Declutter: Obsesi Produk Skincare dan Makeup Multifungsi

Semakin berumur semakin saya menyadari saya gak suka ribet. Dulu punya obsesi kalau sudah punya uang pengen borong produk makeup dan perawatan kulit apapun yang ada di luar sana.

Biar cantik terus, katanya begitu.

Nyatanya saya jengah sendiri dengan bejibunnya produk yang tersedia. Pertama, saya harus investasi waktu untuk melakukan keseluruhan rezimnya. Capek dan malas, saya lebih suka bengong selonjoran di kasur. Kedua, rasanya kok saya jadi cluttering, numpuk / menjejerkan banyak banget kemasan. Bikin sumpek meja rias.

Dari situlah saya mulai investasi waktu untuk mencari produk multifungsi: 1 kemasan, 1 pemakaian, bisa memberikan beberapa fungsi sekaligus.

Long story short, dengan beberapa hit and miss, saya menemukan produk multifungsi yang cocok dan akan saya gunakan terus selama produk tersebut bisa diakses.

Ngapain sih saya berbagi cerita beginian? Mungkin saja ada yang seperti saya sudah kesal dengan produk makeup dan skincare yang bejibun dan sedang mencari cara untuk mengatasi kekesalan tersebut. Kalau solusi saya ya beralih ke produk multifungsi.

Disclaimer: banyak di antara produk ini masuk kategori high end brand dengan harga lumayan bikin sedih. Tapi saya akan coba kasih alternatif produk sejenis dengan fungsi yang mirip.

1. Leonor Greyl Huile Secret de Beaute

Awal kenalan saya beauty oil adalah saat dapet free trial Josie Maran Argan Oil dari Sephora, yang klaimnya bisa dipakai untuk wajah, badan, dan rambut. Lumayan trial 2 minggu, saya pakai untuk wajah tiap pagi dan malam sebagai pengganti pelembab wajah, sambil sekalian digosok ke tangan/kuku dan rambut. Tokcer banget mengatasi kulit kekeringan akibat musim dingin Kanada yang ganas, plus bikin rambut lebih lembut.

Tapi begitu mau upgrade beli full size lihat harganya, duh mau nangis. Mahalnya gak ketulungan, 120ml seharga C$124. Bagus sih, tapi saya cari yang lain aja deh.

Surfing di google, sampailah saya pada Leonor Greyl Huile Secret de Beaute ini. Katanya sih produk perawatan rambut, tapi klaimnya bisa dipakai untuk badan dan wajah juga. Katanya juga, go-to must-haves nya Parisien. Harga mendingan daripada Josie Maran, yaitu C$85 dapet 100ml. Jadi saya putuskan untuk coba.

It works like magic. Satu produk, saya dapat manfaat pelembab wajah, krim tangan / badan, dan perawatan rambut. Plus, wanginya enak banget bikin merasa cantik.

Memang harganya masih agak tinggi. Untuk alternatif, The Body Shop punya Beauty Oil dengan klaim serupa dan harga lebih murah. Ada juga Marula Oil keluaran The Ordinary yang saya juga sudah coba dan beneran bagus buat wajah maupun kulit dan rambut.

The Ordinary Marula Oil
The Ordinary Cold-Pressed Virgin Marula Oil

2. Laura Mercier Tinted Moisturizer

Mungkin Laura Mercier Tinted Moisturizer ini adalah produk multifungsi pertama yang saya pakai. Berawal dari rasa jengah harus melapis-lapis produk wajah, mulai dari pelembab, foundation, bedak tabur. Selain menghabiskan waktu, wajah juga jadi terasa lengket karena terlalu banyak yang dioles.

Saya lebih suka dengan produk yang terasa ringan di wajah, walaupun tidak bisa nutupin jerawat dan bekas jerawat saya yang bejibun. Yang terpenting buat saya adalah fungsi melembabkan dan meratakan warna kulit.

Saya menemukan yang paling cocok adalah Laura Mercier Tinted Moisturizer. Produk ini memberikan 2 manfaat, yaitu pelembab wajah dan foundation, namun serasa tidak memakai apapun di wajah. Harganya lumayan, C$56 untuk 50ml, satu botol bertahan 5 bulan.

