vaseline petroleum jelly. Setelah mendalami profil produk ini, ternyata ada fungsi antiseptiknya juga karena terbuat dari ekstrak pepaya. Setelah saya coba, menurut saya produk ini jauh lebih tokcer daripada Vaseline!

Satu produk bisa saya gunakan sebagai pelembab bibir, pelembab tangan, mengeringkan luka, menyembuhkan alergi / gigitan serangga, dan paling top adalah sebagai diaper rash bayi!

Bahkan di Kanada saya pun bela-belain cari produk ini di Amazon walaupun ada bejibun produk di toko dengan klaim serupa.

I just can’t live without this!

5. Burt’s Bees Liptint Balm

Saya suka lipstick, tapi saya gak suka teksturnya yang cenderung bikin kering setelah beberapa jam. Bibir saya termasuk yang gampang banget kering sehingga saya harus selalu pakai pelembab bibir sebelum memakai lipstick. Masalahnya, saya malas harus memakai 2 produk, yaitu lipbalm kemudian lipstick.

Jadi saya pun mulai beralih memakai produk lipbalm yang memberikan warna. Awalnya saya coba merek high end, mulai dari Dior Lip Glow, Fresh Sugar Lip Treatment, namun akhirnya saya mendarat di Burt’s Bees Liptint Balm yang harganya cuma C$5.

Yang paling saya suka dari liptint balm ini adalah, warnanya tidak mencolok sehingga saya bisa aplikasikan kapan saja, bahkan tanpa harus melihat ke cermin!

Sebetulnya masih ada beberapa produk multifungsi yang saya pakai, tapi saya merasa manfaat multifungsinya tidak sesignifikan 5 produk di atas. Ada Stila Convertible Color atau Benefit Benetint yang bisa jadi perona pipi sekaligus pewarna bibir. Tapi saya merasa kedua produk tersebut hanya optimal sebagai perona pipi, sedangkan sebagai pewarna bibir kurang bagus.

Stila Convertible Color
Stila Convertible Color in Lilium

Ada juga produk murah Cetaphil Gentle Skin Cleanser yang bisa dipakai untuk sabun badan dan pembersih wajah. Bagus banget buat kulit sensitif. Walaupun produk ini bagus banget sebagai sabun badan dan membersihkan wajah, namun saya merasa produk ini kurang bisa mengangkat bekas makeup. Mungkin produk ini cocok buat yang kesehariannya gak bermakeup.

Intinya sih, produk makeup dan skincare multifungsi sudah membantu saya “memotong” waktu dan usaha dalam rutinitas di pagi hari maupun malam hari. Selain itu, saya tidak lagi rusuh buka-tutup sebareg produk untuk rezim perawatan tubuh dan bermakeup. Sebagai emak dengan seabreg tanggung jawab, saya gampang lupa dan kalau sudah lupa dengan salah satu rezim, rasanya kesel dan ujung-ujungnya badmood, jadi dengan produk multifungsi, rezim saya lebih singkat dan tidak ada yang terlewat. Yang tak kalah penting juga, counter saya jadi lebih lapang dengan jumlah botol yang lebih sedikit alias decluttering!

Trik Membuat Bubur Ayam Express

Tinggal di perantauan, khususnya di tempat perantauan dengan selera kuliner butut (=buruk) (sorry, Canadians!) plus tidak tersedianya restoran masakan Indonesia sungguh bikin galau. Harus saya akui, menjadi orang Indonesia itu artinya juga menjadi terikat dengan makanannya.

Sejak merantau saya betul-betul belajar untuk menghargai masakan mang-mang pinggir jalan, mulai dari Nasi Goreng, Soto Ayam, everything you name it lah. Jangan pernah meremehkan keberadaan mereka! Ternyata hidup tanpa jajanan mang-mang itu sungguh menyiksa.

Dan celakanya, masakan jajanan pinggir jalan itu susah bin ribet bikinnya. Saya pun harus mencoba masak masakan Indonesia demi survival di negara orang. Satifying your tastebud is to keep your sanity!

Jajanan terfavorit saya adalah Bubur Ayam. Ngebayangin bahan-bahannya sih simple ya, cuma modal beras dan segala topping-nya. Wait, toppings? Justru ini pe-ernya. Menyiapkan segala macam topping ini beban hidup banget: sangat menghabiskan waktu, sementara hanya perlu waktu sekejap untuk menghabiskan semangkuk bubur ayam :(. Rebus ayam, goreng ayam, suwir ayam, goreng cakue, potong-potong cakue, rebus telor, goreng kerupuk, dll dll stress lah bayanginnya. Belum lagi nyiapin kaldu ayam untuk bubur nya. Nyerah boss!

Jadi saya cari cara paling cepat untuk menyiapkan bubur ayam, dan ada caranya! Yaitu dengan memanfaatkan bahan siap jadi dari supermarket. Pertimbangan kesehatan, produk tidak alami? Itu nomor dua. Buat saya yang penting bisa makan bubur ayam tanpa harus tepar 😉

Bahan siap saji yang saya pakai adalah: 1) kaldu ayam cair dalam kotak (mereknya Campbell), bawang putih halus dalam botol, cakue beli Chinatown, bumbu ayam goreng sebagai kuah bubur (merek Bamboe), bahkan untuk ayam kadang saya beli ayam panggang yang sudah jadi di supermarket, kemudian disuwir-suwir.

Jadi saya mau berbagi cara bikin bubur ayam express menggunakan bahan sudah saji dari supermarket.

Waktu persiapan: 20 menit

Waktu memasak: 30 menit

Bahan bubur:

  • 2 cup beras, cuci dan bilas
  • 4 cup kaldu ayam cair dalam kotak (Campbell)
  • 6-10 cup air matang (makin banyak bubur makin encer)
  • 2 sdm minyak sayur
  • 1 sdt bawang putih halus
  • Garam

Toppings:

  • Kecap asin
  • Kecap manis
  • Kuah bubur: bumbu ayam goreng siap pakai (merek Indofood atau Bamboe), siram air mendidih, aduk rata
  • Lada putih
  • Ayam rebus suwir-suwir (bisa juga beli ayam panggang yang sudah jadi dari supermarket tinggal disuwir-suwir)
  • Cakue, potong-potong
  • Bawang daun, iris tipis
  • Telor, rebus 12 menit
  • Kerupuk
  • Sambal

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak dalam panci besar, tumis bawang putih halus sampai harum.
  2. Masukkan beras, tumis sampai beras terasa kering.
  3. Tuang kaldu dan air matang. Aduk sampai beras tidak ada yang menempel di dasar panci. Taburkan garam secukupnya.
  4. Setelah mendidih, kecilkan api. Aduk sesekali.
  5. Setelah beras mengembang dan hancur, dan sudah terlihat seperti bubur, matikan api.

Cara menyajikan: Taruh bubur di atas mangkuk, tabur kuah bubur, kecap asin, kecap manis, dan semua toppings. Sajikan.

Masih terlihat ribet? Ini sudah cara paling cepat, dan butuh waktu sekitar 1 jam untuk memasak bubur.

Ada yang bilang masak bubur pakai nasi (daripada dari beras) lebih cepat dan mudah. Tapi saya belum coba. Saya sudah puas dengan metode yang ini.

Selamat mencoba.