BB dan CC cream sebetulnya dapat memberikan fungsi serupa. Saya juga pernah pakai, dan sama multifungsi, namun saya merasa tidak ada yang seringan ini. Beberapa produk alternatif dengan harga lebih murah, bisa coba produk BB atau CC cream dari brand lower end, seperti Bourjois (my fave), L’oreal, atau Maybelline.

3. Laura Mercier Secret Camouflage

Laura Mercier Secret Camouflage
Laura Mercier Secret Camouflage in SC-2

Laura Mercier Secret Camouflage sebetulnya sepaket sama produk poin 2 di atas. Intinya produk ini fungsinya memberikan pigment di bagian tertentu pada wajah. Sehari-hari saya pakai untuk nutup blemishes alias jerawat atau bekas jerawat atau redness yang gak ketutup oleh tinted moisturizer. Jadi warna kulit lebih merata. Pakenya gampang banget, tinggal colek (jari harus bersih pastinya), tap-tap di area yang mau ditutup, and it will blend smeamlessly with complexion!

Terus multifungsi apanya? Kalo lagi super malas pakai makeup, saya bisa pakai produk ini sebagai untuk meratakan warna kulit: undereye concealer sekaligus blemishes concealer sekaligus foundation. Jadi tinggal tap-tap di bagian manapun yang perlu warnanya disamakan dengan warna kulit, wajah pun udah terlihat kayak gak bermake-up tapi flawless (no-makeup makeup gitu dehh).

Harganya lumayan, C$42, tapi karena cuma butuh sedikit banget untuk kasih pigment, selama pemakaian higenis bisa awet sampai 2 tahun. Not bad lahh.

Sayangnya, produk ini gak ada alternatifnya. Bahkan katanya sih, makeup artist kelas dunia pasti pake produk ini saking bagusnya.

4. Lucas Papaw Ointment

Kenal Lucas Papaw Ointment saat lagi merantau di Australia. Di sana dijual di mana-mana, udah kayak barang grosiran. Dan kayaknya semua orang punya dan pakai. Berfungsi sebagai lipbalm, dan lain-lain, klaimnya. Harganya juga murah, sekitar C$10 untuk tube 10 ml, sama seperti harga lipbalm.

Awalnya saya pikir ini semacam Vaseline petroleum jelly. Setelah mendalami profil produk ini, ternyata ada fungsi antiseptiknya juga karena terbuat dari ekstrak pepaya. Setelah saya coba, menurut saya produk ini jauh lebih tokcer daripada Vaseline!

Satu produk bisa saya gunakan sebagai pelembab bibir, pelembab tangan, mengeringkan luka, menyembuhkan alergi / gigitan serangga, dan paling top adalah sebagai diaper rash bayi!

Bahkan di Kanada saya pun bela-belain cari produk ini di Amazon walaupun ada bejibun produk di toko dengan klaim serupa.

I just can’t live without this!

5. Burt’s Bees Liptint Balm

Saya suka lipstick, tapi saya gak suka teksturnya yang cenderung bikin kering setelah beberapa jam. Bibir saya termasuk yang gampang banget kering sehingga saya harus selalu pakai pelembab bibir sebelum memakai lipstick. Masalahnya, saya malas harus memakai 2 produk, yaitu lipbalm kemudian lipstick.

Jadi saya pun mulai beralih memakai produk lipbalm yang memberikan warna. Awalnya saya coba merek high end, mulai dari Dior Lip Glow, Fresh Sugar Lip Treatment, namun akhirnya saya mendarat di Burt’s Bees Liptint Balm yang harganya cuma C$5.

Yang paling saya suka dari liptint balm ini adalah, warnanya tidak mencolok sehingga saya bisa aplikasikan kapan saja, bahkan tanpa harus melihat ke cermin!

Sebetulnya masih ada beberapa produk multifungsi yang saya pakai, tapi saya merasa manfaat multifungsinya tidak sesignifikan 5 produk di atas. Ada Stila Convertible Color atau Benefit Benetint yang bisa jadi perona pipi sekaligus pewarna bibir. Tapi saya merasa kedua produk tersebut hanya optimal sebagai perona pipi, sedangkan sebagai pewarna bibir kurang bagus.

Stila Convertible Color
Stila Convertible Color in Lilium

Ada juga produk murah Cetaphil Gentle Skin Cleanser yang bisa dipakai untuk sabun badan dan pembersih wajah. Bagus banget buat kulit sensitif. Walaupun produk ini bagus banget sebagai sabun badan dan membersihkan wajah, namun saya merasa produk ini kurang bisa mengangkat bekas makeup. Mungkin produk ini cocok buat yang kesehariannya gak bermakeup.

Intinya sih, produk makeup dan skincare multifungsi sudah membantu saya “memotong” waktu dan usaha dalam rutinitas di pagi hari maupun malam hari. Selain itu, saya tidak lagi rusuh buka-tutup sebareg produk untuk rezim perawatan tubuh dan bermakeup. Sebagai emak dengan seabreg tanggung jawab, saya gampang lupa dan kalau sudah lupa dengan salah satu rezim, rasanya kesel dan ujung-ujungnya badmood, jadi dengan produk multifungsi, rezim saya lebih singkat dan tidak ada yang terlewat. Yang tak kalah penting juga, counter saya jadi lebih lapang dengan jumlah botol yang lebih sedikit alias decluttering!

Trik Membuat Bubur Ayam Express

Tinggal di perantauan, khususnya di tempat perantauan dengan selera kuliner butut (=buruk) (sorry, Canadians!) plus tidak tersedianya restoran masakan Indonesia sungguh bikin galau. Harus saya akui, menjadi orang Indonesia itu artinya juga menjadi terikat dengan makanannya.

Sejak merantau saya betul-betul belajar untuk menghargai masakan mang-mang pinggir jalan, mulai dari Nasi Goreng, Soto Ayam, everything you name it lah. Jangan pernah meremehkan keberadaan mereka! Ternyata hidup tanpa jajanan mang-mang itu sungguh menyiksa.

Dan celakanya, masakan jajanan pinggir jalan itu susah bin ribet bikinnya. Saya pun harus mencoba masak masakan Indonesia demi survival di negara orang. Satifying your tastebud is to keep your sanity!

Jajanan terfavorit saya adalah Bubur Ayam. Ngebayangin bahan-bahannya sih simple ya, cuma modal beras dan segala topping-nya. Wait, toppings? Justru ini pe-ernya. Menyiapkan segala macam topping ini beban hidup banget: sangat menghabiskan waktu, sementara hanya perlu waktu sekejap untuk menghabiskan semangkuk bubur ayam :(. Rebus ayam, goreng ayam, suwir ayam, goreng cakue, potong-potong cakue, rebus telor, goreng kerupuk, dll dll stress lah bayanginnya. Belum lagi nyiapin kaldu ayam untuk bubur nya. Nyerah boss!

Jadi saya cari cara paling cepat untuk menyiapkan bubur ayam, dan ada caranya! Yaitu dengan memanfaatkan bahan siap jadi dari supermarket. Pertimbangan kesehatan, produk tidak alami? Itu nomor dua. Buat saya yang penting bisa makan bubur ayam tanpa harus tepar 😉

Bahan siap saji yang saya pakai adalah: 1) kaldu ayam cair dalam kotak (mereknya Campbell), bawang putih halus dalam botol, cakue beli Chinatown, bumbu ayam goreng sebagai kuah bubur (merek Bamboe), bahkan untuk ayam kadang saya beli ayam panggang yang sudah jadi di supermarket, kemudian disuwir-suwir.

Jadi saya mau berbagi cara bikin bubur ayam express menggunakan bahan sudah saji dari supermarket.

Waktu persiapan: 20 menit

Waktu memasak: 30 menit

Bahan bubur:

  • 2 cup beras, cuci dan bilas
  • 4 cup kaldu ayam cair dalam kotak (Campbell)
  • 6-10 cup air matang (makin banyak bubur makin encer)
  • 2 sdm minyak sayur
  • 1 sdt bawang putih halus
  • Garam

Toppings:

  • Kecap asin
  • Kecap manis
  • Kuah bubur: bumbu ayam goreng siap pakai (merek Indofood atau Bamboe), siram air mendidih, aduk rata
  • Lada putih
  • Ayam rebus suwir-suwir (bisa juga beli ayam panggang yang sudah jadi dari supermarket tinggal disuwir-suwir)
  • Cakue, potong-potong
  • Bawang daun, iris tipis
  • Telor, rebus 12 menit
  • Kerupuk
  • Sambal

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak dalam panci besar, tumis bawang putih halus sampai harum.
  2. Masukkan beras, tumis sampai beras terasa kering.
  3. Tuang kaldu dan air matang. Aduk sampai beras tidak ada yang menempel di dasar panci. Taburkan garam secukupnya.
  4. Setelah mendidih, kecilkan api. Aduk sesekali.
  5. Setelah beras mengembang dan hancur, dan sudah terlihat seperti bubur, matikan api.

Cara menyajikan: Taruh bubur di atas mangkuk, tabur kuah bubur, kecap asin, kecap manis, dan semua toppings. Sajikan.

Masih terlihat ribet? Ini sudah cara paling cepat, dan butuh waktu sekitar 1 jam untuk memasak bubur.

Ada yang bilang masak bubur pakai nasi (daripada dari beras) lebih cepat dan mudah. Tapi saya belum coba. Saya sudah puas dengan metode yang ini.

Selamat mencoba.

ASLI Batagor Bandung, bikinnya sekejap!

Buat orang Bandung atau orang yang pernah hidup dan besar di Bandung, pasti tau banget bahwa Batagor otentik itu adalah yang diJual pinggir jalan. Batagor Kingsley dan Riri emang top markotop, tapi Batagor yang beneran ngasih pengalaman “orang Bandung” justru Batagor murmer di depan sekolah atau deket pasar, atau di depan kantor, atau di pusat orang lagi lapar dimanapun lah.

Sebagai penghuni dan besar di Bandung selama 20 tahun, saya kangen bukan main sama Batagor pinggir jalan. Dulu bisa tiap hari jajan, tiba-tiba 2 tahun gak merasakan Batagor sedih banget. Saya pun coba DIY, coba mengolah bahan utamanya, ikan tenggiri.

Ribet banget! Buang durinya ribet, ngehalusinnya juga repot, plus bikin bau amis satu dapur. Hasilnya enak sih, tapi habis dalam sekejapnya itu bikin sakit hati. Not worth my time and effort.

Sampai minggu ini, ketika lagi belanja di supermarket favorit, saya mampir ke counter produk olahan ikan, saya lihat ada “anchovy paste”. Google bentar, ini katanya sih terbuat dari anchovy alias ikan teri, biasa buat campuran berbagai makanan, (lengkapnya tentang anchovy paste bisa baca di Wikipedia). Saya pun nekat beli dengan bayangan “mungkin bisa dicampurin ke adonan tepung terus dijadiin batagor.”

Anchovy Paste yang saya dapatkan di supermarket. Anchovy Paste dibungkus dalam tube seperti pasta gigi

Malam itu juga saya langsung coba. Saya buat Batagor dan Siomay. Hasilnya? 100% Batagor Bandung!! Gak pake repot gak pake capek. Masak sekejap, menghabiskannya pun sekejap. Yang gak bisa masak juga dijamin bisa bikin ini saking gampangnya. Saya pikir saya sudah bisa jadi pedagang Batagor!

Siomay Bandung maknyuss

Jadi saya akan bagi di sini resepnya, buat siapapun orang Bandung di perantauan: Jakarta kek, Sumatera kek, Papua kek, atau di luar negeri manapun. Karena percayalah, tiada Batagor yang lebih nikmat daripada Batagor pinggir jalan Bandung, dan percayalah bahwa lidah Bandung saya gak bohong.

Resep Batagor – Siomay Bandung Ekspres

Untuk 2 porsi

Waktu persiapan: 10 menit

Waktu memasak: 10 menit

Bahan-bahan:

  • 2 sdm tepung terigu
  • 3 sdm tepung tapioka
  • 1 batang bawang daun, iris tipis
  • 1 siung bawang putih, cincang halus (atau bisa diganti dengan 1 sdt bubuk bawang putih kalau gak mau ribet)
  • 1 sdt anchovy paste
  • 50 ml air matang
  • 125 gr Firm Tofu, potong segitiga (ukuran sesuai selera)
  • 8 lembar kulit pangsit
  • Minyak untuk menggoreng
  • Bumbu kacang siap pakai
  • Kecap manis

Cara membuat:

  • Campur tepung terigu, tepung tapioka, bawang daun, dan bawang putih. Tambahkan air sambil aduk perlahan hingga adonan padat seperti pasta.
  • Masukkan anchovy paste, aduk rata.
  • Balut tahu dengan adonan, isi kulit pangsit dengan adonan kemudian goreng di minyak panas hingga kecoklatan. Angkat.
  • Sajikan dengan bumbu kacang dan kecap manis.

Membuat Rencana Anggaran Travelling

Tahun baru 2019 ini saya mengambil cuti tahunan, dan mumpung cuti ya jalan-jalan dong. Saya dan keluarga memutuskan untuk liburan ke Quebec City, ibu kota Provinsi Quebec, Kanada, yang jaraknya sekitar 450 km dari Ottawa, ditempuh dalam waktu 4.5 jam via tol (kira-kira naik mobil dari Bandung ke Semarang pake trans Jawa lah yaa)

Nah, saya jadi pengen berbagi cara membuat rencana anggaran travelling (sambil bikin alasan untuk pamer foto-foto liburan lol). Bagi saya, membuat rencana anggaran untuk travelling itu fardhu ain: wajib hukumnya. Karena rencana anggaran menentukan travelling macam apa yang bisa saya lakukan: tempat bisa dikunjungi, makanan yang dicoba, aktivitas yang bisa dilakukan. The whole travelling experience essentially starts with proper budgeting. Uang adalah segalanya gaessss.

Jadi saya akan bagi beberapa langkah dalam merencenakan keuangan travelling.

  • 1. Tetapkan budget travelling, untuk 1 tahun
  • Bagi saya biaya travelling itu masuk dalam kategori pengeluaran non rutin (baca tentang kategori pengeluaran: Formula Dasar Mengelola Keuangan Rumah Tangga). Saat paling pas menentukan rencana anggaran travelling tak lain dan tak bukan adalah ya awal tahun seperti ini. Berapa kali rencana melakukan travelling dalam setahun? Berapa uang dialokasikan untuk travelling dalam setahun? Ke mana saja tujuan travelling?

    Saya ilustrasikan di sini. Misalkan saya punya rencana anggaran pengeluaran non rutin selama setahun adalah Rp. 100 juta. Nah dari jumlah ini, berapa banyak yang akan dipakai untuk travelling? Mau seluruhnya juga bisa (so lupakan belanja baju, sepatu, hape baru, dan pengeluaran non rutin lainnya). Kalau pengalaman saya sih, travelling mengambil 25% dari total pengeluaran non-rutin saya. Jadi kalau saya punya anggaran non-rutin Rp. 100 juta, saya akan alokasikan Rp. 25 juta untuk dipakai travelling.

    Rp. 25 juta bisa dipakai untuk travelling berapa kali, dan ke mana saja? Domestik? Internasional? Nah bisa ini ditentukan tergantung besaran tiap komponen pengeluaran travelling yang akan saya jelaskan di poin nomor 2.

    2. Tetapkan komponen pengeluaran travelling

    Saat membuat rencana anggaran travelling, tetapkan pengeluaran per komponen untuk mengetahui berapa anggaran yang dibutuhkan.

    • Transport

    Semua biaya transport harus dihitung. In my case ke Quebec City, saya naik mobil, jadi biaya yang dikeluarkan adalah bensin, biaya cuci mobil, oli, dan perlengkapan untuk menangkal keganasan salju Kanada.

    Komponen transportasi ini harus dihitung semua, misal kalau naik pesawat, ingat bahwa tiket pesawat bukan satu-satunya biaya transportasi: ada ongkos taksi ke bandara, extra luggage, transport domestik (taksi, Uber, Grab, sewa mobil beserta bensin dan asuransi). Jadi jangan dipikir dapet tiket murah meriah, biaya transportasinya segitu doang. No way.

    • Penginapan
    Fairmont Le Château Frontenac
    Fairmont Le Château Frontenac, hotel yang merupakan situs bersejarah di Kanada, harga menginapnya juga fantastis (saya gak nginep di sini btw)

    Biaya penginapan ini cukup straightforward. Penginapan ya bisa hotel, air bnb, pun kalaupun nebeng siapkan biaya terima kasih seperti traktir makan, bantuin bebersih, atau bayar ekstra listrik / air.

    • Makan
    Poutine at Le Chic Shack, Quebec City
    Menu favorit ala Québécois adalah Poutine, yaitu kentang goreng disiram saus gravy dan cheese curd (Le Chic Shack, Quebec)

    Perjalanan saya ke Quebec City kali ini adalah 4 hari 3 malam, maka saya langsung tetapkan 4 hari x 3 kali makan x biaya sekali makan $(n) = 12 kali makan x $(n). Saya alokasikan jumlah makan maksimal (terlepas nyatanya hari pertama saya berangkat dari setelah makan siang sehingga sebetulnya di hari pertama saya makan di perjalanan hanya sekali yaitu makan malam). Ini saya lakukan untuk memberikan anggaran “ekstra” untuk jajan.

    • Miscellaneous
    Hôtel de Glace, Quebec
    Hotel pop-up saat musim dingin, untuk berkunjung dikenai biaya mulai dari C$20 (Hôtel de Glace, Quebec)

    Komponen biaya miscellaneous ini macem-macem. Ada belanja oleh-oleh, admission ticket ke museum, wahana, dll. Walaupun ini masuk dalam kategori lain-lain, ini penting banget jangan sampai tidak dianggarkan karena seringkali memakan biaya yang cukup tinggi.

    3. Tambahkan 10% ekstra

    Quartier Petit Champlain
    Quartier Petit Champlain, tempat belanja dengan vibe walking street ala Eropa

    Setelah menentukan anggaran tiap komponen travelling, jumlahkan dan tambahkan biaya 10% dari jumlah total anggaran tersebut. Ini penting banget untuk mengantisipasi kalau ada komponen yang “lupa” dimasukkan ke dalam anggaran. Walaupun udah bikin perencanaan sematangnya, kita juga harus merencanakan untuk lupa, coz we’re all just human, right?

    Setelah semua komponen untuk semua rencana travelling dalam setahun dijumlahkan dan ditambah ekstra 10%, berapa totalnya? Apakah melebihi anggaran yang sudah ditetapkan sesuai poin 1 di atas? Kalau sesuai, good job! Kalau jebol, artinya harus dikurangi sampai mencukupi. Kenapa? Karena…

    4. Jangan pernah ngutang untuk travelling!

    Travelling itu menyenangkan, refreshing katanya. Bisa membuat pikiran terbuka, dan in return meningkatkan produktivitas. Tapi apa gunanya travelling kalau kamu bokek, bahkan terlilit hutang. Ingat gaes, hutang itu membuat hati tidak tenang, tidur tidak nyenyak. Yang ada travelling malah menjadi beban hidup.

    Dan yang terpenting, ingat bahwa travelling adalah kebutuhan non rutin. Masih ada banyak hal yang penting untuk kamu penuhi dengan uang sebelum bisa travelling, seperti paying your monthly bills atau bahkan menjaga kesehatan dengan makan 3 kali sehari. Taking care of your body is way more important than merely pleasing instagram story.

    5. Habiskan budgetnya

    Kalau sudah punya rencana anggaran yang sesuai dengan alokasi pengeluaran sesuai poin 1, pastikan uang tersebut dihabiskan untuk travelling!

    Menghabiskan anggaran travelling itu penting banget supaya kamu bisa menikmati travelling itu sendiri. Jadi saat menjalaninya gak itung-itungan, karena semua proses hitung-menghitung sudah dilakukan sebelum berangkat. Nikmati semua uang yang sudah kamu anggarkan.

    Semoga tulisan OOT dari pengalaman liburan ini bisa kasih inspirasi dalam merencanakan travelling yang lebih memuaskan. Puas karena bisa pegang kendali antara kebutuhan mengunjungi tempat-tempat yang menyenangkan dengan kemampuan finansial aka duit.

    Semoga terhibur dengan foto-foto hasil jepretan saya selama jalan-jalan di Quebec City.

    Selamat merencanakan liburan!